Pintu ruang kerja itu menutup dengan bunyi pelan. Dan justru di situlah semuanya pecah. Aldi berdiri kaku beberapa detik, menatap pintu yang baru saja dilewati Bramasta—putranya sendiri. Napasnya berat, dadanya naik turun, rahangnya mengeras seperti menahan sesuatu yang terlalu lama dipendam. Lalu— BRAK! Gelas kristal di tangannya dilempar ke dinding. Pecahannya berhamburan, memantul di lantai marmer. “Kurang ajar…!” suaranya bergetar, antara marah dan terluka. Ia menyapu meja kerjanya dengan satu gerakan kasar. Dokumen, pena mahal, pigura foto keluarga—semuanya jatuh berserakan. Nurma berdiri di sudut ruangan. Diam. Wajahnya pucat. Tangannya saling menggenggam, tidak berani mendekat, tidak berani bersuara. Ia tahu, saat seperti ini, apa pun yang ia katakan hanya akan menjadi pem

