Pindah Agama

1037 Words
Hari berikutnya yang sudah di janjikan aku dengan Albert. Aku harus jujur atas statusku. Di sebuah kafe tempat biasa kami makan siang, kami bertemu. Sepertinya Albert datang lebih dulu. Wajahnya tampak 'sumringah' membuatku takut berkata jujur, "Ah Albert.Kenapa kau manis sekali" bathinku. "Sayaang, ada kabar baik." ucap Albert Antusias. "Apa?" tanyaku. "Kemarin waktu menjelang ashar, aku resmi bersahadat, kini aku seorang muslim. Aku punya Ustadz pribadi sudah satu bulan ini, Hhmm... Sebenarnya dia temanku, seorang dosen." terangnya. "Benarkah?" tanyaku. Albert hanya mengangguk. "Tapi aku masih menyembunyikan dari orang tuaku," katanya datar, raut sedih menyelimuti wajah manisnya. Aku tersenyum kepadanya, seakan memberi kekuatan. "Oh iya. Dalam islam, pacaran itu di larang. Secepatnya aku akan melamar kamu." katanya, melempar senyum. "Hmm... Tapi... " aku bingung harus mulai darimana. "Kamu kenapa? Kamu tidak suka aku lamar?. Kenapa kamu seperti cemas begitu?" tanya Albert. "Ah bukan begitu." jawabku, cepat. "Yaa sudah mau apalagi?. Secepatnya aku akan melamarmu." ungkapnya lagi, ah aku jadi tidak bisa berkata apa-apa. Bagaimanapun juga aku sudah menjadi istri orang. Dan sebentar lagi akan di adakan resepsi pernikahan. Flashback on Pukul 10.00 wib. Orang tua Rizky beserta kakak-kakaknya datang ke rumah, keluarganya memang sangat baik sejak dulu. Ayahku dan Ayah Rizky seperti saudara, sebab mereka tumbuh besar bersama sebelum akhirnya Ayah Rizky pindah. Bunda Nina, beliau sangat menyayangiku. Bunda memelukku, membuatku merasakan kasih sayang Bunda yang telah lama tiada kini aku seakan merasakan lagi. Bunda Nina memberikan aku gelang, gelang tersebut turun temurun untuk menantu perempuan beliau. Gelang giok warna hijau. Pertemuan ini begitu sangat berkesan, sebab keluarganya membawa seserahan yang memang belum di bawa saat akad nikah kemarin. Cincin pernikahan telah melingkar di jari manisku. Tinggal menunggu resepsi pernikahan yang akan di gelar sebulan lagi di rumah ini. Kakak ipar sangat baik, beliau sudah menyiapkan busana pernikahanku, sebab kakak seorang desainer busana. Dan kata kakak ipar, busana itu khusus di buat untuk resepsi pernikahanku dengan Rizky. Karena memang sesungguhnya kami sudah di jodohkan sejak dulu. Jadi semua sudah di siapkan jauh-jauh hari. Entah mengapa, ketika aku melihat Bunda Nina, Bunda sangat mirip dengan Bunda kandungku, lembut dan menawan, walau usia sudah tidak muda lagi. Namun raut mukanya nampak cantik dan berseri. Ayah Erlang juga nampak segar, bisa di lihat dari keharmonisan keluarga mereka. Kasih sayang yang terjaga. Sebulan lagi akan ada resepsi pernikahanku. Resepsi di adakan di rumah, tidak di gedung ataupun hotel. Karena itu atas permintaanku. Untuk hidangan dan undangan juga sudah di persiapkan keluarga Rizky. Aku dan Ayah hanya terima beres. Bunda Nina memintaku untuk tidak banyak aktivitas di luar sampai menjelang resepsi. Aku hanya menuruti saja. Aku tidak tahu, bagaimana perasaanku kepada Rizky, satu hati aku sangat menyayangi Albert, sisi hati lagi aku kini telah jadi status istri orang. Flashback selesai "Sayang, mana surat lamaran magangnya?" tanya Albert. "Hhmm.. Eh.. Aku tidak bisa." jawabku, sedikit terkejut, karena Albert menggenggam tanganku, tiba-tiba.. "Looh kenapa?" tanya Albert. "Aku langsung mau daftar S2." jawabku. "Tapi kan, 6 bulan harus punya surat keterangan magang praktek kedokteran di rumah sakit," protes Albert. "Iya juga, yaa aku pikir-pikir lagilah." kataku, sedikit tergagap. "Kok githu? Kemarin bilangnya mau, sekarang kok tidak? ada apa denganmu?" Albert seakan tidak percaya denganku. Aku tersenyum, mencoba menyembunyikan kegundahanku. "Nanti aku ketemu teman-temanku dulu, bagaimana dengan mereka," jawabku, memberi alasan. "Baiklah. Terserah maumu saja." jawab Albert. Ia nampak tidak bersemangat. Lagi pula , jika aku magang di rumah sakitnya, maka orang tuanya akan tahu, dan kemungkinan akan terus menentang hubungan kami, ah kenapa sulit sekali untuk mengambil keputusan. *** Sore itu aku sudah sampai di rumah, Suamiku sudah pulang terlebih dahulu. Dia tahu jika aku baru bertemu Albert. Dia menunggu kepastian dariku. Tentang masalah hubungan aku dengan Albert. "Aku belum bisa jujur." sesalku "Kenapa?" tanya suamiku "Aku sangat menyayanginya, dan dia sudah menjadi muallaf sekarang," jawabku, menundukan kepala. Membuat raut muka Rizky berubah kecewa. "Lalu, apakah kamu mau meninggalkan aku?" tanya suamiku. Spontan mataku memandang Rizky. Pandangan kami bertemu. "Ah aku bingung, bagaimanapun juga. Pernikahan bukanlah sehuah permainan." jawabku. Rizky memelukku. Dia mencium ubun-ubunku. Aku pasrah di peluknya. Sakit d**a ini sebenarnya, aku tidak bisa memilih dua-duanya, aku harus pilih satu di antara mereka. Keduanya sangat baik. Aku ingin sekali menangis namun tidak bisa, membuat dadaku terasa sesak. "Sayang. Kamu mandi dulu ya, biar aku siapkan makan malam. Kamu tidak boleh kecapek'an." suruh Rizky, ia melepas pelukannya, lalu kemudian mencium keningku dengan penuh kelembutan. Akupun hanya menurut Aku beranjak ke kamar mandi, sedang Rizky beranjak menuju ke dapur. Selesai mandi, aku memakai piyamaku, aku ganti pakaian dan turun ke bawah. Untuk melihat apa yang sedang di kerjakan Rizky di dapur. Di lantai bawah, aku berpapasan dengan Ayah, Ayah baru pulang dari kantor. "Mau ke mana, Sayang?" tanya Ayahku. "Ke dapur, Yah." jawabku Ayahku tersenyum lembut. "Ayah mandi dulu ya?" pamit Ayahku. Aku tersenyum. Ayah tidak pernah sekalipun memarahi aku selama aku menjadi anak Ayah. Ayah adalah Ayah yang terbaik. Ayahku cinta pertamaku, lalaki yang pertama aku cintai dan aku sayangi. Ayahku yang rela tidak menikah lagi, sebab beliau tak ingin aku memilki ibu tiri, yang belum tentu menyayangiku. Padahal jika pun ayah ingin menikah lagi, aku akan mendukung Ayah, sebab Ayah juga ingin di rawat. Di sayang juga mempunyai teman ngobrol saat di kamar. Namun Ayah lebih memilih menyibukan diri dengan terus kerja-kerja dan kerja, dan terkadang aku menjadi teman curhat ketika ayah penat dengan masalah pekerjaannya. Yang terkadang aku tidak paham, apa yang ayah bicarakan tentang bisnisnya, sebab diriku yang seorang dokter, dan tidak tahu menahu tentang dunia bisnis. Namun aku selalu mencoba untuk bisa memahami Ayahku. Sebab aku tak ingin ayah kecewa kepadaku. Sampai terkadang aku juga harus belajar secara otodidak tentang dunia bisnis, supaya bisa nyambung saat Ayah mengajakku bicara seputar harga saham dan juga produk yang sedang di butuhkan konsumen. Pernah suatu hari aku di minta Ayah untuk menjadi brand ambasador sebuah produk dari sebuah perusahaan teman ayahku, aku hanya belajar tiga hari dan langsung terjun ke lapangan, sebab yang menjadi brand ambasador produk tersebut mendadak minta cuti ke luar Negeri, sebab Kakaknya yang menjadi keluarga satu-satunya mengalami kecelakaan di sana. Dan karena aku usianya yang pas waktu itupun menjadi pengganti, setelah itu beberapa orang dari teman Ayah menawarkan aku menjadi model produk baru mereka, namun aku tidak berminat sama sekali,
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD