“Paman, ayo. Kita lanjutkan makannya” ucap Glowry yang sudah berada di depan Dreyhan kembali. Ia menatap seluruh pengunjung restoran “Maafkan kekacauan tadi, aku akan membayar untuk kerugian tadi dan semua yang ada disini aku yang akan membayar untuk makanan tadi” ucap Glowry sambil menyatukan kedua telapak tangan di depan d**a.
Setelah mengatakan hal itu, Glowry segera kembali ke meja makan dan melahap es krim dalam mangkuk yang mulai mencair.
Seruan Glowry menyadarkan Dreyhan dari keterpakuan. Ia berbalik dan duduk kembali bersama Glowry.
“Nak, anak kecil tidak boleh menggunakan senjata api” tutur Dreyhan.
Glowry menghentikan aktifitasnya menyendok es krim lalu mendongak menatap pria dewasa di hadapannya tapi hanya sebentar, setelahnya menunduk kembali.
“Kedua orang tuanku jarang di rumah paman, aku juga tidak memiliki saudara yang bisa menjagaku,” jelas Glowry pelan.
“Alangkah baiknya jika tidak menggunakan nak,masih ada pengawal yang selalu menjagamu,” ucap Dreyhan menasehati.
“Terimakasih paman, semua yang paman ucapkan akan Glowry pikirkan,” jawab Glowry dengan senyum manis.
Tangan Dreyhan terulur mengusap puncak kepala Glowry. Dreyhan bukanlah jenis orang yang akan akrab dengan semua orang atau anak kecil, tapi melihat wajah Glowry seperti tidak asing. Cara makan yang lahap dan senyum manisnya membuat hati Dreyhan ingin terus menatap.
“Paman, aku sudah selesai makan. Maaf, aku tidak bisa duduk lebih lama dengan paman. Suatu saat jika kita bertemu lagi, aku akan menemani paman main catur atau Golf,” ucap Glowry pada Dreyhan.
“Baiklah. Paman akan menagihnya jika Tuhan mempertemukan kita lagi,” jawab Dreyhan sambil melipat tangan di atas meja.
Sebelum benar-benar pergi Glowry melambaikan tangan kepada Dreyhan dan dibalas. Glowry melangkah keluar restoran itu. Sebenarnya ia masih ingin duduk dan berbincang dengan paman itu, tapi ia tidak mau jika pengawal papi akan menyerbu tempat itu karena mencari dirinya untuk memastikan keadaannya.
Di dalam mobil Glowry terus memikirkan pertemuanya dengan Dreyhan. Pertama kali ia duduk dan mengobrol dengan orang lain. Ia merasa nyaman dan tenang. Ia menggelengkan kepala pelan untuk mengenyahkan semua. Ini hanya kebetulan saja, dan ia tidak mau mengenal siapapun. Ya, seperti yang selalu sang Papi katakan padanya, ‘orang yang terlihat baik di depan belum tentu baik dalam hatinya’ pesan sang papi selalu ia sematkan dalam otak. Tak lama mobil yang ia tumpangi telah sampai di pelataran Mansion. Ia segera turun dan berjalan cepat menuju kamar pribadinya. Sebelum masuk kamar, ia menemui asisten rumah tangga yang berada tidak jauh dari kamar miliknya,
“Jangan ada yang menggangguku, bila waktu makan tiba, antarkan ke kamar saja. Em- aku ingin belajar” ucap Glowry dan diangguki 4 asisten yang sedang membersihkan perabotan.
Glowry segera masuk ke kamar dan berlari kecil agar lebih cepat sampai di ranjang. Ia menarik buku yang sempat terhenti lantaran perut yang meronta ingin diisi. Sebelumnya ia tidak begitu tertarik dengan buku cerita yang tebal, baginya mempelajari ilmu membuat otaknya seperti rontok. Tapi buku yang ia temukan di ruang kerja sang Mommy membuatnya tertarik dan ingin menyelesaikan sebelum sang Mommy pulang. Ia mulai membuka kembali dan melanjutkan cerita yang sempat tertunda,
Chapter 2
Dua gadis duduk di sofa ruang tamu dengan menundukkan kepala, keduanya saling terdiam tanpa sepatah kata apapun. Mendongak saja mereka tidak mampu. Satu-satunya yang dilakukan ialah memilin jarinya masing-masing.
Di seberang sofa sudah ada pria tampan yang menatap kedua gadis remaja itu dengan tajam. Menanti jawaban dan pembelaan diri, seperti biasanya yang ia dengar ketika dua gadis itu melakukan sesuatu yang ia larang.
“Siapa yang mengijinkan kalian masuk ke tempat itu?” seru pria yang duduk di sofa menghadap dua gadis remaja.
“Maaf kak, kita hanya penasaran saja,” jawab salah satunya.
“Nancy. Dan kau Elvrince,kalia tidak seharusnya masuk dan ikut serta balapan di tempat itu. Tempat itu sangat berbahaya. Jika terjadi sesuatu pada kalian, aku yang dimutilasi oleh dua pria dewasa itu,” ucap pria itu lantang.
“Tapi kita baik-baik saja kak Neilh, Kita juga menang dan mendapatkan mobil mewah” seru salah satu gadis bernama Elvrince.
“El! Jika kau menginginkan mobil, kita bisa membeli. Mudah kan, tidak perlu kalian bertaruh nyawa hanya sebuah mobil yang tak cukup mahal” tutur pria tampan lagi. Ia adalah Neilh. Putra pertama dari keluarga Agatha yang tak lain kakak Nancy.
“Mobil itu mahal kak!” teriak kedua gadis serempak.
Mereka tidak terima jika Neilh mengatakan mobil murah. Pasalnya, mobil yang mereka menangkan adalah mobil sport keluaran tahun lalu.
“Ya ya ya.... terserah! Aku hanya tidak ingin my twin celaka hanya karena hadiah kecil. Sekali lagi, aku mendengar kalian balapan- akan ku nonaktifkan semua kartu Atm kalian. Ingat baik-baik,” Neilh menekankan kata-katanya.
“Tidak bisa begitu,” bantah keduanya.
“Aku tidak mau mendengar bantahan dari kalian. Naik ke atas! Dan tidur!” ucap Neilh lantang.
Nancy dan Elvrince beranjak dari tempat duduknya lalu melangkah untuk menuju lantai atas dengan menghentakkan kaki di lantai. Tapi baru beberapa langkah, Elvrince berbalik ke arah Neilh lalu memeluk leher Neilh dan mencium kedua pipi Neilh secara bergantian,
“Aku marah padamu, tapi aku menyayangimu kakak kudanil” bisik Elvrince di samping telinga sebelum melepas pelukan dan ia segera berlari menyusul Nancy ke lantai atas.
“That’s my twin” gumam Neilh sambil menggelengkan kepala.
“Huahahahaha” suara tawa yang menggelegar dari arah sofa yang tak jauh dari tempat duduk Neilh. Neilh memutar kepala ke arah asal suara tawa,
“Apa yang lucu?” tanya Neilh heran sambil menaikkan sebelah alis.
“Kudanil. Astaga...hanya dia yang berani mengataimu dan kau tidak marah,” ungkap Migael sambil terkikik geli.
Puukk
Neilh melempar bantal kecil yang berada di sebelahnya pada Migael. Meskipun benar yang dikatakan Migael tapi bukan berarti dia seenaknya menertawakan dirinya. Beginilah dirinya bila berada dilingkungan rumah, jiwa penguasa dan kekejaman dirinya akan luntur dan berubah seperti karet. Berbanding terbalik saat ia berada di luar yang akan bertindak apapun terhadap orang lain.
“Diam kau!” desis Neilh pada Migael. Bukan diam,Migael malah tertawa keras.
Kesal mendengar Migael yang belum juga berhenti menertawakannya, Neilh berdiri dari tempat duduknya dan menarik kerah Migael lalu menyeretnya keluar dari rumah. Mau tidak mau Migael mengikuti langkah Neilh dengan kaki yang terseok karena tarikan yang tiba-tiba.
“Hey! Lepaskan!” teriak Migael.
“Kau juga salah. Jika kau tidak menunjukkan Dragon Light, mereka tidak akan tahu dan datang kesana. Jantungku serasa lepas dari tempat saat salah satu pengawal mengabariku,” marah Neilh di sela langkah menyeret Migael.
“Kenapa kau menyalahkanku! Kau yang ceroboh menaruh petunjuk itu!” teriak Migael tidak terima disalahkan begitu saja.
“Diam kau!” desis Neilh sambil melempar tubuh Migael ke dalam mobil.
“Dasar! Kudanil gila!” maki Migael.
Dari lantai atas, lebih tepatnya balkon kamar. Nancy dan Elvrince berdiri melihat ke bawah sambil tersenyum karena pertengkaran sang kakak dengan sahabatnya.
“El, dari mana kau mendapat kata itu?” tanya Nancy sambil tersenyum melihat ke arah mobil sang kakak yang mulai bergerak meninggalkan Mansion.
“Ini,” jawab Elvrince sambil menunjukkan gambar binatang yang baru saja ia google.
“Huahahahaha” tawa keduanya pecah. Nancy tidak menyangka jika sahabatnya menemukan binatang itu. Ia sendiri tidak tahu jika di dunia ini ada binatang seperti itu. Ia hanya tahu beberapa hewan yang ia pernah lihat di sekitar lingkungan saja.
“Baiklah. Ayo kita tidur. Besok kita ada latihan bela diri. Agride mengirimkan pesan padaku agar kita jangan sampai terlambat seperti biasanya” seru Elvrince saat mereka sudah tenang.
“Kita akan terlambat seperti biasa besok, hahahahaha” jawab Nancy dan disusul tawa.
“5 jam tidak cukup untuk kita tidur. Aku akan menyuruhnya datang kemari saja” timpal Elvrince dan mereka tertawa kembali.
Bagi mereka tidak akan ada yang mustahil dengan apapun yang mereka inginkan. Semua akan mudah dan tersedia, ditambah pelatih bela diri mereka adalah sahabat Neilh sendiri yang diam-diam menggilai Elvrince.