Tak di sentuh

970 Words
Syam merenung di balkon, sibuk dengan pikirannya, berkali-kali mengusap wajahnya dengan kasar. “ Ibu tahu, apa yang sedang kamu pikirkan Syam. " Syam di buat kaget dengan kedatangan ibunya yang tak di sadarinya saking sibuknya dengan pikirannya. “ Kamu akan menikah besok, bukan dengan wanita pilihanmu sendiri melainkan pilihan orang tuanmu." Ucap ibunya sambil berdiri di samping Syam. Syam tak menjawab, ia hanya kembali menatap kosong pemandangan langit malam yang terang karena rembulan. Ibu melirik Syam di sampingnya. Yakinlah, jika pilihan kami yang terbaik untukmu nak. " Syam tak segera menjawab, ia hanya menarik napas sedalam-dalamnya lalu membuangnya kasar. “ Semoga saja." Jawabnya dengan datar." *** “ Calon suamimu adalah Dokter. Setelah menikah, kamu akan ikut dengannya ke kota, kamu akan tinggal di lingkungan baru dan suasana baru yang pastinya akan sangat bedah dengan yang disini. Ummi hanya berharap agar kamu tetap bisa istiqomah dengan apa yang sudah Abah dan Ummi ajarkan padamu, dan menjadilah istri yang shalehah. " Ucap Ummi sambil menggenggam tangan putrinya. Aisyah menatap wajah sang ibu. “ Aisyah akan mengingat semua nasehat Ummi dan Abah. " Ummi mengangguk sambil tersenyum kemudian memeluk putrinya. “ Satu persatu anak Ummi pergi untuk ikut dengan suaminya, sebagai seorang ibu, tentu saja Ummi sedih harus berpisah dengan kalian. " Ummi mencoba menahan tangisnya. Aisyah mengeratkan pelukannya. “ Aisyah akan sering mengunjungi Ummi nanti. " Ummi melepaskan pelukannya. “ Tidak nak, suamimu seorang Dokter. Dia pasti sangat sibuk dengan pekerjaanya, jangan memintanya untuk sering-sering datang kesini. Jangan merepotkannya nak, datanglah jika ia yang mengajakmu. " Aisyah mengangguk. Ummi tersenyum kemudian mengelus kepala Aisyah. “ Besok hari pernikahanmu, Ummi yakin jika kamu sudah sangat siap. " *** Aisyah di gandeng oleh ibu mertuanya menuju ke sebuah kamar. “ Ini kamar suamimu. " Ucap ibu dengan tersenyum. Aisyah melihat pintu di depannya. Ibu lalu membuka pintu kamar lalu mempersilakan Aisyah untuk masuk. “ Masuklah, kamar mandinya ada di sebelah kanan, mandi dan ganti baju mu kemudian beristirahat lah. " Aisyah melihat sekeliling kamar . “ Dengar, kamu jangan merasa sungkan ya.! Ini rumahmu mulai dari sekarang. " Ucap ibu sambil berjalan mendekati Aisyah. “ Kamu juga putriku mulai sekarang, anggpa ibu seperti ibumu sendiri. " Ujar ibu memegang tangan Aisyah di sertai dengan senyuman yang hangat. “ Iya bu, terimakasih ." “ Baiklah. Ibu tinggal dulu, mandilah kemudian beristirahat. Oh iya, Syam mungkin masih mengobrol di bawah karena banyak saudara-saudaranya yang datang. " Ucap ibu sambil berjalan meninggalkan kamar. Aisyah mengangguk. Sepeninggal ibu mertuanya, Aisyah melihat-lihat sekeliling dan mengamati seisi kamar yang terlihat bersih dan rapih. Matanya kemudian berhenti pada sebuah foto yang terletak di atas nakas di samping tempat tidur, Aisyah berjalan mendekatinya. Aisyah mengambil bingkai foto itu ia mengamati sosok orang yang ada di dalam foto itu yang tak lain adalah Syam. Pria atau orang asing baginya, tapi kini telah berstatus sebagai suaminya. Aisyah terus mengamati wajah dalam foto itu secara seksama, karena baru kali ini ia bisa melihat wajah suaminya dengan jelas. Hingga ia membenarkan apa yang di katakan teman-teman santrinya kalau suaminya itu snagat tampan. Selama acara pernikahan tadi siang, Aisyah sama sekali tidak berani menatap atau bahkan melihat wajah suaminya. Walaupun mereka di sandingkan di atas pelaminan dan saling berdekatan. Namun, rasa canggung teramat yang Aisyah rasakan, hingga untuk mencuri pandang saja Aisyah tidak berani melakukannya. Setelah acara yang di selenggarakan secara sederhana itu telah selesai, Aisyah lansung di boyong oleh keluarga suaminya untuk ikut ke rumah mereka, tentu saja di iringi dengan isak tangis terutama Maryam yang terlihat sangat sedih karena Aisyah meninggalkan rumah tempat ia di besarkan. Mengingat itu, rasa sedih kembali di rasakannya. Namun dengan segera ia mencoba menguasai perasaannya, ia tidak ingin terlihat sedih apa lagi di depan suaminya nanti. Mengingat suami, Aisyah teringat akan sesuatu. Ia lalu melirik beberapa koper miliknya yang rupanya sudah sedari tadi ada di dalam kamar itu. Aisyah mendekati koper itu, lalu mendorongnya masuk ke dalam kamar mandi. *** Aisyah berjalan dari dalam kamar mandi secara perlahan, walaupun ia sedikit ragu-ragu dan di sertai perasaan campur aduk, ia tetap berjalan mendekati sosok pria yang tidak lain adalah suaminya yang tengah sibuk menelpon di balkom kamar mereka. Sebelum semakin dekat, Aisyah menghentikan langkahnya. Ia kemudian melihat pantulan dirinya pada kaca yang tidak jauh dari tempat ia berdiri. Aisyah bergidik sendiri melihat tubuhnya yang hanya berbalut baju tidur yang tipis dan menerawang. Seumur hidupnya, baru kali ini ia mengenakannya, tidak seperti biasanya yang selalu berbalut baju syar'i lengkap dengan niqabnya. Malam ini, ia membiarkan tubuhnya terekspos sempurna. Sudah pasti karena ini malam pertamanya dengan sang suami, dia yang sudah di bekali dengan cukup ilmu agama tahu jiki kini saatnya dia harus melayani sang suami. Siap tidak siap, mau tidak mau dia harus melakukannya karena itu adalah kewajibannya sebagai seorang istri. Aisyah kembali melangkahkan kakinya mendekati pintu menuju balkom yang sedikit terbuka. Walaupun sudah semakin dekat, suaminya tetap tak menyadari kehadirannya karena masih sibuk dengan teleponnya. “ Aku tidak akan menyentuhnya, aku tidak mungkin menyentuhnya karena aku hanya mencintaimu. " Seketika Aisyah menghentikan langkahnya, ia tertegun sejenak ketika tak sengaja mendengar percakapan suaminya dengan seseorang di ujung telepon. “ Aku tidak akan menyentuhnya walaupun dia istriku sekarang, aku janji. " Sekali lagi, Aisyah mendengarnya dengan jelas dan membuat hatinya hancur berkeping-keping. Sontak Aisyah berjalan mundur dengan perlahan-lahan, dia tidak ingin Syam tahu jika dirinya tak sengaja mendengar percakapannya. Aisyah terus mundur sambil menahan isak tangisnya, menahannya sekuat mungkin agar Syam tidak menyadari kehadirannya. Dia tidak ingin suaminya itu melihat dirinya dengan baju yang ia kenakan karena itu akan membuat dirinya sangat malu. Malu karena dirinya terlalu percaya diri jika suaminya menginginkannya malam ini. Akhirnya, Aisyah sampai dalam kamar mandi tanpa di ketahui oleh Syam yang masih sibuk dengan teleponnya. Aisyah menangis tersedu-sedu, ia mencurahkan kesediaannya mengetahui jika suaminya ternyata mencintai wanita lain. “ Ummi... " Ucap Aisyah pelan di sela-sela tangisnya. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD