4. Brian Marah?

1347 Words
_______________________ Soya segera mengganti baju nya dengan baju lebih santai, dress bermotif kotak-kotak dengan sepatu putih. Soya sudah berkeliling sekolah tapi belum juga menemukan brian. Setelah selesai bernyanyi tadi, dia tidak mendapati brian lagi di kerumunan penonton. Soya menatap cemas pada sekitar nya lalu berjalan lagi menuju rooftop sekolah, berharap brian ada di sana. Tapi hasilnya tetap nihil. "aduh soya, kalau enggak ada jam pelajaran gini pasti brian udah pergi" soya berbicara sendiri. Soya melangkahkan kaki nya turun lagi, ini sudah jam empat sore. Dan sudah sekitar setengah jam dia berkeliling mencari brian. Langkahnya kembali terhenti karna panggilan dari temannya dan juga seorang lelaki berkacamata tebal menghalangi langkahnya. "Soya" Nana merangkul lengan soya. "oh ini kan kak bima, yang kemaren menang sains itu kan?" "ng..." lelaki berkacamata tebal bernama bima itu menatap ragu ke arah soya dan nana. "bentar ya kak bima" soya berkata lalu menoleh ke arah nana. "kenapa lo?, bukannya tadi lagi sama kak janu ya?" soya bertanya. "nanti aja ceritanya, soy. Pas pulang aja sekalian nongkrong dulu sama bunga dan seina" nana menjawab "ini kak bima ada urusan sama lo tuh kayaknya" "oh iya" soya menepuk keningnya lalu tersenyum lebar. "ada apa ya kak?" soya bertanya. "ng.. Lo cantik banget soya" bima menjawab. "aduh jadi malu, makasih ya" soya membalas. "i..ini buat lo" bima mengeluarkan coklat dan bunga dari belakang punggung nya. "bu..buat lo" Soya menoleh ke arah nana yang terlihat tertarik karna melihat coklat kotak dan bunga yang di berikan kakak kelas nya itu. Soya tidak ingin menerima hadiah itu, dia tidak ingin timbul kesalah pahaman nantinya, tapi melihat nana yang menatap nya dengan tatapan yang mengisyaratkan nya untuk mengambil hadiah itu, membuat soya jadi bingung. "ambil dah, lumayan" bisik nana. "ih nana, tapi-" soya balas berbisik. "lo enggak suka coklat ya?" bima yang mendengar nana dan soya yang berbisik, sontak langsung bertanya. "enggak kok kak, soya doyan coklat kok" nana menjawab. "Tapi, apa enggak masalah nih?" soya menatap ragu, lalu menerima coklat dan bunga itu. "Makasih ya, kak bima" "iya miss sekolah" bima tersenyum lebar lalu berbalik pergi dengan langkah cepat. Soya mengerucutkan bibir nya, lalu memberikan coklat dan bunga itu pada nana. "peka banget sih, my bestie" nana memeluk soya. "coba aja yang ngasih my baby brian, pasti udah gue kasih formalin bunga nya, biar awet" "sakarepmu lah soy" nana menjawab. "yuk pulang" "gue nyari brian na, gue takut dia marah sama gue. Masa tadi habis gue nyanyi dia langsung cus pergi, gue khawatir" "udahlah, bad boy kayak dia lo demenin. Udah gitu lo di kacangin mulu lagi sama dia, yang bule kayak dia banyak kali soy" Nana menarik soya berjalan menuju parkiran. "gue kan suka nya brian, biar pun jungkook bts suka sama gue, hati ini tetap milih baby brian" soya menjawab. "Udah, pulang soy!" nana mendorong soya masuk ke dalam mobil nya. ••• Brian menatap tajam bima, menedang meja lelaki berkacamata tebal itu. "a..ada apa?" bima bertanya dengan takut. "Berani banget lo" brian mencengkram kerah baju bima. "eiiitss.. Sabar!" vano yang baru datang ke kelas mencoba menyentuh bahu brian. "jangan ikut campur, van!" brian meliriknya tajam. "oke, tapi kenapa dulu nih. Pagi-pagi lo sudah ngebully nih bocah?" vano bertanya. Brian berdecak kesal lalu menghempaskan kerah baju bima. "Lupain aja" brian mendengus "cabut ke kantin!" Vano mengerutkan keningnya bingung, tidak biasanya brian marah karna sebab yang tidak jelas. Vano melirik ke arah bima sebentar, "kenapa lagi sama lo cupu?" vano bertanya. "sudah gue bilang, jangan bikin masalah sama brian" "bukan, gue merasa enggak bikin masalah sama brian" bima menjawab. Vano menghela nafasnya lalu berbalik menyusul brian. "Lama" brian berkata saat vano duduk di depannya sambil bermain handphone. "lo pms?, pagi-pagi sudah marah-marah enggak jelas" vano membalas. "mana angga?" brian mengalihkan topik pembicaraan, dia tidak mungkin bilang kalau dia sedang kesal karna tidak sengaja melihat soya yang menerima coklat dan bunga dari bima. "biasa anak badung, abis clubing tadi malam. Paling telat" vano menjawab tanpa mengalihkan fokus nya pada layar handohone nya. "oh" brian menopang dagu nya, menatap malas pada sekitar. "lo kenapa tadi malam enggak datang?" vano bertanya. "malas" brian menjawab, dia tidak mungkin menjawab kalau mood nya hancur gara-gara si miss sekolah, kemaren sore. Vano mematikan handphone nya. "Soya tuh" vano berkata, brian menolehkan kepalanya. Melihat itu, vano langsung tertawa, karna berhasil mengerjai brian. "Anjing lo" brian mendengus. ••• Soya merapikan buku nya, lalu langsung bangun dari duduk nya setelah bel istirahat berbunyi tidak sampai semenit yang lalu. "yaampun soy, santai aja kali!" bunga berkata. "lo semua buruan kek!" soya menjawab. "iya soya, iya" seina menjawab lalu bangun dari duduk nya. "dasar bucin" nana mencibir lalu merangkul tangan soya. "enggak usah juliiiid!" soya berkata. Lalu menarik ketiga temannya keluar kelas menuju kantin, berharap brian ada disana. "brian marah enggak ya sama gue?" soya berkata khawatir. "dari kemaren brian mulu" bunga menyahut. "ya mau gimana, dia di line biasanya ngeread aja atau ngebalas line gue hmmm. Gitu, tapi tadi malam enggak di read" Seina, bunga dan nana saling melempar pandang dan melongo. "Yaampuuun Soya kianti larasari. Cuma di read doang lo bangga" seina berkata. "Soy, lo cantik. Tapi kok bego" nana menambahkan. "cinta sih cinta, soy. Tapi enggak bego juga" bunga berkata. "ih, enggak usah julid gue bilang" soya berdecak kesal lalu berjalan lebih dulu ke arah kantin, di ikuti tiga temannya di belakang. Rasa kesal soya langsung hilang saat melihat brian dengan kedua temannya yang sedang bercengkrama di pojok kantin. "bunga, seina, nana ayo!" soya berkata dengan senyuman lebar nya yang berbentuk hati ini. "tuh kan, gue bilang apa. Enggak samai lima menit juga udahan ngambeknya" seina berkata. "iya miss sekolah" nana menjawab. "pesenin gue bakso ya, kayak biasa. Kita duduk di sana" soya berkata lalu mengecup satu-persatu pipi ketiga sahabatnya sebelum berlari kecil ke arah brian, dan duduk di sebelah lelaki yang sedang minum itu. Brian tersedak minumannya saat soya tiba-tiba duduk di sebelahnya. "aduh keselek" soya menepuk punggung brian. Tapi brian langsung menepis nya. "dasar setan" brian mengumpat kesal. "ih brian, cantik gini di belang setan. Tapi enggak masalah sih" soya menjawab. "hah?" angga dan vano melongo, berbeda dengan brian yang mengerutkan alis nya. Soya mengangguk lalu menopang wajahnya sambil menatap brian yang duduk di samping nya. "kalau jadi setan, aku mau kok selalu menghantui pikiran brian, biar kepikiran soya terus" soya berkata. "aduh soya, jago gombal" angga tertawa. "jauh-jauh dari gue!" tegas brian. "brian kenapa sih, masih enggak paham lagu yang kemaren?, aku sudah capek latihan buat kamu loh, hargai aku kek" "sini gue kasih uang" brian menjawab dengan kesal, untuk pertama kali nya brian meladeni seorang gadis seperti soya. "brian aku tuh bukan cewek matre, penghasilan dari endors sama vlog di youtube cukup kok, uang bulanan ku juga lumayan. Kamu tenang aja, aku tuh bukan minta uang" Brian mendengus mendengarnya, kalau biasanya dia bisa mendorong seorang gadis yang mengejarnya, tapi untuk soya. Dia tidak bisa. "besok kita main ke dufan yuk, aku traktir deh. Vano sama angga juga boleh ikut kok, nanti bunga, nana sama seina juga ikut" soya berkata. "gue mau kalau miss sekolah yang ngajak" angga menjawab. "masa aa vano enggak ikut, gue ikut soy" vano menjawab. "enggak" brian menjawab. "katanya kamu ngehargain aku, yasudah jalan sama aku!" soya membalas. "lo punya kuping enggak sih, kapan gue bilang kayak gitu" brian membalas sinis. Soya menghela nafasnya. "brian, aku minta maaf ya kalau kemaren bikin kamu marah" soya menundukkan kepala nya. "kalau kamu enggak suka nyanyian yang kemaren, sorry ya" Brian menarik nafasnya. "Lo yang bayarin ke dufan nya" brian menjawab acuh. Soya mendongakkan kepala nya, lalu senyum nya langsung mengembang. "Siap my baby brian" "jangan panggil gue dengan panggilan alay lo itu!" balas brian. "terus nanti kalau udah nikah mau langsung panggil mama daddy, gitu. Jangan ih, sayang-sayangan aja dulu atau baby-baby an" "Diam!" brian menatap tajam, tapi soya hanya tersenyum lebar. "Jadi artinya pulang sekolah nanti, kamu antar aku pulang dong, biar besok kamu bisa jemput aku" soya tersenyum senang "asik di anter pulang" "enggak" brian menjawab. "tenang soy, lo bisa milih mau pulang sama gue atau vano. Mau minta antar ke dunia sebelah juga oke" angga menyahut. "ih serem dong" soya menjawab. "datang ke kelas gue nanti, kalau mau minta antar pulang" brian menjawab acuh ......................Tbc
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD