Akhirnya mereka menempati rumah baru tanpa peresmian atau acara yang berlebihan hanya acara kecil-kecilan sebagai wujud terima kasih kepada Tuhan karena hidup mereka berjalan dengan normal sampai sejauh ini. Masalah memang ada tapi semua menemukan jalannya. Acara syukuran selesai, yang tersisa hanya kardus-kardus yang dibuka perlahan, bau cat yang masih samar, dan tawa kecil yang sesekali pecah karena Kiara dan Sheila berebut kamar. Kirana berdiri di tengah ruang keluarga, satu tangan menopang pinggangnya yang mulai terasa berat. Ia memperhatikan dua anak itu berlarian, saling memanggil nama, tanpa sekat darah, tanpa canggung. Dan untuk pertama kalinya, kata keluarga terasa sederhana. Ibunya tidak ikut pindah. Bukan karena tidak sayang. Melainkan karena dari awal, perempuan itu sudah

