Revan duduk di samping Kylla di atas rumput. Angin danau berembus pelan, membawa aroma air yang tenang, berbanding terbalik dengan gelisah di d**a laki-laki itu. “Ky…” Revan membuka suara pelan. “Ada hal yang harus Kakak ceritakan. Tentang hutang itu.” Kylla menoleh, menatap wajah kakaknya yang terlihat semakin murung. “Ceritakan, Kak. Aku dengar.” Revan menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan. “Hutang itu… bukan cuma karena Kakak ceroboh. Itu keputusan Kakak, Ayah, dan satu kakak kita yang lain.” Kylla terdiam. “Kami ingin bikin anak perusahaan baru,” lanjut Revan. “Perusahaan itu rencananya mau kami atasnamakan kamu, Ky. Tabungan dalam bentuk usaha. Supaya nanti, kalau kamu dewasa… kamu punya pegangan hidup. Nggak perlu bergantung sama siapa pun.” Mata Kylla membesa

