Bagian 3

1060 Words
Bibi Yin membersihkan halaman tempat tinggak kami sekarang ini, dan aku menanam semua tanaman herbal yang sudah kami beli kemarin. Tanaman itu seperti sangat langka dikehidupan ini. Bibi Yin terlihat cerah dan lebih gesit dari yang sebelumnya. Dia mengatakan tubuhnya seperti kembali muda, terasa segar dan terasa lebih ringan. Tiba-tiba ada utusan dari Rumah Utama. "Hamba Pengawal Kerajaan Qi Peng meminta ijin untuk bertemu" teriak pengawal itu. "Masuklah" jawabku. Pengawal itu terkejut melihat penampilanku yang mungkin sudah melewati batas kewajaran, aku terlihat lusuh baju ku kotor dimana - mana. Dan keringat membanjiri tubuhku, sehingga terlihat gemerlap dikulitku. "Hamba Qi Peng menghadap ke Nona Muda. Hamba diperintah Paduka Raja untuk membawa Nona pulang ke Rumah Utama" kata pengawal itu. "Apakah Paduka Raja tidak tahu aku mendapatkan penyakit yang menular?" sahutku. "Maafkan Hamba Nona, hamba hanya diperintah untuk membawa Nona pulang kembali segera" jawab pengawal itu. "Baiklah tunggu sebentar aku akan bersiap diri" jawabku. Bibi Yin segera mempersiapkan semua barang yang aku butuhkan dan mempersiapkan diriku untuk pulang ke Rumah Utama. Dan tanaman herbal yang sudah aku tanam juga sudah dipersiapkan untuk dibawa. "Aku sudah siap, mari kita pergi sekarang" kataku. "Mari Nona kita berangkat" jawab pengawal itu. Dan kami pun berangkat beriringan dengan gerobak untuk menuju ke Rumah Utama. Di jalan aku mencium beberapa bau herbal, dan kami pun berhenti disaat aku memerintahkan berhenti dan mengambil beberapa herbal yang aku perintahkan untuk diambil. Setelah kami sampai di Rumah Utama, kami menghadap ke Kediaman Raja Nanyi. "Hormat pada Yang Mulia Raja" kataku sambil membungkuk. "Bagaimana keadaanmu anakku?" jawab sang Raja. "Hamba dalam keadaan baik Ayahanda" jawabku. "Aku mendengar kamu menderita sakit menular, karena itu aku memerintahkanmu pulang untuk upacara pembatalan pernikahanmu dengan Putra Mahkota" sahut Ayahanda. Aku terkejut dengan perkataan ayahanda, aku kira dia akan membelaku dan mencarikan aku tabib atau dokter untuk memeriksa penyakitku. Ternyata hanya memerintahkan aku pulang untuk membatalkan pernikahanku dengan Putra Mahkota. "Baik Ayahanda, Ananda pamit undur diri" jawabku. "Kembalilah dan segera beristirahat" jawab Ayahanda. Aku lalu meninggalkan Ruang Utama di rumah ini. Aku cepat-cepat pergi menuju ke Paviliun tempatku tinggal di Rumah Utama. Aku mulai membersihkan paviliun ini dengan Bibi Yin dan seorang pelayan yang masih muda. Aku melihat dia seperti ketakutan berada di dekatku, dan aku melanjutkan kegiatanku bercocok tanam tanaman herbal. "Selir Kerajaan datang berkunjung" teriak pengawal di depan paviliun. Kami pun menyambut kedatangannya walau dalam hati amarah meledak - ledak. "Selamat datang Selir" kami membungkuk hormat menyambut kedatangannya. "Bagaimana kabarmu Putri Tian?" tanya nya sinis. "Hamba baik-baik saja Selir" sahutku. "Bagaimana dengan penyakitmu? Apakah sudah membaik?" sahutnya melihat tajam ke arahku. "Hamba masih terasa kesakitan Selir" bohongku. "Beristirahatlah, besok akan diadakan upacara untuk pembatalan pernikahanmu" katanya sembari tertawa kecil. "Terima Kasih atas perhatian Selir" jawabku menahan amarah. Lalu Selir itu meninggalkan paviliun, Bibi Yin menghampiriku. "Nona, jangan dengarkan perkataannya. Mari kita lanjutkan pekerjaan kita" kata Bibi Yin. "Ayo lanjutkan lagi" jawabku dengaan menahan amarah yang sangat besar. Malam hari pun tiba, aku memakai baju serba hitam dan memberi pesan untuk Bibi Yin bahwa aku akan pergi keluar mencari herbal di Hutan seberang. Bibi berpesan padaku untuk berhati - hati karena banyak sekali binatang buas ada di hutan itu. Di dalam hutan sangatlah gelap, aku menyalakan obor untuk mencari beberapa herbal yang aku butuhkan untuk aku tanam di dalam paviliunku. Tiba-tiba aku dikejutkan dengan pedang yang sudah hinggap di leherku. "Siapa kamu? Apa yang sedang kamu lakukan di tengah hutan ini?" tanya nya. Aku menoleh dengan ketakutan, aku pikir akan mati ditangan perampok yang ada dihutan ini. "Hamba seorang biasa tuan, hamba sedang mencari beberapa herbal untuk pengobatan" jawabku bergetar. "Apakah kamu bisa menyembuhkan penyakit?" tanya nya kembali. "Iya hamba bisa menyembuhkan beberapa penyakit Tuan" jawabku sambil menahan rasa takut. "Ikut aku!" perintahnya. Aku mengikutinya dalam kegelapan dan didalam hutan aku melihat seseorang pucat pasi seperti banyak kehilangan darah. Lengannya mengucur deras darah segar, aku tidak tahu siapa dia tapi yang jelas dia sedang menahan rasa sakit. "Tolong periksa beliau" perintah orang itu. "Baik Tuan" jawabku lagi. Aku lalu bergegas memeriksa lelaki itu, aku menelisik beberapa luka ditubuhnya. Aku meminta air hangat ke orang yang memerintahku untuk memeriksa lelaki ini. Aku membuka bajunya dan membersihkah darah yang mengalir dan sedikit mengering. Aku memeriksa nadi nya dan mendapati nadinya begitu lemah. Aku melihat wajahnya pucat pasi, aku melihat luka nya seperti terkena racun. Aku lalu melihat beberapa herbal yang ada di dalam keranjangku, aku lalu menggerusnya dan meletakkannya di atas luka itu lalu mengikatnya dengan kain bersih. Sekilas aku melihat dari ekor mataku, dia melihatku dengan seksama dan menelitiku dari atas sampai bawah. "Apakah ada yang aneh dariku Tuan?" tanyaku padanya. "Hei, kamu jangan lancang" teriak orang tadi. "Stop jangan meneriakinya Lian" sahut orang itu. "Maafkan hamba Yang Mulia" jawab Lian. Aku terkejut dengan pernyataan Lian, aku pikir dia orang biasa. Ternyata dia adalah seorang bangsawan. "Maafkan hamba yang sudah lancang Tuan" kataku sedikit ketakutan. "Tidak apa-apa, tidak usah merasa takut. Justru aku akan berterima kasih karena kamu sudah mengobatiku Nona" jawabnya. "Nama hamba Wu Zetian. Panggil saja nama hamba Tian, Tuan" jawabku. "Wu Zetian? Apakah kamu Putri dari Kerajaan Nanyi?" tanya nya lagi. "Benar Tuan, maafkan hamba. Hamba menyela, hamba akan pergi mencari herbal untuk Tuan" sembari aku pamit dan mencari herbal untuk memacu darahnya lagi. Setelah aku mendapatkan herbalnya aku segera kembali dan menyeduhnya dengan air untuk segera diminum. "Mohon segera diminum Tuan, obat ini untuk menambah darah Tuan. Karena Tuan banyak sekali kehilangan darah" kataku sambil menyerahkan obat ke lelaki itu. Setelah dia meminumnya, aku segera memeriksa nadi lelaki itu. Aku menunggu beberapa saat, dan memeriksa lagi nadinya dan memeriksa wajah serta meletakkan tanganku ke dahinya. Aku merasa lega karena darahnya sudah mengalir lagi. Aku lalu berpamitan untuk segera kembali mencari tanaman herbal lagi lalu pulang ke rumah. "Nona, aku tidak bisa memberikan apa-apa. Hanya bisa memberikan giok ini untukmu. Bawalah selalu giok ini kemanapun kamu pergi, aku akan merasa tenang" kata lelaki itu. "Terima kasih Tuan, hamba akan selalu memakainya. Hamba mengucapkan terima kasih" jawabku pada laki - laki itu. "Tuan Lian, tolong seduh obat herbal ini untuk diminum oleh Yang Mulia. Seduhlah setiap 30 menit sekali, sampai beliau merasa segar dan darah kembali normal" pesanku ke Tuan Lian. "Terima Kasih Nona Tian, kami akan menjaga beliau dengan baik" jawabnya. Dan aku melanjutkan lagi mencari beberapa herbal, lalu pulang ke paviliun. Sesampainya di paviliun aku mengganti bajuku lalu beranjak tidur.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD