Jam menunjukkan pukul 2 pagi, di jam segini sebagian besar manusia tidur terlelap. Sayangnya, tidak untuk pria satu ini. Di malam yang dingin, ia termenung di balkon kamar dengan secangkir kopi hitam. Dia adalah Aarav Kedrick. Tatapannya lurus ke depan, memandang gelapnya malam. Malam kali ini terasa lebih sunyi dan sepi. Akan tetapi hidupnya jauh lebih dari itu. Meskipun berada di tengah keramaian ia tetap merasakan sepi. Tak ada orang yang bisa memahami dirinya selain ia sendiri. Banyak yang ia sesalkan tapi ia tidak bisa mengungkapkannya. Orang lain mungkin terlihat baik-baik saja di depannya. Itu mungkin karena menjaga hatinya. Sejujurnya ia tahu, orang-orang di sekitarnya sedang tidak baik-baik saja dan itu karena kesalahannya sendiri. Tidak ada yang bisa disalahkan, selain dirinya

