Benda pipih di genggaman tangannya berpendar beberapa kali. Yoshi yang menghubungi. Namun dibiarkannya meski di telepon berulang kali. Bunyi klakson membuat Anastasya langsung berdiri. Dia sampai hafal suara klakson dari taksi yang setia mengantarnya ke manapun hendak pergi. "Maaf, Mbak. Kelamaan nunggu, ya. Tadi saya masih nganterin penumpang ke Wonokromo," kata sopir taksi setelah Anastasya duduk di belakangnya. "Nggak apa-apa, Pak. Habis ini langsung ke Celi ya, Pak." "Siap," jawab lelaki tua itu dengan takzim. Taksi meluncur ke arah Celi Culinary Education. Tempat yang sudah sangat dihafal si bapak. "Mbak Nastasya, boleh saya bertanya." "Boleh saja. Tanya apa, Pak?" "Pria yang bersama Mbak Nastasya tadi apa suaminya, Mbak?" Lelaki itu sangat berhati-hati saat bicara. "Iya, Pak

