Tidak Mengerti

1218 Words
“Tugas kamu adalah membahagiakan saya, tidak ada kata ‘pergi’ di dalamnya. Harusnya kamu sudah tahu, tanpa saya beritahu.” *** Dua insan dengan model baju berbeda itu tengah berkeliling di salah satu toko buku yang terkenal di kotanya. Laki-lakinya memakai baju kaos hitam yang ditambah dengan kemeja berwarna coklat dan dipadukan dengan celana setelah jeans yang juga berwarna hitam. Kumis tipis dan gigi tingkis menambah kadar manisnya. Tidak lupa dengan alis mata yang setebal ulat bulu. Sementara itu, yang wanita menggunakan rok balon selutut berarna biru muda dengan baju kaos polos yang berwarna senada, tetapi lebih lembut. Gadis itu memakai cardigan berwarna merah muda, rambut berjalin udang dan poni dibiarkan terbang. Mahameru dan Rinjani, dua manusia yang berbeda, dengan sikap dan sifat yang tak sama, disatukan dalam dua nama yang sama-sama mewakili nama gunung di Indonesia. Pengunjung toko buku di hari Minggu jelaslah ramai. Ada yang hanya sekedar menyegarkan otak setelah lama dipacu untuk menghasilkan sesuatu. Pun ada yang berniat mencari buku-buku impian yang uangnya sudah ia tabung begitu lama. Jadilah, hari ini deru napas mereka saling beradu dengan helaan napas yang lainnya. Memuncak, menjelma udara dam perputaran udara akan terjadi. Akan terus begitu. “Ehm … mana, ya …?” Rinjani menyusuri rak demi rak buku, buku yang ia umpamakan sebagai surganya. Memilih, menimang, lalu mengambil semuanya. Buku adalah teman akrab kedua baginya, setelah Mahameru. Buku-buku dengan warna sampul yang berbeda berjejeran, menarik hati, menjerat pembeli. Akhirnya, Rinjani menentukan pilihannya. Ia sudah memeluk banyak buku di tangannya. Mahameru menggelengkan kepalanya saat melihat Rinjani kesusahan membawa buku-buku yang gadis itu peluk. Ia sudah memperhatikan Rinjaninya selama tiga jam penuh. Gadis itu unik, ia mengambil semua buku yang dia pegang setelah pertimbangan panjang. Harusnya tidak perlu ada pertimbangan, bukan? “Meru!” Tiba-tiba Rinjani menyadarkan Mahameru dari perhatiannya. “Mencintaimu!” sahut Mahameru. Rinjani memutarkan badannya dan memandang Mahameru dengan raut bingung. “Beli buku karya Rumyta Shann yang mana, ya?” tanyanya, menunjuk dua buku berbeda sampul yang bersisian. Ia menimbang-nimbang buku tersebut. Membeli buku seperti memilih pasangan hidup, penuh pertimbangan. Untung ada Mahameru, semua solusi untuk masalahnya ada di otak laki-laki itu. “Judulnya apa saja?” “Biru sama Surat untuk Lyn.” Mahameru mengernyit, mencoba untuk mengingat sesuatu, “Bukannya buku Biru kamu sudah punya?” Rinjani nyengir, “Maksud saya ini buku keduanya, Serayu Soraya. Bantu saya memilih.” “Serayu Soraya saja.” Rinjani mengedikkan bahunya, “Ya sudah, deh, dua-duanya saja,” jawabnya tanpa rasa bersalah, kemudian ia menyeringai. Mahameru menggelengkan kepalanya, “Terus kenapa kamu nanya sama saya?” “Saya rindu saja sama suara kamu.” “Astaga, Rin!” Rinjani mengambil dua buku yang menarik hatinya, tak mengacuhkan raut kesal yang ditampilkan oleh laki-laki manis di sampingnya ini. Ia menahan mulut agar tidak tertawa, kalau tidak bayarannya adalah diusir dari toko buku ini. Total ada delapan buku yang ada di pelukan Rinjani. Ia sedikit meringis karena buku itu tebalnya luar biasa dan menghasilkan rasa pegal di tangannya. “Kenapa tidak mengambil tas untuk membawa semua buku-buku kamu ini?” tanya Mahameru. “Menunggu ada yang peka.” “Hah? Siapa?” Rinjani mencebik, “Berharapnya seorang Mahameru bisa peka,” sindirnya. Belum sempat Mahameru membalas ucapannya, Rinjani langsung memburu kata. “Ah, tidak perlu. Nanti kamu minta imbalan,” sambung Rinjani kemudian. Lalu, ia segera mempercepat langkahnya menuju kasir. Takut-takut Mahameru justru mengamuk dan menerkamnya. *** Hari akan menuju sore, nampaknya pementasan senja di sore ini akan indah. Manusia harusnya tahu bahwa senja memang selalu indah, ‘kan? Namun, mereka sama sekali tak ada niat ke pantai. Lelah setelah memburu banyak buku, Rinjani. Lelah karena berkeliling menemani gadis yang dicintainya, Mahameru. Rinjani tampak kerepotan dengan kantung belanja yang berisi buku-buku yang baru saja ia beli tadi. Buku-bukunya memiliki halaman lebih dari lima ratus, bisa dibayangkan berapa berat buku yang sedang ia bawa, bukan? Namun, alangkah naasnya Rinjani karena lelaki di sampingnya ini bukanlah manusia yang bisa peka dengan mandiri. Mahameru hanya menahan tawa melihat muka sebal gadis di sampingnya ini. Sebenarnya ia ingin-ingin saja menawarkan bantuan pada Rinjani, tetapi ia lebih suka melihat muka tembam gadis yang mengembung karena kesal. Kalau saja Rinjani halal diculik, jelas dia akan menculik gadis itu dari dulu. Tapi bukannya Rinjani memang selalu bersamanya, ya? “Jangan lihat saya, nanti jatuh cinta!” sungut Rinjani. Ia merotasi bola matanya karena sudah sangat sebal. Mahameru terkekeh, lucu sekali. “Sudah.” “Sudah apa?” “Sudah jatuh cinta.” Rinjani mencebik, “Sudah.” “Apa?” “Sudah tahu,” balas Rinjani. Mahameru sudah tidak tahan lagi untuk melepaskan tawanya. Ekspresi yang ditunjukkan Rinjani memang menggemaskan, selalu seperti itu. Dia heran sendiri, apakah kadar menggemaskan milik gadis itu tidak berkurang, ya? “Mau ke mana lagi?” “Tahu!” “Kenapa enggak tempe saja?” “Meru! Is!” “Jangan merajuk, jelek.” “Ini berat, Meru. Parkiran motormu masih jauh, kamu tidak kasihan kalau nanti tangan saya patah? Terus masuk rumah sakit? Terus di gips? Terus tidak bisa menulis? Terus tamat sekolahnya lama? Ter- ....” “Psssttt, tidak boleh mendoakan yang tidak baik untuk diri sendiri. Sini bukunya,” ujar Mahameru seraya mengambil kantung bawaan yang menjadi tersangka utama yang menyebabkan Rinjaninya memberengut. “Dari tadi harusnya!” sungut Rinjani. Sekarang ia sedang memijit tangannya sendiri. Mahameru mengangguk, “Besok saya beli mobil.” “Untuk?” “Rinjani.” Rinjani mengernyit, bingung. “Mobil untuk mendaki?” tanyanya. “Mobil supaya Rinjani yang ada di sampingku ini tidak kepanasan, tidak kehujaanan, tidak mengamuk kalau tersiram gas dari knalpot kendaraan lain.” “Tidak perlu.” “Kenapa?” “Saya ini orangnya pemabuk, Meru. Lupa?” “Oh, iya! Seorang Rinjani Maheswari Nazzarda adalah orang kampung yang kalau naik mobil ber-AC mabuk-mabukkan,” kelakar Mahameru, kemudian ia tertawa kencang di ujung kalimatnya. “Hm. Ketawanya kurang kencang, tuh, hem.” Mahameru langsung mengatup bibirnya, “Merajuk?” tanyanya. “Ingin es krim, Meru!” “Rasa vanilla?” “Tidak!” “Terus apa?” “Rasa yang indah saat bersamamu semoga tidak pernah hilang. Hehe,” ujar Rinjani, di akhiri cengirannya yang lucu. Deg! Mahameru merasakan ada bagian di hatinya yang menjadi nyeri. Rinjani memang mengutarakan kata-katanya dan di akhiri cengiran, tapi ia tahu makna dari semua kata gadis itu begitu dalam. Suasana tiba-tiba hening, aura darinyalah yang membuat senyap. “Meru?” Rinjani mengerjapkan matanya berulang kali. Bingung. Apa ia salah bicara? Air muka Mahameru berubah drastis, andai saja ia sadar lebih awal. “Jadi, es krimnya rasa apa?” tanya Mahameru setelah berhasil menguasai emosinya. “Es krim rasa kopi.” “Yuk!” “Terima kasih, Meru!” Mahameru dan Rinjani berjalan menuju motor mereka di parkiran –lebih tepatnya motor Mahameru, sih. Wajah riang terukir pada diri Rinjani, tetapi tidak dengan Mahameru. Ia hanya memperhatikan wajah Rinjani dengan seksama, menyelam di antara senyumnya yang indah, lalu tenggelam dalam rasa bersalah yang menggelayutinya. Mahameru menarik napas dalam, ia bertekad bahwa semuanya harus ia ungkapkan hari ini, karena jika berlama-lama lagi Rinjani akan sulit menerima segalanya. Lalu, sesak itu mulai meraba diksi yang sudah ia siapkan. Menyisipkan perih untuk desah yang akan ia keluarkan. Sebentar lagi, mungkin, ia akan melihat gadis di sampingnya ini merubah ekspresi riangnya menjadi wajah murung yang malang. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD