Meminta Penjelasan

1306 Words
Abizar hanya berdiri di tempatnya, memperhatikan betapa cekatan gadis itu di dapur. Di matanya Jelita sama seperti Jovanka. Suka sibuk di dapur, tapi itu dulu. Sebelum pikirannya belum terkontaminasi dengan ide gilanya. Sekarang Jovanka hampir tidak pernah lagi menyentuh dapur. Istrinya itu selalu sibuk dengan urusannya sendiri, imbasnya mereka hampir tidak pernah lagi makan bersama. Akan tetapi, entah kenapa. Melihat Jelita sekarang, ia merasa menemukan kembali sosok Jovanka di dalam diri gadis itu. Abizar kemudian melangkah menghampiri Jelita dan kebetulan berada di depan kulkas. Tanpa bersuara Abizar mengulurkan tangannya untuk membuka pintu kulkas. “Ah…!” Jelita terkejut melihat tiba-tiba sebuah tangan muncul dihadapannya. Ia refleks berbalik dan lagi-lagi terkejut karena Abizar sudah tepat berada di hadapannya. Hanya berjarak beberapa senti saja dari hadapannya. Tangan Abizar yang masih dalam posisi berada di pintu kulkas membuat jelita menggeser tubuhnya ke samping untuk menghindar. Kenapa Akhir-akhir ini ia merasa Abizar sering memperhatikannya?Jantungnya hampir saja copot di buatnya. Jelita tertunduk. “Pak Abi mau minum, kenapa tidak bilang sama saya saja? biar saya yang ambilkan,” ucapnya masih dengan d**a yang bergemuruh. Huh…! Jantungnya ini masih tidak bisa tenang. “Tidak apa-apa, aku tidak ingin mengganggu kesibukanmu,” Jawab Abizar lalu mengambil sebuah botol minum dari dalam kulkas dan menuang air ke dalam gelas lalu meminumnya. Setelah itu ia memasukkan kembali botol minuman itu ke dalam kulkas sambil memperhatikan Jelita yang terlihat kembali sibuk memotong-motong sayuran. Abizar tampaknya tidak berniat meninggalkan tempat itu, ia hanya memandangi jelita yang sibuk. Sedangkan Jelita hanya bisa terus berpura-pura fokus pada apa yang ia lakukan, meskipun sebenarnya ia gelisah karena Abizar terus saja memandanginya. “Kenapa Pak Abizar bersikap seperti itu, ya? Bikin deg-degan saja. Tapi ini sudah lama, mungkin dia sudah pergi. Coba aku intip sedikit,” guman Jelita dalam hati lalu perlahan menoleh ke arah Abizar. Tapi sialnya, Abizar masih berada di sana, buru-buru Jelita berbalik. “Duh… bikin malu saja, kenapa juga dia masih ada di situ,” gumannya dalam hati menyembunyikan wajahnya yang memerah. Abizar hanya menahan senyum melihat Jelita yang tersipu malu karena kedapatan mengintipnya. Ia pun beranjak dari tempatnya dan kembali ke kamar. Jovanka masih terlelap, ia menghela nafas panjang. Menatap lama istrinya yang sedang terlelap. Ia teringat kebahagiaan yang selama ini ia rasakan bersama Jovanka sebelum istrinya itu memiliki ide gila yang memintanya menikah lagi. Sekarang kebahagiaan itu sudah tidak ada ada lagi, ketentraman dalam hidupnya hilang, tergantikan dengan rasa gelisah dan tidak tenang. Abizar kemudian melangkah masuk ke kamar mandi. Beberapa saat kemudian, Abizar keluar. “Pagi sayang,” sapa Jovanka masih dengan selimut yang menutupi tubuhnya. “Kau sudah bangun?” sahut Abizar sambil merapikan dasinya. Jova bangkit dari tidurnya menghampiri Abizar. “Kau terlihat sangat tampan sayang. Oh iya, aku ingin bilang sesuatu,” ucap Jovanka sambil merapikan dasi sang suami. “Kalau mau bilang sesuatu ya tinggal bilang saja kan, tidak perlu ada pembukaan begitu. Yang ada aku malah curiga. Jangan-jangan kau ada niat aneh lagi, kan sudah ku bilang jangan paksa aku,” sahut Abizar menatap Jovanka lekat. Jovanka tersenyum. “Kau akhir-akhir ini curigaan terus sama aku. Aku Cuma mau izin saja, aku mau menghadiri pasta temanku dan harus nginap sekitar beberapa hari,” ujar Jovanka mengutarakan niatnya. “Menginap? Kenapa harus begitu?” Kau tidak sedang merencanakan sesuatu lagi kan?” Abizar mulai curiga. “Tidak, ayolah sayang, biasanya kan aku juga sering nginap di luar rumah sebelum ini dan kau tidak pernah mempermasalahkan itu. Kenapa tiba-tiba kau sewot seperti ini? kau masih ingat Kristin teman sosialitaku kan? Dia ingin mengadakan pesta anniversary di kapal pesiar milik keluarganya, dan aku salah satu yang di undanganya,” jelas Jovanka. “Iya, tapi kenapa harus menginap segala? kau kan bisa hadir dan pulang setelah itu.” Abizar tidak setuju dengan ide Jovanka. “Mereka akan berlayar sekitaran pulau, dan itu akan membutuhkan waktu beberapa hari, sayang. Dan juga aku sangat berharap, selama aku tidak ada, kau bisa bersama Jelita dan mewujudkan mimpiku.” Mendengar itu, Abizar menghela nafas kesal. “Sudah ku duga alasan utamamu adalah untuk membiarkan aku berdua dengan Jelita dan bukan tentang pesta temanmu itu.” sahut Abizar dengan nada dingin. Ia kembali kesal dengan sikap istrinya itu. “Abi, tolong dengar kan aku. Ini sudah hampi 3 bulan lamanya semenjak kejadian itu. Kalian tidak pernah berhubungan lagi, mau sampai kapan kita seperti ini terus? Aku tidak ingin perempuan itu berlama-lama di rumah kita, untuk itu kau juga harus segera melakukannya. Dengan begitu semuanya akan cepat selesai.” “Terserah kau saja.” Abizar mengambil tasnya dan keluar dari kamar. Jovanka hanya bisa menghela nafas panjang. Sulit sekali meyakinkan suaminya ini. Harus seperti apa lagi usahanya agar Abizar dan Jelita bisa kembali bersama untuk menghasilan keturunan yang ia inginkan. Jika seperti ini terus, bisa-bisa semua usahanya akan hancur berantakan. *** Hari sudah semakin siang, seperti biasa Jelita berada di dalam kamar menunggu rumah benar-benar sepi baru ia keluar dari kamar. Berjalan ke arah taman dan duduk sambil menatap bunga-bunga dan tanaman hijau cantik lainnya. Sudah hampir 3 bulan ia tinggal di rumah besar ini. Tidak ada yang spesial. Ia tidak memiliki kesibukan, dengan jaminan uang yang cukup yang ia miliki sekarang, ternyata tidak membuat dirinya senang. Ia bahkan mulai merasa bosan, Jelita ingin mencari kesibukan. “Apa sebaiknya aku keluar cari pekerjaan ya? toh pak Abi dan bu Jova tidak pernah lagi memperhatikan aku, mereka sibuk dengan urusan masing-masing. Mungkin mereka sudah melupakan rencana awal mereka? tapi bukankah itu lebih baik, semoga saja mereka benar-benar melupakan niat mereka dan mau melepasku saja.” Pikirnya lalu beranjak keluar kamar. Jelita menahan sebuah taksi dan melaju. Ia berencana mengunjungi ayahnya lalu segera mencari-cari tempat kerja baru. Taksi berhenti di depan rumah ayahnya. Jelita keluar dari taksi. Tapi pada saat ia hendak melangkah masuk, tiba-tiba tangannya di cekal oleh seseorang. Jelita terkejut bukan main, ia menoleh dan melihat Arya sudah berdiri di belakangnya. “Tolong ikut aku dulu,” tanpa menunggu persetujuan Jelita, Arya langsung menarik tangan Jelita untuk masuk ke dalam mobilnya. “Apa yang Bapak lakukan? Ini sudah termasuk tindak penculikan ya, aku bisa saja melaporkan tindakanmu ini, Pak Arya!” ucap Jelita kesal. Ia pikir urusannya dengan Arya sudah selesai, tapi ternyata pria itu masih saja berusaha mengganggunya. “Aku tidak berniat menculikmu, aku hanya ingin berbicara dan memperjelas pembicaraan kita waktu itu,” ucap Arya. “Tapi kan itu sudah selesai, Pak. ingat, aku ini adalah istri dari seseorang dan sangat tidak sopan memaksa istri orang untuk masuk ke dalam mobil seorang pria. Dan di sini aku keberatan,” Jelita masih berusaha memprotes tindakan Arya yang menurutnya sudah keterlaluan. “Jangan khawatir, aku tidak akan berbuat kurang ajar padamu.” Arya kemudian menepikan mobilnya. “Jelita, terus terang aku masih sangat mencintaimu. Aku tidak pernah berhenti memikirkanmu dan itu sangat menyiksaku. Kau bilang kau suah menikah, kan? Tapi aku sama sekali tidak pernah melihat kau dan suamimu itu bersama. Siapa dia dan bagaimana suamimu itu aku tidak pernah melihat sosoknya,” icap Arya. “Jadi selama ini Bapak mengikuti saya?” Jelita sangat terkejut mendengar pengakuan Arya. Ia tidak menyangka pria itu melakukan hal yang sejauh itu kepadanya. “Dengar Pak Arya, aku sudah memberitahumu jika aku sudah menikah, itu berarti aku tidak pantas lagi berbicara dengan pria asing apalagi hanya berdua saja di dalam mobil. Jadi jika Bapak tidak percaya dengan yang ku katakana, itu terserah Bapak. Aku bahagia atau tidak, itu juga bukan urusan Bapak kan? Toh ini pilihanku sendiri, aku tidak pernah minta pendapat Bapak tentang itu. Saya rasa pembicaraan kita sudah selesai, saya ingin turun saja dari sini.” Jelita membuka pintu dan berjalan cepat meninggalkan Arya yang masih terlihat membeku. “Jelita berhenti dulu…!’ Arya kembali menahan gerakan Jelita dengan memegang tangannya. “Apa yang Kau…” “Lepaskan tangan istri saya…!!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD