Bagian 14

1437 Words
Dalam tidur Putri Zetian dia bermimpi seakan-akan melihat dirinya di 2000 tahun mendatang sedang terbaring koma di ICU. Dia melihat orang tuanya bersedih, dia mendekat ingin memeluk dan berkata bahwa dia baik-baik saja akan tetapi tidak bisa. Ada sebuah energi kuat yang menahannya, dia terpelanting menjauh. Dia bertemu seorang kakek tua dan kakek tua itu mengatakan bahwa perjalanan dia belum selesai di jaman Dinasti Lin Hua. Dia terbangun lalu duduk kemudian menangis. "Apakah arti mimpi itu? Apa ragaku baik-baik saja? Apa misi yang harus aku lakukan di dunia ini?" tanyanya dalam hati. Dia bertanya-tanya apa yang membuat dia harus tertahan di dunia ini? Apakah jalan yang harus dia lakukan? Dia kemudian bersemedi lalu melakukan pelatihan untuk mempelajari seni beladirinya, membuka meridiannya. Dia mempelajari membuat obat untuk merawat orang - orang yang dia lindungi. Dia menganggap Bibi Yin sebagai ibu nya dan Raja Li Zhi sebagai ayahnya di dunia ini. Dia hanya fokus untuk merawat mereka berdua, melindungi mereka berdua dengan obat - obatan. Pagi hari sudah datang, matahari sudah terbit. Tanpa perintah dari Putri Zetian, para pelayan dan Bibi Yin sudah menyiram obat-obat herbal yang ditanam oleh Putri Zetian. Tiba-tiba dari salah satu obat itu memancarkan cahaya dan tercium bau yang sangat wangi, Putri Zetian yang sedang terpejam meditasi membuka matanya. Dia bergegas ke tempat herbal itu disembunyikan, para pelayan dan Bibi Yin kaget dengan kedatangan Putri Zetian tiba-tiba. Putri Zetian sangat gembira melihat tanaman itu berbau wangi. "Akhirnya tumbuhan ini berbuah juga" katanya gembira. Para pelayan dan Bibi Yin yang daritadi menyiram dan menghiraukannya kaget, karena tumbuhan itu mengeluarkan bau yang sangat wangi dan berbuah. "Selamat kepada Tuan Putri" kata mereka serempak dan memberi hormat. "Bibi Yin dan kalian, tolong siapkan tungku obat dan beberapa tumbuhan yang ada disini" kata Putri Zetian antusias sambil mengambil buah itu. Putri Zetian kemudian bergegas ke kamar peracikan obat dan menuliskan beberapa tumbuhan yang diperlukan. Kemudian Bibi Yin dan para pelayan segera menyibukkan diri menyiapkan segala keperluan untuk Putri Zetian meracik obat. Setelah semua selesai Putri Zetian kemudian berpesan pada para pelayan dan Bibi Yin untuk tidak mengganggu beliau disaat sedang membuat obat. Mereka pun mematuhi perintah itu, kemudian melanjutkan pekerjaan masing-masing. Setelah beberapa hari terlewat dilangit banyak sekali petir saling bersaut-sautan, orang-orang yang melihat petir itu sangat takut karena tidak pernah melihat petir yang sedemikian hebatnya. Dan mereka melihat bayangan burung phoenix melintas memutari salah satu bangunan di Kerajaan Nanyi. Raja Li Zhi kaget akan fenomena itu, dia begitu terkejut melihat itu. "Apa yang dilakukan oleh Putri Zetian, hingga mendatangkan petir dan hawa burung phoenix datang ke paviliunnya?" kata Raja Li Zhi dalam hati. "Yang Mulia Raja, apakah Putri Zetian sedang membuat obat yang sangat berkualitas tinggi? Hingga menyebabkan keributan ini?" kata Perdana Menteri Wang. "Aku juga tidak tahu, Wang. Kita lihat saja seperti apakah yang terjadi nanti" jawab Raja Li Zhi. "Baik, Yang Mulia" kata Perdana Menteri Wang. Putra Mahkota dan Pengawal Lian yang melihat semua kejadian itu dari tempat persembunyiannya juga terkejut, mereka bertanya-tanya apa yang terjadi. Hingga mereka semua yang ada di kota dan di Istana dibuat semakin terkejut hawa burung phoenix itu menyatu dengan petir dan menukik tajam ke Paviliun Putri Zetian. Tiba - tiba langit kembali cerah seperti tidak terjadi apa-apa. "Yang Mulia, apakah yang dilakukan oleh Putri Zetian?" tanya Pengawal Lian pada Putra Mahkota. "Sepertinya dia membuat obat yang berkualitas sangat tinggi, Lian" jawab Putra Mahkota. "Apakah hamba perlu mendekat ke Paviliun Putri Zetian, Yang Mulia?" tanya Pengawal Lian. "Tidak perlu, Lian. Kita melihat ini semua sudah sangat bahagia dengan keberhasilannya" jawab Putra Mahkota. Terlihat Raja Li Zhi dan Perdana Menteri Wang mendatangi Paviliun Putri Zetian. "Yang Mulia Raja berkunjung" teriak pengawal. Bibi Yin dan para pelayan yang sudah diperintahkan Putri Zetian untuk tidak mengganggunya pun bergegas ke depan paviliun. "Hormat Hamba, Yang Mulia" kata mereka serempak. "Bibi Yin, apa yang dilakukan oleh Putri Zetian?" tanya Raja Li Zhi. "Hamba menjawab, Putri Zetian sedang meracik obat Yang Mulia. Dan sampai sekarang beliau belum keluar, kami tidak berani mengganggu beliau karena beliau berpesan untuk tidak mengganggu beliau selama beliau masih di dalam ruangan" jawab Bibi Yin. "Lancang sekali kamu Bibi Yin, Yang Mulia datang kemari kenapa kamu membiarkan Yang Mulia hanya berdiri diluar?" teriak Putri Yuanshun tiba-tiba. "Putri Yuanshun, apakah ibumu mengajarkanmu seperti ini?" bentak Raja Li Zhi. Putri Yuanshun kaget karena selama ini Raja Li Zhi tidak pernah membentaknya. "Ayahanda, maafkan kelancangan hamba. Hamba hanya ingin Putri Zetian menghormati Ayahanda" kata Putri Yuanshun. "Bibi Yin sudah menjelaskan masalahnya lalu mengapa kamu berani datang kesini tiba-tiba lalu berteriak?" bentak Raja Li Zhi. "Hormat Hamba pada Ayahanda" tiba-tiba dari paviliun Putri Zetian memberi hormat. "Putri Zetian, apakah kamu baik-baik saja anakku?" tanya Raja Li Zhi. "Hamba baik-baik saja Ayahanda" jawab Putri Zetian. "Ayahanda ingin kamu memberitahukan apa yang terjadi Putriku" kata Raja Li Zhi. "Silahkan masuk Ayahanda, aku akan menjelaskan semua. Dan untuk yang lain tolong menunggu diluar" perintah Putri Zetian sambil melirik ke arah Putri Yuanshun. Raja Li Zhi masuk ke dalam paviliun Putri Zetian, Putri Zetian menutup pintu paviliun dan para pelayan serta Bibi Yin seketika menjaga pintu itu. "Silahkan duduk ayahanda" kata Putri Zetian. "Putriku, apa yang membuat petir dan hawa burung phoenix datang ke paviliunmu anakku?" tanya Raja Li Zhi. Putri Zetian tersenyum lalu menunjukkan 3 butir pil obat dari sakunya. Raja Li Zhi terkejut melihat pil obat itu berlapiskan keemasan dan mempunyai corak gambar burung phoenix. "Inilah yang membuat petir dan hawa burung phoenix datang, Ayahanda" jawab Putri Zetian sembari memasukkan satu pil obat ke dalam pot kecil. Setelahnya dia memberikan pot itu ke Raja Li Zhi. "Ini untuk Ayahanda" kata Putri Zetian. "Ayahanda tidak memerlukan ini Putriku" jawab Raja Li Zhi. "Hamba hanya ingin menjadi anak yang berbakti pada Ayahanda. Pil ini sebagai rasa terima kasih Hamba pada Ayahanda. Dengan pil ini maka kultivasi Ayahanda akan meningkat dan membuat racun atau apapun yang ada ditubuh Ayahanda keluar. Dan Ayahanda pun akan kebal terhadap racun apapun" kata Putri Zetian. Raja Li Zhi meneteskan airmata, beliau teringat Istrinya dulu. Dia melihat Putri Zetian bijaksana dan sangat menyayanginya seperti Ratu Huawen dulu. Raja Li Zhi sangat senang mempunyai Putri yang berbakti seperti Putri Zetian. "Terima kasih Putriku, Ayahanda akan meminum pil ini untuk menghormati pemberianmu" kata Raja Li Zhi. Raja Li Zhi kemudian pamit untuk kembali ke Istana Utama dan melarang siapa saja mengganggu Putri Zetian untuk beberapa hari ke depan. Putri Yuanshun nampak sangat kesal dengan perintah Raja Li Zhi. Dia tidak bisa mengganggu Putri Zetian saat ini. "Putra Mahkota, apa yang harus hamba lakukan?" tanya Pengawal Lian dari kejauhan. "Lian, kamu tunggulah disini. Aku akan menyelinap ke Paviliun Putri Zetian" jawab Putra Mahkota. Putra Mahkota melompat dari pohon ke pohon dan kemudian mendarat di halaman Paviliun Putri Zetian. Tiba-tiba pintu paviliun terbuka dan dari dalam Putri Zetian menyambut dengan senyuman terindahnya. Putra Mahkota menatap Putri Zetian tanpa berkedip, dia terpesona dengan senyuman Putri Zetian. "Apakah Yang Mulia akan berdiri saja di halaman?" tanya Putri Zetian dengan tiba-tiba. "Ehh.. Ya ya aku akan masuk ke dalam Putri" jawab Putra Mahkota tergagap. Putri Zetian tertawa kecil, dia tahu selama ini Putra Mahkota mengawasinya dari kejauhan. Dan pasti Putra Mahkota datang untuk menanyakan hal yang sama seperti Ayahanda nya. "Silahkan duduk, Yang Mulia. Bibi Yin, siapkan air minum untuk Yang Mulia" perintah Putri Zetian. Bibi Yin kemudian segera menyediakan air minum untuk Putra Mahkota. "Yang Mulia, silahkan diminum" kata Bibi Yin. "Terima Kasih, Bibi Yin" jawab Putra Mahkota. "Ada apa Yang Mulia tiba - tiba datang kemari?" tanya Putri Zetian. "Aku hanya ingin melihatmu saja, Putri. Dan ingin menanyakan tentang Petir dan hawa burung Phoenix" jawab Putra Mahkota. "Minumlah pil obat ini, Yang Mulia" kata Putri Zetian. Putra Mahkota terkejut dengan corak dari pil obat itu. "Putri, apakah pil obat ini yang mendatangkan Petir dan hawa burung phoenix itu?" tanya Putra Mahkota. "Betul, Yang Mulia. Ini pil obat hanya ada 3 butir, satu untuk Ayahanda satu untuk Putra Mahkota dan satu untukku. Pil ini bisa membuat kultivasi Putra Mahkota menjadi bertambah kuat, dan juga pil ini membuang racun yang terdapat di tubuh Putra Mahkota serta membuat tubuh Putra Mahkota kebal terhadap racun apapun" terang Putri Zetian. Putra Mahkota semakin kagum akan kepintaran tentang obat dari Putri Zetian. Dia merasa beruntung memiliki calon permaisuri sepertinya. "Yang Mulia, sebaiknya Yang Mulia segera meninggalkan Paviliun Hamba. Karena banyak sekali mata-mata dari Putri Yuanshun" kata Putri Zetian. Putra Mahkota paham akan hal itu, lalu beliau pun pamit untuk segera pergi. Seperti halnya dia datang itulah dia juga pergi. Putri Zetian tersenyum sambil menggelengkan kepala, dia melihat perhatian Putra Mahkota dengan tulus.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD