Posisi duduk Erik merosot di kursinya. Jantungnya seakan jatuh hingga ke ujung kaki. Matanya mengerjap berulang kali membaca nama lengkap orang yang ia hafal betul, juga alamat usaha yang tertera di salinan akta. "Rik!" Danisa menyenggol kaki Erik, sukses membuatnya gelagapan. "Ini hanya salinan dokumen, Bu, Pak. Kami tidak diberi kuasa apapun terhadap properti tersebut, juga tidak ada wasiat yang kami catatkan untuk disahkan secara hukum. Jadi kami hanya bisa bantu sampai di sini saja." Ucapan Bu Wayan Ginanti seolah isyarat agar tamunya sudah bisa meninggalkan kantor mereka. Toh tidak ada lagi yang bisa mereka lakukan. "Boleh saya bawa salinan ini, Bu?" Salinan dokumen itu sebagai bukti kuat atas apa yang menjadi firasatnya selama ini benar adanya. Ia tidak salah mengartikan pesan y

