Delapan

1343 Words

Fredo duduk di samping ranjang Fellice seraya menggenggam erat tangan istrinya. Dipandanginya sang istri dengan tatapan sendu. Takdir Tuhan begitu menyayat hati. Sebagian dari dirinya telah hancur. Fredo merasa bisa tumbang kapan saja. Namun, kondisi Fellice lebih penting baginya dibanding ia sendiri. Fellice butuh dirinya, jika sama-sama tumbang kehidupannya akan lebih hancur lagi. Tidak ada yang saling menguatkan karena keegoisan masing-masing. Fredo berjingkat kaget ketika secara tiba-tiba pintu ruang rawat Fellice dibuka secara paksa, menimbulkan bunyi yang cukup keras. "Apa kau tidak bisa membuka pintu secara perlahan, Nyonya Eva?" wajah Fredo memerah, menahan kesal "Apa kau tidak tau jika ini rumah sakit?" "Maafkan aku Fred." Eva melangkah lebih dalam memasuki ruang rawat Fellice,

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD