Koridor IGD malam itu terasa seperti lorong panjang menuju kegelapan. Lampu neon yang terang benderang justru menyoroti setiap bayangan ketakutan dan kelelahan di wajah orang-orang yang lalu lalang. Bramasta menemui Aldi di sebuah ruang tunggu khusus. Pria itu duduk membungkuk, tangan masih sedikit bergetar, bajunya yang biasanya rapi terlihat kusut dan ada noda kecoklatan samar di lengan—mungkin darah. Mereka duduk berhadapan dalam keheningan yang lebih berat dari batu. “Dia masuk ICU. Cedera kepala dan trauma d**a. Dokter bilang butuh operasi,” lapor Aldi, suaranya parau, tanpa menatap mata Bramasta. Walaupun tak ada cinta setidaknya Aldi memiliki rasa peduli pada wanita yang sudah empat puluh tahun lebih mempertahankan status menjadi istrinya. Bramasta mengangguk pelan. Otaknya mas

