Aku melihat Erick membuka dasinya di kamar kami. Ia terlihat lelah akhir-akhir ini. Pekerjaannya seakan tidak pernah habis. Ia pernah berkata padaku bahwa ia ingin membuka cabang baru di kota besar lain. Dan untuk membuat keinginannya terwujud ia akan lebih banyak berada di luar rumah atau di kantornya. "Tadi siang Arleta datang ke sini," kataku. Ternyata ucapanku sukses membuatnya menghentikan aktifitas membuka kemejanya. "Apa? Untuk apa ia datang ke sini?" Aku dapat melihat kernyitan di dahinya dari tempatku yang sedang duduk di pinggir ranjang kami. "Entahlah. Ia hanya berkata ingin berteman denganku." Aku mengangkat kedua bahuku. Aku telah memutuskan untuk tidak memberitahu detailnya kepada Erick. Erick terdiam sejenak. Aku tidak tahu apa yang ada dipikirannya saat ini. Mungkin

