*** Axel menjauhkan tubuhnya dari diriku saat matahari menajamkan sinarnya ke arah kami. Sedikit canggung, aku dan Axel sama-sama membuang muka. Aku tidak tahu apa yang Axel rasakan, tetapi yang kurasakan adalah kegugupan yang sulit untuk dijelaskan. Jantungku saja berkali-kali lebih berdebar dari biasanya. “Fe,” panggil Axel saat aku masih berusaha untuk menenangkan debaran ini. Mau tak mau aku menyahutinya dan menolehkan kepala. “Iya?” tanyaku atas panggilannya. “Ke mana kita setelah ini?” Oh Axel ingin menanyakan ke mana tujuan kami rupanya. Aku melirik jam yang melingkari pergelangan tanganku. “Kita trekking ke atas bukit, Xel. Kamu nggak akan nyesal naik ke sana karena pemandangan indah yang akan kamu lihat nanti,” jawabku berbinar-binar. Gugup yang tadi aku rasakan entah hi

