Bramasta memeluk Kirana erat. Hari ini, dia tak ingin melakukan apa pun selain tidur dan terus memegang istrinya dalam dekapan—meski harus berbagi perhatian dengan Kana yang sedang tidur di boks sebelah mereka. Rasa lelah berangsur luruh, ditelan oleh kehangatan tubuh Kirana yang menyatu dengan miliknya, serta aroma familiar yang selalu menenangkannya. Jika orang-orang selalu berbicara tentang ‘rumah’, maka Kirana adalah rumahnya. Tempat semua pelabuhan batinnya berlabuh. Dia tak menyesal baru menemukannya sekarang. Setiap luka, setiap jalan berliku yang pernah dilalui, yakinnya, membawanya tepat pada cinta yang selama ini ia impikan. Hidup memang sebuah proses. “Beberapa waktu ini kita disibukkan dengan banyak hal,” ucap Kirana lembut, sambil menepuk-nepuk tangan Bramasta yang terletak

