Sebelum Ruby berhasil menyisakan beberapa tarikan nafas, Judy datang dengan wajah berang. Ia sudah menduga ada keributan yang dilatarbelakangi keberadaan Shen. Sementara Ruby memilih mundur, amarahnya ingin meledak sampai ingin membanting sesuatu, namun ia tahan.
“Sky!!!” teriak Judy lebih histeris. “Apa yang kalian lakukan di sini?!”
“Mama jangan salah paham ...”
Plakk!!!
Shenina memegangi pipinya yang panas terkena tamparan Judy. Rasanya menjalar sampai ke ulu hati saking pedihnya.
“Lihat bajumu!” Judy mendekat menarik kerah kemeja Shen. “Kau menggoda Sky dengan tubuhmu yang kotor itu?”
“Mama!” Sky menepis tangan mamanya itu dengan kasar. “Jangan pernah berkata seperti itu kepada Shen!”
Wajah Sky memerah karena marah. Judy tak pernah melihat anaknya menjadi seberingas itu. Judy akhirnya pergi meninggalkan mereka berdua, tetapi dia tidak akan diam saja.
Setelah acara keluarga selesai, Judy mendekati Shen yang sedang membereskan piring-piring. Ditariknya lengan Shen ke sebuah tempat yang sepi, di mana tidak ada orang yang bisa melihat atau mendengar mereka.
“Katakan! Kau sebenarnya mau apa?” cecar Judy setelah sambil menepis tangan Shen dari genggamannya dengan kasar.
“Maafkan aku nyonya, Sky hanya ...”
Plakkkk!!!
Tangan Judy mendarat di wajah Shen yang mulai memar akibat tamparan sebelumnya. Kali ini memerah karena kucuran darah yang keluar akibat cincin berlian yang cukup besar menghantam kulitnya.
“Kau menyebut namanya?” Mata Judy melotot tak karuan.Mengapa ia tidak mengatakan secara langsung jika Sky yang memepet tubuhnya terlebih dulu? Sky memang sering melakukannya ketika ia ingin membujuk Shen yang marah, bukan untuk hal lain yang mereka sebut dengan perbuatan kotor. Ia pun tahu diri.
“Kau pikir semua orang akan yakin dengan taktikmu??” Judy tak percaya, “kau memanfaatkan kelembutan Sky untuk terus berada dalam posisi enak. Sementara kau tak sadar diri jika posisimu hanya akan tetap menjadi pembantu? Hei, Sky letaknya jauh di atas kepalamu!”
“Walaupun memang begitu, nyonya tidak berhak merendahkan harga diri orang lain karena dia miskin, kan?
Apa-apaan? Judy sudah gatal hendak menampar mulut Shen kembali. Gadis itu hanya belum menunjukkan siapa ia sebenarnya, ia tak seperti yang Sky ceritakan, bak belatung yang akan selalu menerima citra busuk meski ditempatkan di atas daging premium.
Shen tegak memandang lurus dan menantang Judy dengan sedikit getaran. Ia takut, hanya ia tak bisa menerima terlalu banyak direndahkan jika bukan dia yang salah.
“Kau terlalu mencintai anakku, atau ... Kau terlalu mencintai kekayaan ini? Tinggal di rumah mewah bukan berarti semua orang di dalamnya berhak atas isinya, kan?”
“Maaf nyonya, maaf jika aku terlalu mencintai tuan Sky. Tapi jika tuan Sky tak membalasku, mustahil aku tidak setahu diri ini. Perasaanku tulus, nyonya. Jika dibandingkan kekayaan keluarga ini, Sky tak bisa ditukar sebanyak apa pun itu.”
Shen sudah bersiap menerima tamparan ketiga, namun, justru Judy tersenyum tipis dan tetap diam di tempat.
“Kau bisa membuktikannya?” Judy berbicara sedikit tenang.
“Tentu, nyonya! Saya akan membuktikannya seperti yang nyonya mau.” Balas Shen ragu.
“Baiklah. Nanti malam temui aku di teater. Ingat, hanya kau dan aku yang tahu.”.
Teater keluarga Andromeda terletak di bangunan berbeda dengan rute yang sepi saat malam hari karena semua orang lebih memilih istirahat. Suasananya lebih redup dan hening.
Derit pintu di ruangan gelap terdengar mengerikan. Shen meraba-raba tembok untuk menemukan stopkontak lampu yang sering dibiarkan mati. Hanya ada sedikit celah yang menampilkan cahaya dari lampu luar, Shen kembali meraba.
Dari jauh ia sedikit menangkap siluet nyonya rumah sedang duduk di barisan terdepan, sendirian. Ia berjalan pelan agar tak mengundang kehebohan.
“Kau sudah datang?”
Ia mempercepat langkah mendatangi Judy dengan sopan. Membungkukkan tubuhnya untuk menghormati kekuasaan keluarga Andromeda.
“Maaf membiarkan nyonya hadir lebih dulu.”
Shen masih terus berdiri jika Judy tak memintanya untuk duduk. Ia pun menurut.
“Aku mencintai anakku lebih dulu daripada gadis mana pun di dunia ini.” Judy memulai pembicaraan. “Karena aku mencintainya, maka aku ingin memastikan dia mendapatkan hal-hal terbaik dalam hidupnya. Sebagai seorang wanita kau akan mengerti nanti.”
Shen mendadak terdiam. Apa ini permintaan halus yang menyuruhnya untuk melepaskan Sky? Hatinya gelisah, kedua tangannya sudah saling meremas sejak tadi.
“Dan aku tidak akan membiarkan seorang gadis rendahan mengajari anakku merusak segalanya. Reputasi, takhta, dan cinta yang ia dapatkan dari kami sudah lebih dari cukup.”
“Bu-bukannya nyonya mengatakan aku hanya perlu membuktikan?” Shen membalas dengan tergagap.
Judy terasa menghela nafas panjang. Ia memijit keningnya yang hampir pecah. Membuktikan apa lagi?
“Kamu belum mengerti? Burung gagak tak akan bisa berubah menjadi angsa putih! Di dunia ini, menjadi seperti kami tidak mudah, dan untuk menjaganya kami butuh power lain yang sama kuat untuk saling menjaga. Ruby adalah calon istri terbaik untuk Sky!”
Jadi Judy sengaja memintanya untuk bertemu hanya agar ia bisa berbicara soal status sosial mereka. Memperjelas jarak, merangkai kata-kata yang tajam untuk membuatnya lebih sadar. Namun secara tiba-tiba mulutnya dibekap dari belakang.
Ia meronta sekuat tenaga, berusaha meraih Judy yang memandangnya dengan tatapan datar. Apakah ini rencana yang disengaja?
Ctak!
Lampu bioskop menyala remang. Barulah pandangan Shen jelas, ia melihat Judy memegang sebuah benda bertali panjang yang tersambung langsung ke salah satu arus listrik di sana. Di sebelahnya ada Anton, ia memegang sisa tali dan selotip yang mereka gunakan untuk membungkamnya.
Shen terkulai lemas. Ia hanya bisa mengerang pengap, ia berharap semoga ada Sky di sekitar sana.
“Mau bagaimana lagi, “ ucap Judy, “Kau memaksaku menggunakan kekerasan.”
Judy mendekatkan benda itu ke salah satu pangkal pahanya seraya menekan dengan kekuatan penuh. Ia tak bermaksud untuk kejam, tapi demi putranya ia bisa melakukannya sekarang.
“Aggghhhhhh!!”
Shen berteriak, sayang sangat tak berarti. Bunyinya terkunci dalam isolasi yang pengap. Tak habis pikir olehnya atas tindakan Judy yang nekat.
Judy menekan alat setrum ke paha Shen bergantian, setelahnya merambat ke bagian lain yang lebih sensitif dan menyakitkan. Air mata Shen tak henti berjatuhan, ia menyaksikan Anton dan Judy menikmati penderitaannya di sana. Tak ubahnya ia seperti binatang yang akan disiksa jika tak mau menurut.
Apakah manusia bisa sekejam itu terhadap manusia lainnya?
“Buka mulutnya!”
Anton melaksanakan perintah Judy. Ia membuka lakban di mulut Shen dengan kasar, membuat mulut si gadis seperti mati rasa.
“A-ampun ... nyo ... nya, sakit ...,” rintih Shen, “ampun, tolong.”
“Tinggalkan Sky!” Judy mempertegas sekali lagi. “Jangan muncul di hadapannya sampai pesta pertunangannnya selesai, mengerti?!”
Shen mengangguk. Ia sangat takut jika terkena setruman yang menyakitkan itu kembali. Otaknya tak lagi fokus, yang ada hanya rasa sakit di sekujur tubuh.
“Jawab!” Teriak Judy lagi.
“I-iya nyonya! Aku akan menghindari tuan Sky mulai sekarang.”
Judy memberi isyarat supaya Anton melepaskan. Tubuhnya yang lemah membuat ia terjerembab jatuh. Shen bangkit lagi, air matanya masih bercucuran karena rasa sakit yang rasanya hampir membuat ia lumpuh.
Ia berhasil mencapai pintu dan keluar. Langkahnya terseok sampai pada akhirnya ia rubuh.
“Shen!”
“Kau tidak apa-apa?” Susiana memperhatikan tubuh anaknya dengan teliti. Shen pasrah.
Lamat-lamat ia melihat wajah Sky, ah, ia hanya mengigau. Sky tak akan pernah di sana karena sedang mengantar calon tunangannya pulang.
“Shen!” Suara seseorang panik.