“Apa yang kamu pikirkan?” Pertanyaan yang mama lontarkan membuatku menggigit ujung bibirku. Masih bingung dengan apa yang sebenarnya ada dalam pikiranku. Haruskah aku memberitahu mama perihal kegalauanku ataukah memendamnya sendiri? Hal ini bukan masalahku sendirian, melainkan juga Alfian. Seharusnya aku dan Alfia memang membicarakan hal ini. Tapi... bisakah setidaknya aku meminta nasehat mama perihal masalah ini. “kamu belum siap punya anak?” tanya mama menyadari raut wajahku berubah saat menyangkut masalah anak seperti yang mama lontarkan tadi. “Nggak tahu.” Dua kata itu keluar begitu saja dari mulutku, jujur aky tak mengerti dengan diriku sendiri. Di satu sisi, aku begitu menggebu saat membayangkan ada bayi lucu di antara aku dan Alfian yang membuat pernikahan kami menjadi lengkap

