Part 9

1072 Words
"Andre, nanti siang tante jemput kamu ya. Jangan menyusahkan bu guru ya." Sekarang kami berada di depan sekolah Andre. Tidak terasa sudah sebulan Andre telah tinggal bersama aku dan Erick. Kami telah memutuskan untuk menyekolahkan Andre karena kurasa dia sudah cukup umur untuk masuk sekolah dasar. Tapi karena sepertinya Andre belum pernah menginjak bangku sekolah. Maka aku memutuskan memanggil guru private untuk mengajarinya membaca, menulis dan berhitung sebelum memasukkan Andre ke sekolah dasar. Untunglah Andre anak yang pintar sehingga dalam hitungan minggu ia mampu menguasai semuanya. Sehingga di sinilah kami sekarang. Aku berjongkok agar tinggi kami sama dan menatap Andre yang walaupun masih kecil tapi garis-garis ketampanan di wajahnya warisan dari Erick sudah mulai tampak di wajahnya yang polos. Aku membenarkan posisi ranselnya dan menciumnya di kening. Senyum indah tercetak manis di bibirnya. "Andre pergi dulu tante." Andre pun menghampiri bu guru yang sejak tadi berdiri tak jauh dari kami. Aku melambaikan tanganku yang di balas oleh Andre ketika ia menoleh kembali ke arahku. Setelah memastikan Andre telah masuk ke dalam kelasnya aku bangkit dari posisiku dan masuk ke dalam mobil. Hari ini aku memutuskan untuk meminta Pak Dono, sopir pribadi Erick, untuk mengantarku. Erick pagi-pagi sekali sudah berangkat kerja. Ia mempercayakan Andre sepenuhnya kepadaku. Setiba di dalam mobil, aku meminta Pak Dono untung mengantarkanku ke kantor Erick. Aku ingin memberitahukan ayah mengenai keberadaan Andre dan aku akan membicarakan hal ini dengan Erick. "Pak, tolong antarkan saya ke kantor suami saya saja," pintaku. "Baik neng." Pak Dono langsung menjalankan mobil. ****** Setiba di supermarket milik Erick, aku langsung menuju ruangannya. Santi asisten Erick memberikanku sebuah senyuman dan berkata, "Bapak Erick sedang ada tamu bu." Kira-kira siapa tamunya ya mungkin salah satu rekan kerjanya, pikirku dalam hati. "Kalau begitu saya menunggu saja di sini." Santi menganggukan kepalanya dan mempersilahkan aku duduk di sebuah sofa kulit yang berada di ruang tunggu, masih berada di depan ruangan Erick. Kira-kira lima belas menit kemudian, seorang wanita cantik mengenakan dress motif berwarna merah berikut high heels dua belas sentimeter keluar dari ruangan Erick. Aku melihat Erick sempat memasang ekspresi terkejut tapi dengan cepat dia mengubah ekspresinya kembali datar. Sekilas wanita itu menghentikan langkahnya lalu menatapku menilai. Wajahnya begitu cantik, ciptaan Tuhan yang sempurna. Rahang yang kecil, bibir tipis, dan hidung yang tidak mancung tapi enak untuk dipandang. Setelah puas menatapku wanita itu langsung melanjutkan langkahnya. "Riri." Panggilan Erick membuatku menoleh menghadapnya. "Tumben kamu ke sini. Ada apa? Ayo masuk." Erick melebarkan pintu ruangannya supaya aku dapat masuk ke dalam ruangannya. Dengan segera aku melangkah masuk. Ini pertama kalinya aku masuk ke dalam kantornya. Aku menatap dekorasinya yang pria banget. "Ayo duduk. Mau minum apa? Nanti aku akan minta Santi buatkan." Erick menyuruhku duduk di sofa yang berada di ruangannya. Berbeda dengan sofa yang ada di luar ruangan. Sofa yang ini lebih empuk, pikirku. Hey Riri apa yang sedang kau pikirkan tak ada gunanya membandingkan sofa. Ingat tujuanmu ke sini untuk apa, batinku memperingatkan. "Terima kasih. Tidak perlu. Aku tidak lama kok. Aku ke sini ingin membahas sesuatu." Erick terdiam sebentar. Dahinya bertaut. Ciri kalau dia sedang berpikir keras. "Apa yang ingin kamu bahas memangnya?" tanyanya. "Aku berniat mengunjung ayah nanti siang. Tapi aku bingung bagaimana menjelaskan keberadaan Andre kepada ayah!" jelasku. Jujur aku baru ingat bahwa kami mau tidak mau harus memberitahu ayah tentang Andre. "Oh..aku sudah berpikir tentang itu. Lebih baik nanti kita pergi bersama mengunjungi ayahmu. Selebihnya biar aku yang menjelaskan kepada ayah." "Kamu yakin?" Aku khawatir ayah akan murka dan habislah ia jika ayah sampai mengeluarkan salah satu koleksi kerisnya. "Iya. Kamu tenang saja." Erick mencoba menenangkanku dengan memberikan senyum terbaiknya. Harus kuakui akhir-akhir ini ia memang sudah bersikap baik kepadaku dan Andre. Ia sedang berusaha menjadi seorang suami dan ayah yang baik. Seperti contohnya, jika aku tertidur di kamar Andre, tidak segan ia menggendongku untuk tidur di kamar kami. Erick pernah bilang padaku bahwa ia tidak bisa tidur dengan ranjang sebelahnya yang kosong. Eitss..tunggu bukan berarti kami sudah seperti suami istri yang benar. Tapi katanya karena ia sudah terbiasa dengan keberadaanku yang tidur di sebelahnya. Tuhkan..masih belum ada bumbu-bumbu cinta di antara kami. Tapi harus kuakui aku juga sudah terbiasa dengan keberadaannya yang mengisi hidupku sehari-hari. Kadang kami mengobrol sebelum tidur. Apa saja bisa menjadi bahan pembicaraan hingga kami merasa lelah dan tertidur. Untuk usahanya menjadi seorang ayah yang baik, Erick benar-benar berusaha keras untuk hal itu. Sebab pada awalnya Andre tidak mau dekat-dekat dengan Erick. Jika ditanya mengapa, Andre akan menjawab, "Aku tidak suka dengan Om itu. Habis Om itu berwajah datar. Seperti tidak suka sama Andre." Aku tertawa kecil mendengarnya. Perlu waktu tiga hari hingga akhirnya Andre luluh dan memanggilnya papa. Tentu saja ada uluran tangan dariku di belakangnya untuk membujuk Andre. "Andre coba lihat ke dalam cermin," bujukku. "Lihat mata dan bibir kamu. Sepertinya tante pernah lihat deh. Kayanya bibir dan mata kamu itu pinjaman ya?" Andre menatapku bingung. Tatapannya seakan berkata, "Tante yang benar saja bercandanya gak lucu!" "Sekarang kamu lihat foto papa kamu." Aku menunjuk foto pengantin kami yang tergantung di dinding kamar kami ketika Andre sedang bersama denganku di kamar waktu itu. Kulihat Andre menatap bolak balik antara cermin di meja riasku dan wajah Erick di dalam foto itu. "Tante, kayanya aku pinjam dari om deh. Kasian dong om sekarang lagi gak ada mata sama bibirnya. Soalnya lagi Andre pinjam," ujarnya polos. Andre begitu menggemaskan. Pipinya mulai bertambah montok akibat perbuatanku dan Bu Mun yang rajin memberinya asupan terbaik. "Tidak sayang, papamu tetap punya mata dan bibirnya sekarang. Bisa kabur dan berteriak semua orang jika melihat wajah papamu kalau ia tidak memiliki mata dan bibir." candaku yang membuatnya terkikik. Mungkin ia sedang membayangkan Erick tanpa mata dan bibir. "Lagipula papa mana bisa kerja," jawabku yang membuat tawa Andre membesar. "Tante akan beritahu kamu jawabannya." Andre memasang raut serius seakan aku akan memberitahukan pengumuman penting. "Itu karena Erick itu papa kamu. Makanya kamu punya mata dan bibir yang sama dengan papa kamu. Jadi mulai sekarang kamu panggil dia papa supaya nanti kamu bisa tertular wajah tampan papa kamu." Andre kelihatan berpikir sejenak. Kulihat bibirnya membuat lengkungan ke atas. Ia tersenyum. "Baik tante. Aku akan memanggilnya papa. Supaya aku setampan papa. Dan bila aku dewasa aku akan menikahi tante. Soalnya cuma tante yang paling baik sama Andre," jawabnya polos. Aku tersenyum memandangnya. Mengusap lembut rambutnya dan memeluknya. Aku sudah benar-benar dibuat jatuh cinta oleh anak ini. Siapa yang akan menolak menyayanginya jika ia bisa sepolos dan selucu ini? ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD