*** Diminta turun oleh Sean, Isyana pasrah. Tidak melakukan perlawanan sama sekali, dia lekas membuka pintu tanpa melontarkan banyak kalimat. Tidak ada adegan membujuk atau berdebat di dekat mobil, selanjutnya mobil Sean melaju begitu saja—meninggalkan Isyana yang kini berdiri seorang diri di pinggir jalan. Tidak membawa belanjaan, yang dia tenteng saat turun hanyalah tas kecil berisi dompet juga ponsel. Tak melakukan apa-apa sepeninggalnya Sean, dia masih berdiri di tempatnya sambil memandangi mobil sang suami yang semakin jauh berlalu. Sadar akan kesalahannya, Isyana cukup mengerti amarah Sean. Namun, meskipun begitu hatinya tetap terasa sakit karena momen seperti ini membuat dia sadar jika selain Paramitha, dirinya tidak punya siapa pun untuk berlindung atau bersandar. “Kalau bukan

