Masih di hari yang sama, tiba saja Hamis pulang dari kantor saat jam makan siang ke rumah. Namun, lelaki tua itu tidak pulang sendiri melainkan bersama seorang gadis muda dari negeri seberang, Syarifah.
“Assalamualaikum !” salam Hamis begitu masuk rumah. Di ruang keluarga berkumpul semua anak-anak nya dan juga istri nya disana.
“Waalaikum salam.” Jawab mereka serempak. Senyuman Kayana semakin lebar saat menyambut suami nya datang setelah melihat Syarifah mengekor dari belakang.
“Hai sayang !” sapa Kayana sumringah lalu memberikan gadis itu pelukan hangat. Rahmat dan Akabr yang melihat gadis manis yang pernah di jodohkan dengan Ikram itu pun ikut menyambut Syarifah.
“Kak Ipah semakin cantik aja nih.” Puji Akbar setelah menyalim tangan Syarifah. Akbar jelas menyukai sosok Syarifah yang anggun itu. Wajah oriental, selalu memakai kerudung dan juga punya senyuman menawan jelas membuat siapapun melihatnya akan tertarik.
Akbar menyukai Syarifah hanya sebagai calon ipar nya, bukan yang lain.
“Mana ada, biasa aja kok.” Sahut Syarifah dengan logat Melayu kentalnya. Saat tersenyum, matanya menyipit bagaikan bulat sabit.
Ikram langsung keluar dari rumah saat tahu bahwa Ia adalah orang terkahir yang harus menyambut gadis itu saat ini. Ikram jelas menghindari sesi ramah tamah dengan tamu spesial keluarga nya yang itu. Dari dulu, ada saja hal yang membuat Ikram tidak menyukai gadis itu.
“Am !” panggil Hamis dengan tegas pada anak lelaki nya itu, tingkah nya begitu tidak sopan. “Ada tamu ini, mau kemana kamu ?!”. Ada tamu malah pergi begitu saja tanpa basa-basi. Hamis menegur habis aksi Ikram itu, tapi lelaki 34 tahun itu tidak menggubris sedikit pun.
“Eh nggak apa-apa lah, Uncle !”
“Syarifah, I am so sorry about Ikram.” Sesal Kayana. Ia mencoba mengerti perasaan Ikram yang jelas-jelas menolak Syarifah, namun Kayana terlanjur menyukai Syarifah walau bahkan nanti tidak jadi istri dari anaknya itu, Ikram.
“It’s okay. Eum, Syarifah kejab saja di sini, ada job lah sikit di Tanggerang.”
“Baru juga sampai nak ! Makan dulu yah, Mbak Wati udah siap masak kok itu.”
“Eh nggak apa-apa, Aunty !”
“Jom lah, Kak Ipah. Masa sekali-kali datang malah nggak mau makan disini.” Bujuk Akbar juga. Rahmat hanya berdiri menyaksikan bagaimana akhir nya.
Syarifah mengangguk malu tak lama kemudian, Ia juga menaruh kopernya di kamar tamu. Kayana meminta gadis berkerudung merah jambu itu untuk menginap sekalian dirumahnya.
Rahmat langsung ngancir ke rumah sebelah untuk melapor kejadian ini kepada sang tetua disana, Ia yakin kalau kakak nya ada di rumah Cindy.
[****]
“Mah Dewi !” panggil Ikram dengan nada pelan saat baru sampai di kediaman tetangga sebelah rumahnya. Ia langsung nyelonong masuk saat tahu pintu samping tidak ke kunci.
“ Nah loh !” kejut Dewi saat tahu Ikram mampir siang-siang ke rumahnya. “Nggak kerja tumben.”
“Lagi mager.”
“Ck, yaudah sini bantuin mamah masak. Itu Cindy malas banget, heran aku ! Di suruh bantuin mamah nya masak sebentar, nggak mau dia.” Ujar Dewi dengan nada kesal.
Ikram mengambil alih satu pisau disana lalu berangsur memotong wortel yang sudah di kupas Dewi.
“Mami mana, Am ?”
“Dirumah tuh, ada tamu.”
“Siapa siang-siang gini ?”
“Syarifah, anak teman papi itu.”
“Aaah, Calon istri kamu yang datang kok malah disini.”
"Cewek yang gimana lagi sih kamu mau nya ? Syarifah nggak mau, Cindy juga nggak mau, noh dulu-dulu ada Erna anak Pak Sulaiman komplek sebelah juga nggak mau, pacar juga nggak punya." Omel Dewi pada Ikram mengebu-ngebu, gemas sekali dengan anak sulung tetangga nya itu, sudah tua masih saja nakal dan keras kepala, nggak mau – mau kalau disuruh menikah.
"Nanti lah Mah, kalau jodoh nya udah ketemu." Sahut Ikram pelan, Ia melanjutkan memotong kol untuk dibuat tumisan.
"Mamih kamu selalu khawatir, kamu nya nggak nikah-nikah. Minimal punya pacar lah."
"Bukan gitu loh mah, aku tuh kan sebenarnya banyak yang dekatin, Cuma nggak kecantol aja."
"Lah gaya mu !" Cibir Dewi. "Padahal mamah kemarin udah senang loh pas tau Cindy calon istri kamu."
"Yakan mah, nikah mah gampang, Cuma kan Am juga mikir, bisa nggak bahagiain Cindy sebagai istri nya Am." Papar Ikram. "Dasar nya, Cindy udah kayak adik sendiri, eh tiba-tiba udah jadi bini, kan geli-geli gimana gitu mah."
"Ya pacaran dulu lah sana."
"Itu mah mau nya mamah sama mamih sih."
"Lah kamu nggak mau ?"
"Kan Ikram nggak cinta sama Cindy, mah."
"Ckkk, dasar payah kamu." Cibir Dewi lagi. Ikram tak lagi menanggapi omongan Dewi yang menyebalkan.
Memang dalam urusan percintaan, Ikram selalu menjadi orang yang payah.
"Loong !" teriak Rahmat heboh dari ruang tengah, suara langkah nya mendekat kearah dapur tak begitu lama. Senyum Rahmat terkesan sangat jahil saat Ia menarik sebelah bibir nya.
"Ada berita nih," ujarnya songong, "Syarifah bakal nginap dirumah."
"A-APA ?"
"Hahaha, serius." Jawab Rahmat sambil terkekeh sennag melihat ekpresi tak percaya dari kakak lelaki nya. "Mami yang minta. Udah, tamat lo !" Ledeknya.
"Gue nggak habis pikir sama mami." Ujar Ikram pelan. Anak gadis orang di suruh menginap di tempat dimana ada 3 orang lelaki lajang disana. Kalau terjadi apa-apa gimana tuh.
"Kenapa nih rame-rame ?" Cindy sampai kedapur dengan masih memakai baby doll pendeknya, rambutnya sedikit acak-acakan.
"Nih, bawa Along jalan-jalan, stress dia dirumah. Calon bini nya datang dari negeri seberang." Jelas Rahmat panjang lebar. Ikram mendelik lebar saat kata 'calon bini' keluar dari mulut Rahmat. Amit-amit dah.
"Kak Syarifah ?" tanya Cindy tenang. "Yaudah, yuk. Cindy lagi cuti nih."
Lupakan kata 'OGAH' yang tadi pagi terselip dimulut Cindy, kini Ia sedang memperjuangkan liburan nya dan cutinya yang tidak berkahir sia- sia saja. Semua nya mendukung, Cindy butuh hiburan, Ikram butuh pelarian.
"Lah apa ?" bingung Ikram.
"Liburan bang, yok. Nggak usah jauh, Singapura ja dah."
"Yaudah ayo."
Dari pada mendekam di Jakarta selama ada Syarifah, mending juga jalan-jalan.tidak masalah yang menjadi teman jalan nya kali ini bocah 23 tahun itu, yang penting nggak sendirian.
[****]
Sorenya, Ikram baru balik kerumah. Terserah deh nanti kalau ketemu dengan Syarifah.
"Ikram kesini dulu !" titah Kayana dengan suara tengas saat baru saja Ikram mulai menaiki tangga menuju lantai atas.
"Iya, mih !"
"Ikram memang gitu tata karma nya, iya ?" tanya Kayana dengan nada dingin dan wajah datar. Tak perlu dijelaskan lagi, Ikram sudah tahu arah pembicaraan nya kemana ini, pasti masalah tadi siang saat Ia melancong begitu saja saat ada Syarifah.
"Apa sih mih ?"
"Ngeyel kamu ? Mami udah tua, seharus nya mami nggak marah-marah sama kamu hal sepele gini ya."
"Maaf mi, nggak bakal diulangi lagi."
"Maaf kamu nggak ada arti nya. Mami malu tahu sama Syarifah." Suara Kayana mulai sedikit melunak. "Dia datang kesini itu selalu dengan niat yang baik, mau taaruf sama kamu di sela-sela dia kerja di Jakarta, tapi kamu malah ngelongos gitu aja."
"Mih, seharusnya dia yang harus sadar, Am udah nolak dia jelas-jelas."
"Kamu nolak dia, kenapa ? Kasih satu alasan kuat kamu nolak dia kenapa. Bilang sama Mami biar nanti nggak ada lagi percekcokan dengan cerita yang sama kayak gini." Pinta Kayana dengan raut wajah yang tak lagi bersahabat.
"Am nggak mau aja pokoknya."
"Nggak tahu lah Am, mami udah putus asa sama kamu." Kayana pergi begitu saja dengan suara lemah dan masuk ke kamar nya meninggalkan Ikram disana sendiri.
Penyesalan datang ke lubuk hatinya, karena telah membuat ibunya bersedih dengan keadaan nya tapi Ia juga tidak bisa memaksakan kehendak dengan menikahi Syarifah yang tidak Ia sukai sama sekali.
"Am, Sorry. Ini semua pasti salah saya kan ?" tiba saja suara Syarifah menyadarkan Ikram dari aksi penyesalan nya, Ia mendongkak kan kepala nya dan menatap Syarifah tajam.
"Semua ini memang salah kamu." Sembur Ikram dengan wajah mengetat marah, sekarang sudah taka da lagi alasan yang bisa membuatnya berubah pikiran untuk menerima perjodohan dengan gadis itu. Syarifah bahkan mampu membuat ibu nya marah pada nya, s**t.