Mimpi atau Nyata?

1017 Words
Tubuh Eda melayang di antara rerumputan hijau dan butiran salju yang mulai berjatuhan, ia tak jatuh ke tanah, hanya diam di antara dingin udara Spanyol yang mulai menusuk tulang. Terasa begitu menusuk bagai ribuan jarum yang ditancapkan ke sekujur tubuh Eda. Wanita berambut merah itu memandang kedua tangannya, lalu ia terjatuh di ranjang sendiri dan kembali membuka mata. Mengapa begitu cepat dimensi berubah, seperti ada yang mengatur kehidupan Eda. “Qué estoy soñando?” Eda beranjak menuju meja kerjanya. Merapikan artefak dan lembaran kulit binatang yang berserakan di dalam kamar. Mengemas semuanya ke dalam satu koper walau asal-asalan. Sahabat karib Anggun itu melihat laptopnya yang masih menyala. Di sana tertulis balasan dari Tuan Jepang bahwa kedatangannya sangat ditunggu demi membawa benda yang dicari oleh leluhur mereka turun temurun. Beberapa ribu dolar tambahan pun akan diberikan secara kas tanpa ragu sama sekali. Wanita berambut merah itu bercermin di sebuah kaca besar. Ia melihat jejak salju di bajunya sendiri. Seketika Eda mengingat mimpi yang begitu terasa nyata baginya. Sesekali ia melihat sosok bertudung hitam yang seolah-olah muncul dari sudut kamarnya. Sosok yang tak pandang bulu, baik anak kecil atau orang tua akan dikorbankan demi kebangkitan tuan mereka. Bergegas wanita berdarah separuh Spanyol itu mengabaikan penglihatannya. Ia lanjut mengemas semua piring makannya dan memanggil lelaki penjaga losmen berkali-kali. Tidak juga ada jawaban, Eda memutuskan membawa semua peralatan makannya ke bawah sendirian. Namun, ketika sampai di pintu dapur, wanita itu benar-benar terkejut. Tubuh lelaki penjaga losmen itu memang tergantung di sana persis sama dalam mimpinya, lengkap dengan simbol sekte sesat yang sedang ia cari jawabannya. Terjatuh piring di tangan Eda. Hal demikian berarti bahwa ia pun sedang berada dalam incaran makhluk buas lainnya. “Noh,” ujarnya lagi sembari mengegelang. Dengan cepat Eda berlari ke kamarnya kembali. Ia mengemas semua pakaian dan perlengkapannya dalam beberapa tas besar. Kemudian wanita berlari turun ke garasi, lalu membuka mobil itu dan menghidupkan jeepnya, bermaksud secepatnya menuju bandara. Ia harus kembali ke Indonesia. Persetan dengan mayat penjaga losmen yang telah menghitam dan berkerut. Wanita itu tak mau lagi terlibat dengan pihak kepolisian setempat, sebab ia telah mendapat teguran berulang kali. Bisa-bisa ia tak kembali ke Indonesia dan mati konyol di Spanyol. Beberapa jam mengendarai jeep membelah malam yang terasa dingin di tengah hujan salju, Eda mulai merasakan sensasi yang aneh pada tenggorokannya. Wanita itu menepi sebentar, ia menarik spion mobilnya, terdapat gambar ular hitam kecil meliuk di lehernya, sama dengan tanda-tanda pada tubuh korban yang melakukan bunuh diri di Jepang dan Spanyol pada ratusan tahun yang lalu. Kembali tanda itu memberikan rasa gatal, bahkan Eda muntah sebentar, makanan yang ia santap tadi keluar tanpa sisa. Membuat perut Eda perih sampai air yang terasa pahit pun tak luput mendesak keluar dari perutnya. Eda melanjutkan kembali laju mobi meski tubuhnya terasa sangat lemah, sebab ia tengah bekejaran antara hidup dan mati. Hingga tanpa ia sadari sosok bertudung hitam itu telah duduk di samping kemudinya, sembari menemaninya agar tak kesepian. Berkali-kali musik di mobilnya hidup mati tanpa Eda sentuh. Namun, wanita berambut merah itu mengabaikannya dan terus saja menyetir hingga sampai di bandara Spanyol. Berpura-pura tak tahu kadang lebih baik daripada dianggap pintar dalam situgasi genting begini. Sebab, tak jarang yang pintar mati terlebih dahulu. Sahabat karib Anggun itu sudah sampai di bandara, ia memesan tiket, kembali mengisi perut sambil menunggu waktu keberangkatan. Sosok bertudung hitam itu menghilang dan akan memberikan wanita Spanyol itu waktu untuk bersantai sejenak. Eda duduk di dekat jendela pesawat, ia mengambil penerbangan ke Indonesia secepat yang bisa ia dapatkan meski harus menempuh waktu lebih dari belasan jam. “Senorita, quieres una bebida?” tanya seorang pramugari pada Eda. Wanita berambut merah itu menoleh, tetapi yang ia lihat hanyalah sosok bertudung hitam yang tengah menatapnya. Ia menggeleng berkali-kali, berusaha meyakinkan diri sendiri bahwa Eda sedang berhalusinasi. “Sueño o realidad?” Ketika Eda mengedipkan matanya sekali lagi, terlihat jelas wajah pramugari sedang menawarkan segelas kopi hangat padanya. Beberapa waktu di atas pesawat, perlahan-lahan Eda mengantuk, saat ia hendak memejamkan mata, Eda merasakan teman di sebelahnya bukanlah manusia biasa, melainkan sosok yang mengikutinya terus-menerus. Wanita itu ingin berpaling, tetapi makhluk di sebelahnya memaksa Eda untuk tak bergerak. Selama beberapa saat beradu pandang dengan bola mata yang begitu hitam kelam, Eda dipaksa masuk pada kejadian menyeramkan di Spanyol 100 tahun lalu. Ketika para suster telah dinyatakan mati di seutas tali, dan pihak berwenang telah mengemas tubuh kasar mereka. Dalam keheningan malam dan tanpa ada seorang pun yang tahu, sosok hitam itu mencuri semua mayat dan membawanya ke bawah tanah tempat rekan-rekan Eda meregang nyawa. Belasan mayat itu tubuhnya berkerut dan menghitam ketika salah satu sosok hitam lainnya telah bangkit berkat pengobanan orang yang suka rela membangkitkan mereka, orang yang selama hidup telah dianggap sangat baik oleh para suster. Netra merah Eda berkedip cepat dan mengalirkan air mata, ia tak sanggup melihat kebangkitan sekte sesat yang telah menewaskan banyak orang tak berdosa. Jemari wanita itu saling menggenggam satu sama lain, ia mengingat dengan baik dengan semua lambang yang dikirim Anggun padanya, juga termasuk tanda yang warna hitamnya semakin kelam di leher Eda. “Estoy bien.” Eda meyakinkan dirinya sendiri, ia kembali tertidur setelah meyakinkan tak ada lagi sosok hitam di sebelahnya. *** Anggun menepikan mobil di basement apartementnya. Ia berlari cepat lalu masuk ke dalam lift, tak banyak waktu yang tersisa, sebab rencana makan malamnya bersama Ryu. Tak ketinggalan pula sosok gadis yang ia bedah tubuhnya mengikuti langkah Anggun setiap saat. Sampai di dalam apartement, ia masuk ke dalam kamar mandi, gegas Anggun menghidupkan shower. Wanita cantik itu mandi tanpa merasa ada keanehan sama sekali, hingga ia menutupi dirinya dengan handuk putih. Saat ingin ke luar, pintu kamar mandinya terkunci, berkali-kali Anggun coba membukanya, tetapi tak ada hasil. Showernya kembali mengalirkan air, Anggun mencoba mematikannya tapi tak bisa, ditambah dengan tidak turunnya air dari saluran pembuangan dan air itu kini telah sampai setinggi lututnya. Anggun mencoba menghancurkan pintu kamar mandi dan hasilnya sama saja, tidak ada yang berubah. Tubuhnya bahkan telah melayang di air kamar mandi yang telah melewati tinggi badannya. Anggun sesak napas, di hadapannya kini terlihat arwah gadis yang rambutnya melayang di dalam air.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD