Putri Zetian terkejut, air itu mengandung racun. Racun itu tidak menyerang langsung, akan tetapi menyerang dengan perlahan. Gejala dari racun itu adalah sakit yang luar biasa di lambungnya.
"Bibi Yin, tolong carikan Jenderal Zhennan. Minta untuk kemari, dan berpesan padanya untuk membawa beberapa pengawal. Akan tetapi perintahkan mereka untuk menyamar sebagai rakyat biasa" perintah Putri Zetian sambil berbisik.
"Baik Nona" jawab Bibi Yin kemudian berlari keluar perkampungan.
Putri Zetian kemudian mendatangi setiap rumah diperkampungan itu, dia memerintahkan semua untuk membersihkan tubuh anak-anak yang sakit dengan air hangat sampai bersih. Dia berkeliling kampung itu tanpa mengenal lelah.
Bibi Yin tiba diperkampungan itu kembali dengan Jenderal Zhennan. Jenderal itu kaget melihat sang Putri berjalan kesana kemari mengunjungi rumah-rumah rakyatnya dengan tanpa lelah.
"Nona memanggil hamba?" kata Jenderal Zhennan.
"Jenderal, tolong hancurkan sumur itu. Timbun sumur itu, lalu buatkan sumur baru buat mereka sekarang. Lalu Bibi Yin, tolong buatkan masakan bubur ikan dan sayuran dengan para ibu disini" perintah Putri Zetian sembari berbisik.
"Baik Nona" sahut Jenderal Zhennan dan Bibi Yin bersamaan.
Jenderal Zhennan bersama para pengawal dan rakyat di perkampungan itu bergotong royong menimbun sumur lama dan membuat sumur yang baru. Dari kejauhan terlihat dua orang mengawasi kegiatan diperkampungan kumuh itu.
"Putri Zetian memang pantas kalau menjadi calon permaisuri Yang Mulia" kata Pengawal Lian.
Ternyata mereka adalah Putra Mahkota dan Pengawal Lian. Senyum tersungging disudut bibir Putra Mahkota.
"Memang Ayahanda tidak salah memilihkan Calon Permaisuri untukku" jawab Putra Mahkota.
"Apa perlu kita memberikan bantuan kepada mereka Yang Mulia?" tanya Pengawal Lian.
"Bawakan mereka air bersih, jangan sampai mereka tahu kalau itu adalah bantuan dariku" perintah Putra Mahkota.
"Hamba laksanakan, Yang Mulia" jawab Pengawal Lian lalu pergi melesat menjalankan perintah itu.
Putra Mahkota melanjutkan menikmati pemandangan yang dari tadi dia lihat, Putri Zetian yang sedang membantu rakyat miskin dengan tulus sangat membuat hati Putra Mahkota menjadi semakin menyukainya.
Putri Zetian mengobati satu persatu anak-anak dan orang dewasa yang terkena gejala sakit itu. Dia menyuapi bubur lalu memberikan obat herbal pada mereka. Oleh Putri Zetian mereka diletakkan dalam 1 rumah agar lebih cepat menanganinya. Putri Zetian berpesan pada rakyat disana untuk merawat dengan baik anak-anak dan orang tua yang sedang sakit. Dia mengatakan untuk jangan lupa memberi obat, dia berjanji akan selalu datang setiap hari untuk memeriksa mereka.
Setelah beberapa hari, atas usaha Putri Zetian dan para rakyat serta para pengawal. Mereka sembuh dengan cepat, para rakyat di perkampungan itu sangat bahagia. Akan tetapi mereka belum mengetahui identitas sebenarnya akan Putri Zetian. Putri Zetian merasa bahagia, dia sudah memberikan senyum yang tulus mengembang disudut bibir rakyatnya itu.
Putri Zetian berpesan untuk selalu menjaga perkampungan itu agar selalu bersih dan tidak kumuh lagi, rakyat berjanji untuk selalu menjaga lingkungannya dengan baik. Putri Zetian juga mengajarkan bercocok tanam sayuran dan obat-obatan herbal kepada para rakyat diperkampungan itu. Putri Zetian berjanji akan selalu rutin mengunjungi mereka, mereka sangat bahagia memiliki seseorang seperti Putri Zetian.
Putri Zetian telah kembali ke paviliunnya, dia lalu membersihkan diri kemudian melihat beberapa sayuran dan tanaman herbal yang sudah mulai bisa dipanen. Bibi Yin sangat menyayangi Putri Zetian, kebanggaannya semakin menjadi ketika melihat dengan kepala mata sendiri kebaikan dan ketulusan Putri Zetian terhadap rakyatnya.
Putri Zetian pergi menghadap Raja Li Zhi di Aula Utama untuk memberi hormat baktinya.
"Putri Wu Zetian datang menghadap" teriak pengawal diluar Aula.
"Masuklah" jawab Raja Li Zhi.
"Hormat Hamba pada Yang Mulia" kata Putri Zetian.
"Ada apa Putriku?" tanya sang Ayah.
"Ayah, hamba memohon ijin untuk pergi keluar dari paviliun dan menjalani hidup menjadi rakyat biasa" jawab Putri Zetian.
Raja Li Zhi kaget mendengar permintaan sang Putri.
"Apakah ada yang menganggumu di Istana Putriku?" tanya Raja Li Zhi.
"Tidak ada Ayah, hanya saja hamba ingin mengabdikan diri menjadi Tabib diluar sana. Hamba ingin menyembuhkan para rakyat yang tidak mampu berobat, Ayah" jawab Putri Zetian.
Raja Li Zhi memang sudah mendengar Putri Zetian membantu dan mengobati para rakyat miskin diperkampungan kumuh dari Jenderal Zhennan. Dia bangga karena Putrinya sudah memberikan pelayanan yang terbaik untuk rakyatnya. Raja Li Zhi sangat senang karena Putri Zetian mengambil hati rakyatnya dengan caranya sendiri.
"Putriku, Ayahanda memahami seperti apa pedulimu terhadap rakyat miskin. Akan tetapi perlu kamu ingat, bahwa kamu sebentar lagi akan menjadi calon permaisuri dari Putra Mahkota." kata Raja Li Zhi.
Putri Zetian terdiam, dia lupa bahwa sebentar lagi dia akan menikah dengan Putra Mahkota. Seketika hatinya sedikit sedih, karena para rakyat tidak akan bisa menerima bantuannya lagi. Karena dia tahu menjadi seorang permaisuri akan sangat menyita waktunya kelak.
"Maafkan Ayahandamu ini Putriku" lanjut Sang Raja.
"Hamba memohon ampun Ayahanda. Hamba lupa bahwa sebentar lagi hamba sudah terbatasi untuk melangkah" jawab Putri Zetian.
"Kata siapa Permaisuriku tidak boleh mencurahkan tenaga nya untuk para rakyat?" tiba-tiba Putra Mahkota datang menyela.
"Hormat Hamba Yang Mulia" kata Putri Zetian.
"Yang Mulia silahkan duduk, maafkan Hamba tidak menyambut dengan baik kedatangan Yang Mulia Putra Mahkota" sahut Raja Li Zhi.
"Jangan permasalahkan hal itu Putri Zetian, justru aku akan semakin bangga memiliki Permaisuri yang merawat rakyatnya dengan tangannya sendiri" kata Putra Mahkota.
"Hamba ucapkan terima kasih Yang Mulia" jawab Putri Zetian.
Dia merasa lega karena keinginannya akan segera terlaksana. Putra Mahkota menjanjikan bahwa dia akan membuat klinik Istana khusus untuk rakyat yang tidak mampu kelak kalau mereka sudah menikah.
Putra Mahkota bahagia melihat senyum merekah dibibir Putri Zetian.
Tanpa disadari oleh mereka, ada seseorang mengintip sambil mengepalkan jarinya erat.
"Wu Zetian, aku tidak akan pernah rela hidupmu bahagia. Kamu harus merasakan penderitaan seperti apa yang aku rasakan sekarang" kata si pengintip yang ternyata adalah Wu Yuanshun.