“Fi...” “Fi... Bangun.” “Alfian Abiyaksa, bangun. Sudah pagi ini...” Senyum Alfian perlahan terulas saat mendengar suara Rani yang menyapa pendengarannya. Matanya yang terpejam sayup terbuka. Hal yang pertama dia lihat bukanlah Rani seperti yang dia harapkan, melainkan ruangan kosong yang hanya ada dirinya di sana, tanpa ada orang lain. Sama seperti dirinya yang hanya bisa duduk terpaku dengan kenangan-kenangan tentang Rani yang terus berpendar di kepalanya. 6 bulan. Iya, selama enam bulan dia merasakan indahnya pernikahan dengan Rani. Terus mendengarkan celotehan ringan yang Rani keluarkan seolah melepaskan beban pekerjaan yang terus memenuhi pikirannya. Celetukan ringan yang Rani keluarkan, Kata-kata bernada gurau namun bijak yang terkadang membuatnya lupa bahwa Rani hanyalah gadi

