Jantung Rinjani langsung berdebar. Apalagi saat Nayyala menggodanya. Tatapan mereka tertuju pada tamu yang sangat serasi dalam segi apapun. ‘Pantes Pak Sadewa mempesona banget. Ternyata bibit unggul dari kedua orang tuanya.’ Rinjani bermonolog seraya tersenyum penuh arti. Tak lama kemudian, Anjani melambaikan tangan hingga memecah lamunan. “Hai, Rinjani. Ternyata kita ketemu lagi disini!” “Ha-hai, Bibi.” Rinjani menjawab dengan suara bergetar. Pijakan kakinya dan Nayyala masih berhenti di ambang pintu. Mereka seolah membeku. Lebih tepatnya, Rinjani tak tahu harus bersikap seperti apa. . “Panggilnya calon mertua dong,” goda Nayyala berbisik di telinga. “Kalau ngomong coba di filter!” desis Rinjani tak ingin terdengar sampai ke tempat duduk mereka. “Eh, ayo kesini. Ngapain berhenti

