“Baiklahh, Ryan! Sekarang silakan kau pergi!” Perintah Karin dengan suara lemah. Ryan mengangguk, tetapi ia bukannya langsung pergi, melainkan menundukkan wajahnya untuk memberikan ciuman singkat di bibir Karin. “Cepatlah sembuh, jangan buat dirimu begitu menyedihkan! Aku tidak mau melawan wanita yang lemah!” Ryan kemudian, keluar dari kamar rawat Karin. Begitu terdengar suara pintu kamarnya ditutup, air mata Karin langsung saja mengalir tanpa dapat ditahannya lagi. Dalam hatinya ia merasa sakit, mengapa Ryan berkata seperti itu. Haruskah mereka berdua menjadi musuh, padahal hanya akan menambahkan luka untuk mereka berdua saja. Memang benar apa yang dikatakan oleh Ryan, kalau dirinya harus sembuh dan kuat, biar ia bisa membantu Ibunya. Perlahan mata Karin terpejam dengan sedu sedan,

