Bagian 12

1508 Words
Pagi menjelang di paviliun Putri Zetian tidak terlihat satupun kegiatan yang ada di halaman tempat obat herbal yang telah dirusak. Akan tetapi di dalam paviliun banyak sekali kegiatan yang sangat menyibukkan. Terlihat para pelayan kepercayaan Putri Zetian membuat campuran air untuk penyubur yang sudah diajarkan oleh Putri Zetian. Mereka berusaha membuat beberapa campuran obat dan air untuk disebar di tanah yang rusak. Putri Zetian memang belum pernah mengalami hal buruk seperti itu, akan tetapi dia paham akan beberapa obat untuk menyuburkan tanah yang tandus. Karena dulu di masa dia hidup di jaman modern, dia memiliki nenek yang sangat pandai merawat kebun dan mengajarkannya beberapa pengetahuan soal merawat tanaman herbal. Oleh karena itu dia memiliki pengetahuan yang sangat bagus dalam merawat tanaman herbal. "Bibi Yin, bawalah beberapa ramuan ini untuk tanaman herbal kita yang sudah kita sembunyikan" perintah Putri Zetian. "Baik, Putri" jawab Bibi Yin. Bibi Yin dan beberapa pelayan segera menuju ke tempat rahasia mereka dan menyiram tanaman herbal yang tumbuh subur. "Pelayan Yan dan yang lain tolong siramkan ramuan ini ke halaman paviliun" perintah Putri Zetian ke pelayan yang lain. "Baik, Putri" jawab mereka serentak. Lalu mereka pun keluar dan menyiramkan ramuan yang sudah dibuat untuk tanah yang dirusak oleh orang. Disaat mereka sedang membersihkan halaman dan menyiram air ramuan, Putri Yuanshun datang mengunjungi Putri Zetian. "Putri Wu Yuanshun datang berkunjung" teriak pengawal. Lalu terlihat Putri Wu Yuanshun masuk ke dalam paviliun dan melihat beberapa pelayan yang sedang membersihkan sisa - sisa tanaman yang sudah rusak. Terlihat senyum tersungging dari bibir Putri Yuanshun dan para pelayannya. "Rasakan kamu Zetian, mulai sekarang kamu akan aku buat menderita. Aku akan merebut semua milikmu dan merusak semua kesenanganmu" Putri Yuanshun berkata dalam hati. "Maaf Tuan Putri Yuanshun, Putri Zetian sedang beristirahat" kata Pelayan Yan. "Aku hanya ingin memastikan keadaan kesehatan kakakku sendiri, kenapa aku tidak boleh menjenguknya?" tanya Putri Yuanshun. "Tunggu sebentar Putri, Hamba akan memberitahukan kepada Putri Zetian" jawab Pelayan Yan. Pelayan Yan kemudian masuk untuk memberitahukan pada Putri Zetian. Terlihat Putri Zetian sedang bergegas untuk tiduran di ranjang dan tidak lupa dia meminta pelayannya mencari Bibi Yin untuk segera kembali ke kamar. Bibi Yin segera pergi bergegas ke kamar Putri Zetian dan membereskan meja besar yang ada di tengah kamar Putri Zetian. Dan dia segera duduk dipinggir ranjang tidur memijat kaki Putri Zetian, kemudian menyuruh Pelayan Yan untuk membawa masuk Putri Yuanshun. "Silahkan masuk, Putri Yuanshun" kata pelayan Yan. "Huh akhirnya disuruh masuk juga setelah lama aku menunggu dihalaman" jawab Putri Yuanshun ketus. Kemudian masuklah Putri Yuanshun ke dalam kamar Putri Zetian, dia tersenyum melihat keadaan Putri Zetian yang pucat dan terlihat lemah. "Rasakan kamu Zetian, salah siapa kamu berani merebut Pangeranku. Dia hanya milikku seorang, dan tidak akan ada yang memilikinya kecuali aku" kata Putri Yuashun dalam hati. "Bibi Yin, bagaimana keadaan kakak Zetian?" tanya Putri Yuanshun berpura - pura sedih. "Putri Zetian masih lemah, Putri. Dan beliau sakit karena sedih melihat tanamannya hancur" jawab Bibi Yin sambil membungkuk hormat. Putri Yuanshun kemudian mendekat dan melihat Putri Zetian yang tidur terbaring sakit. "Bibi Yin, aku membawakan obat untuk kakak Zetian. Bangunkan dia untuk meminumnya ya? Jangan lupakan hal itu, aku tidak bisa berlama - lama ada disini karena sebentar lagi aku akan pergi keluar dengan seseorang. Pelayan, berikan obat itu ke Bibi Yin" perintah Putri Yuanshun. Kemudian pelayan yang membawa baki kayu yang berisikan mangkok obat diberikan pada Bibi Yin, Bibi Yin pun segera menerimanya dan meletakkannya dimeja kecil disamping dinding. "Baik, Putri. Nanti Hamba akan membangunkan Beliau" jawab Bibi Yin. "Ya sudah aku pamit. Kakak, cepatlah sembuh. Kasihan Ayahanda sedih melihat keadaan kakak sekarang ini." kata Putri Yuanshun sambil mengelus rambut Putri Zetian. Kemudian Putri Yuanshun dan pelayan berpamitan pergi keluar diantarkan oleh Bibi Yin. Bibi Yin menutup pintu dan segera mengambil jarum perak untuk ditaruh ke dalam mangkok obat yang diberikan oleh Putri Yuanshun. "Bagaimana Bibi Yin hasilnya?" tanya Putri Zetian sambil duduk di ranjang kamar. "Sebentar Putri belum terlihat" jawab Bibi Yin. Setelah jarum itu di cek ke dalam mangkok obat itu, lalu memberikan pada Putri Zetian. Karena Bibi Yin tidak paham sama sekali tentang hal itu. "Hmmm ternyata" kata Putri Zetian setelah melihat perubahan di jarum perak itu. "Bagaimana, Putri?" tanya Bibi Yin. "Obat ini diberi racun yang kalau diminum terus - terusan akan membuat orang itu mati" terang Putri Zetian. "Astaga, tega sekali dia sama kakak sendiri sebegitunya" jawab Bibi Yin. "Buang obat ini ke dalam sumur yang ada di dekat dapur Putri Yuanshun. Suruh orang untuk melakukannya secara diam - diam dan jangan sampai ada yang tahu" perintah Putri Zetian. "Baik, Hamba laksanakan Putri" jawab Bibi Yin. Dilain tempat terlihat Putri Yuanshun berdandan cantik dan memakai baju yang sangat cantik. "Wah, Putri terlihat sangat cantik sekali" puji Pelayan yang membantunya berdandan. "Aku harus selalu terlihat cantik dan wangi, agar Putra Mahkota semakin tergila - gila padaku" kata Putri Yuanshun dengan bangga. "Iya, betul Putri. Putri akan terlihat sangat segar dan cantik sekali" puji pelayan itu. "Sudahlah, ayo kita pergi keluar sekarang. Aku ingin berjalan - jalan menghirup udara segar dan bersenang - senang untuk memeriahkan kemenanganku. Siapkan keretanya" kata Putri Yuanshun. "Baik, Hamba Laksanakan Putri" jawab pelayan itu lalu pergi keluar untuk memerintah pengawal menyiapkan kereta atas permintaan Putri Yuanshun Putri Yuanshun dan pelayannya kemudian bergegas keluar dari paviliun tempat yang dia tinggali di Kerajaan Nanyi. Pengawal membuka pintu kereta untuk Putri Yuanshun. "Silahkan masuk Putri" kata pengawal. Putri Yuanshun kemudian masuk kedalam kereta lalu memerintahkan mereka menuju ke kota Nanyi. Ditengah kota terlihat dua orang menunggang kuda dengan pelan, melihat ke kanan dan ke kiri. Mereka adalah Putra Mahkota dan Pengawal Lian. "Sepertinya Putri Yuanshun belum sampai ke Kota Nanyi, Yang Mulia" kata Pengawal Lian. "Biarkan saja, Lian. Kita akan menunggu kedatangan mereka disini, aku sungguh tidak sabar melihat muka nya yang sangat munafik itu" jawab Putra Mahkota dengan geram. Terlihat dari jauh kereta yang membawa Putri Yuanshun. Putra Mahkota memerintahkan pada Pengawal Lian untuk berpura - pura tidak melihat kedatangan Putri Yuanshun. Mereka segera turun dari kuda kemudian berjalan - jalan dan melihat - lihat beberapa barang di pasar. Pelayan Putri Yuanshun secara tidak sengaja melihat Putra Mahkota Ying dan segera memberitahukan pada Putri Yuanshun. "Putri, Hamba melihat Putra Mahkota dan pengawalnya berada di pasar kota" lapor pelayan itu. Putri Yuanshun segera melongok keluar jendela dan mendapati Putra Mahkota sedang melihat beberapa barang, Putri Yuanshun memerintahkan ke kusir kereta untuk menghentikan keretanya. Kemudian dia turun lalu menghampiri Putra Mahkota Ying. "Yang Mulia, sedang apa disini?" tanya Putri Yuanshun dan tersenyum. "Ohh, Putri Yuanshun. Ini aku sedang mencari beberapa barang untuk Putri Yuanshun. Aku ingin mengunjungi Putri dengan membawa beberapa hadiah, ternyata kita bertemu disini secara tidak sengaja. Sepertinya kita di jodohkan oleh Dewa" jawab Putra Mahkota dengan senyum yang memabukkan. Putri Yuanshun terlihat senang dengan jawaban Putra Mahkota. Senyum mengembang di bibir Putri Yuanshun. "Yang Mulia, membuat saya malu" jawab Putri Yuanshun dengan tersenyum senang. Mereka pun lalu berjalan di pasar sambil melihat beberapa barang, Putri Yuanshun melihat tusuk rambut yang sangat cantik dan dia sangat ingin memilikinya. Putra Mahkota yang melihat itu kemudian membelikannya untuk Putri Yuanshun. "Berikan tusuk rambut tercantik ini untukku, Pak Tua" kata Putra Mahkota pada pedagang itu. Pedagang itu melihat Putri Yuanshun, kemudian dia pun tersenyum dan melihat tusuk rambut yang lain kemudian memberikannya pada Putra Mahkota. "Tusuk rambut ini lebih cocok dikenakan oleh Nona ini, Tuan" kata pedagang itu. Putra Mahkota menerimanya kemudian memasangkannya pada rambut Putri Yuanshun. "Benar sekali, Pak Tua. Kekasihku ini terlihat lebih cantik" puji Putra Mahkota. Putri Yuanshun sangat senang dan mukanya bersemu merah. "Berapa harga untuk tusuk rambut cantik itu, Pak Tua?" tanya Putra Mahkota. "Hanya 1 tael emas, Tuan" jawab pedagang itu. Putra Mahkota segera membayarnya dan Putri Yuanshun pun meninggalkan Putra Mahkota yang sedang membayar tusuk rambutnya sambil melihat beberapa barang yang bagus untuk Putra Mahkota. "Pak Tua, ini uangnya" kata Putra Mahkota. Pedagang itu menerima uang itu, lalu membungkus satu lagi tusuk rambut tercantik yang dipilih oleh Putri Yuanshun pertama tadi. Kemudian dia memberikannya pada Putra Mahkota. "Tuan, berikanlah tusuk rambut ini pada orang yang Tuan cintai. Karena menurut saya tusuk rambut ini akan lebih cocok diberikan padanya" kata pedagang itu. Putra Mahkota nampak terkejut dan menerima tusuk rambut itu, kemudian menyimpannya dibalik bajunya. "Terima Kasih, Pak Tua" jawab Putra Mahkota. Putra Mahkota pun segera meninggalkan pedagang itu, kemudian menyusul Putri Yuanshun yang sudah berpindah tempat ke sebuah toko pedang. "Putri, apa yang kamu cari?" kata Putra Mahkot mengejutkan Putri Yuanshun. "Yang Mulia, mengagetkan saja. Saya sedang melihat pedang yang sangat cocok untuk Yang Mulia" jawab Putri Yuanshun dengan senyum. "Untuk apa pedang, Putri?" tanya Putra Mahkota. "Sebentar lagi Kerajaan Nanyi akan mengadakan musim berburu, dan ayahanda akan mengundang Putra Mahkota untuk ikut merayakannya" terang Putri Yuanshun. "Oh iya, aku bahkan lupa untuk hal ini. Ya sudah pilihkan aku pedang yang terbaik, Putri" kata Putra Mahkota. Kemudian mereka berdua pun melihat beberapa pedang untuk pergi ke perayaan berburu nanti. Pelayan Putri Yuanshun sangat senang melihat dua insan itu sedang mencari barang bersama dan bersenda gurau. Berbeda dengan Pengawal Lian, dia sangat muak dengan sandiwara yang dia lihat oleh karena itu dia memasang muka masam dan datar.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD