Jangan Pergi Dulu

1091 Words
“Makanya, tidak usah pergi. Di sini saja, masak sosis bakar bersama saya.” - Rinjani *** Rinjani membuka matanya, mimpi barusan membuat luka hatinya kian menganga. “Kamu bohong, Meru! Kamu bohong!” teriaknya seraya melemparkan bantalnya ke sembarang arah. Dua figura yang terpajang di atas nakas di samping tempat tidurnya pecah tak berupa. “Saya tidak akan meninggalkan kamu, Rinjani.” Rinjani tertawa sumbang. “Terus, sekarang kamu sudah ada di mana? Sudah naik pesawat, naik kereta, naik bus atau naik kapal laut? Sudah bertemu hiu sama piranha belum? Sudah sampai ke pulau yang banyak bunga kuningnya? Atau sudah sampai ke negara yang ada bunga tulipnya?” tanyanya kalut. “Jawab, Meru! Bukannya kamu selalu menjawab semua pertanyaan saya!?” Rinjani turun dari kasurnya, berjalan ke arah jaket dongker milik Mahameru yang tersampir di kursi belajarnya. Tangannya mengambil jaket itu, menghirup aroma yang tersisa. “Apakah bau jaket ini akan tetap sama, Meru? Jaket yang kamu sukai. Kamu tidak dinginkah di sana? Siapa tahu kamu pergi ke negara yang ada saljunya, ‘kan? Nanti kamu tidak jadi pulang, malah kena hipotermia. Mau? Tidak, ‘kan?” Rinjani menghadap kaca riasnya. Rambutnya kusut, matanya bengkak, bibirnya pucat, kepalanya pening. “Makanya, tidak usah pergi. Di sini saja, masak sosis bakar bersama saya.” Rinjani terduduk seraya memeluk jaket Mahameru, merekam semua aroma yang mungkin saja sebentar lagi akan ikut hilang. Menghadirkan segala kenangan mereka ke ingatannya. Ia lagi-lagi menangis sesenggukan. Kenangan tentang Mama dan Papanya, masa kecil bahagianya dengan Meru dan Elo. Es krim rasa vanilla yang selalu disediakan Mamanya di kulkas khusus untuknya. Bahkan, Abangnya yang meminta saja tidak diperbolehkan mengambil kecuali dengan izin darinya. Kenangan itu muncul silih berganti dengan kesuksesan dalam membuat sesak dadanya, sakit hatinya, remuk jiwanya. “Mama sama Papa pergi tiga tahun yang lalu. Meru pergi hari ini. Jani hanya tinggal sama Abang.” Rinjani menatap langit-langit kamarnya yang tampak menyeramkan. “Semesta, apa Abang Elo juga akan kamu buat hilang?” “Abang akan selalu di sini, Jani.” Itu suara Elo. Rinjani memutar badannya, berdiri, lalu menghambur ke pelukan hangat sang Abang. Semakin bercucuran air matanya saat manik itu bertabrakan dengan warna manik yang sama, manik milik Elo. Elo mengangguk, “Abang enggak bakal ninggalin kamu sampai kamu menemukan seseorang yang juga tidak akan meninggalkan kamu.” Rinjani menggeleng-geleng sembari menarik-narik kerah baju yang dipakai Elo, “Abang harusnya marah sama Meru yang sudah meninggalkan Jani.” Elo menggeleng, ia tahu bahwa Mahameru tidak akan pernah meninggalkan adiknya. Hanya saja, keadaanlah yang memaksa mereka harus membentang jarak. Andai saja dia tidak berjanji pada Mahameru, mungkin Rinjani tidak akan sesedih ini. Atau, justru lebih sedih? Elo melepaskan pelukan mereka, kemudian menangkup wajah Rinjani dengan kedua tangannya. Dengan kedua jempolnya ia berusaha untuk menghapus air mata sang adik yang tetap saja bercucuran. Sekuat tenaga dia menggerakkan jempolnya untuk menghapus air mata Rinjani, maka dengan lebih kuat pula air mata itu mengucur dengan derasnya. Elo berusaha tersenyum di tengah sedu sedan dan kesesakkan yang Rinjani rasakan. Ia berusaha tenang di antara kemelut kehilangan yang dirasakan adiknya itu. Dari dulu, dia memang berusaha menjadi Abang yang terbaik bagi Rinjani. Menjaga air mata dari perempuan yang paling disayanginya itu agar tidak luruh begitu saja. Setelah berusaha berbagi senyum dengan Rinjani –walaupun Rinjani tetap dengan tangisnya yang lirih, Elo membawa Rinjani kembali terdekap dalam pelukkannya. Meskipun ia tahu, pelukkan yang dia berikan bukan pelukkan yang Rinjani harapkan. Dia hanya sebagai kakak untuk dunia Rinjani yang sudah penuh dan sesak oleh riuh bahagia yang kerap diciptakan Mahameru. “Sudah, doakan saja Meru lancar urusannya dan akan cepat kembali. Atau, minimal memberi kabar sama kamu.” Rinjani menggeleng. “Jani sudah memblokade semua jalur yang bisa diakses sama Meru untuk tahu kabar Jani. Jani enggak mau tahu lagi tentang Meru, Bang. Jani inginnya, ya sudah, segalanya telah selesai. Jani enggak mau ada beban.” Elo menghela napasnya, ia memahami perasaan adik manisnya ini. Berat memang, iapun mengaku dia tak akan sanggup jika posisi antara Mahameru dan Rinjani juga ia rasakan. “Abang menghormati keputusan Jani. Pokonya sekarang, Jani harus tahu kalau Abang sangat sayang sama kamu. Jangan nakal, kita cuma berdua, Dek. Kita harus kerja sama, buat Mama dan Papa bangga karena menghadirkan kita di dunia.” Rinjani mengangguk patuh. Mengeratkan pelukannya. Menenggelamkan semua resahnya pada d**a bidang sang Abang. Satu-satunya laki-laki yang bisa ia peluk saat ini. Jika semesta sudah amat marah dengannya, dia hanya meminta satu hal. Jangan pernah semesta mengambil pelukan hangat yang saat ini hanya inilah yang dia punya. Matahari tenggelam, siluetnya menerpa tubuh Elo dan Rinjani yang sedang berpelukkan. Semilir angina sore menghadirkan rasa tenang dan nyaman. Kicauan burung samas-samar terdengar, mendamaikan hati yang bergejolak. Suara klakson mobil dan motor beradu. Memberitahu bahwa waktu akan berputar, hari akan bergilir. Masalah hati, hanya waktu yang bisa menentukan. Itupun jika semesta bisa diajak kerja sama. Satu-satunya kehilangan yang mengerikan adalah kehilangan kepercayaan bahwa apa yang sudah pergi tidak akan pernah kembali, meski dalam bentuk apapun. Dan sekarang, kehilangan yang seperti itulah yang berkeliaran di pikiran rungsang Rinjani. Kehilangan kali ini adalah kehilangan yang penuh dengan ketidakpastian dan membingungkan. Bagaimana dia akan percaya, jika orang yang memberikan keyakinan itu justru hilang tanpa percakapan? Bagaimana semesta bisa menjelaskan pergi yang tidak memegang bukti persetujuan? Bagaimana mungkin Mahameru tega pergi dan meninggalkannya dengan air mata yang bercucuran? Bukankah Mahameru adalah laki-laki yang selama ini berjanji untuk membahagiakan dia? Bukankah Mahameru adalah sosok yang kerap hadir di tangis dan tawa Rinjani? Kemudian, apakah alasan pembenaran dari pergi yang laki-laki itu lakukan? Bagi Rinjani, itu semua tidak ada. Mahameru sering pergi mendaki gunung dan meninggalkannya sehari sampai seminggu. Itu tidak lama dan Mahameru berjanji akan pulang dengan segera. Namun, kali ini perginya justru dengan janji bahwa mereka akan segera bertemu dua tahun lagi di puncak Gunung Rinjani dengan waktu dini hari. Mana mungkin Mahameru yang kerap berjanji dan berusaha untuk pulang tepat waktu dengannya justru membiarkan Rinjani pusing dan menebak-nebak pertemuan itu akankah benar-benar ada? “Abang …,” bisik Rinjani di tengah-tengah d**a bidang Elo. Elo yang semula termenung mengerjapkan matanya beberapa kali, “Iya, Jani? Kenapa?” tanyanya dengan suara serak. Ia juga ikut menangis. Kemudian dia menghapus sisa air mata yang tertinggal di ujung matanya, kemudian dia memicit pangkal hidungnya. Menangis adalah hal yang sangat riskan untuk Elo, karena bisa menyebabkan kepeningan melanda kepalanya. Rinjani mendongak, “Abang percaya Mahameru akan pulang?” tanyanya. Elo mengangguk dengan penuh kepastian, “Iya, Abang percaya,” katanya yakin. Rinjani menggeleng pelan, “Jani enggak,” ucapnya dengan penuh kekhawatiran. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD