Bu Mega tersenyum samar. "Kalau aku istri yang baik, yang peduli, tentu Papa nggak akan mencari kenyamanan pada wanita lain. Aku terlalu sibuk mengurus apa yang seharusnya Papa kerjakan. Harusnya aku biarkan saja. Namun aku telah melampaui batas otoritasku sebagai istri dan ibu." Perkataan Bu Mega merendahkan dirinya, sekaligus mengingatkan sang suami, biar ingat lagi apa yang telah dilakukan istrinya dulu. "Kadang aku membujuk diri untuk bisa berdamai. Namun sepuluh tahun ini sebenarnya aku sudah sangat tersiksa. Aku belum tentu bisa baikin istrimu yang lain, Pa. Daripada aku nambah-nambah dosa, biar aku yang mundur. Nggak apa-apa, aku udah siap dan ikhlas. Pasti dia perempuan baik-baik yang akan mengurus papa dengan baik juga. Jauh lebih baik daripada aku." Bu Mega tidak menceritakan pe

