Perasaan yang Bercampur Aduk

1238 Words
"Wah cantik bener, Dinar. Tampilannya modis," puji Bu-ibu di tukang sayur. Tantunya sudah bisa Dinar rasakan udara segar pagi ini dengan sambutan pujian itu. Lumayan refreshing dari rasa sumpek akibat sakit di hatinya. "Bisa aja ibu," balas Dinar sambil memilih sayur. Hari ini ia sengaja ingin beli sayur demi memperlihatkan kalau ia bahagia. Sekarang dirinya jadi lebih setuju untuk tidak menepis, tapi membuktikan. "Jangan terlalu maksa, Dinar. Kasian suami kamu yang tukang parkir itu. Dia pasti ngutang tuh buat bikin kamu tampil secantik ini," nyinyir salah atau ibu. Selalu ada manusia dengan tingkt nyinyir di atas rata-rata. Untuk manusia yang bentukannya begini, maklumi saja dan jangan rusak pagi indah cerah bersemi bak di negri peri ini. "Jangan souzon, Bu. Siapa tau memang suami Dinar mampu," bela salah satunya. Nah kalau manusia seperti ini perlu di sawer kertas merah. Tapi sayangnya uang buat nyawer gak ada. Ketinggalan di rumah. Bawa duit cuma selembar ini. Pas-pasan bayar sayur aja. "Kalau mampu di mampu-mampuin sih ya namanya maksa. Nanti juga di tagih hutang sama koperasi." Tak mau ambil pusing, Dinar langsung membayar belanjaannya. Ia harus sabar. Semua butuh proses. Buktinya sekarang ada beberapa orang yang tidak merendahkan dirinya lagi berkat tampil lebih cantik. "Berapa, Mang?" "30 ribu, Neng." Uang merah melayang ke depan tukang sayur. Uang merah yang cuma selembar itu. "Wah, kembaliannya belum ada ini, Neng." "Ambil aja kembaliannya buat Mamang." Dinar pamit memamerkan senyum lebar nan penuh arti pada bu-ibu yang berbelanja. Kesannya tuh kayak, belanja tuh jangan di tawar, terus bayarnya di lebihin. Ia pergi dengan berbagai tatapan dari ibu-ibu itu. **** Dinar sempat terdiam saat masuk ke dalam rumah kala matanya mengamati sesosok orang yang sempat terasa indah di matanya. Orang itu juga menatap padanya. "Din?" Suara lembut itu menyapanya. Dinar cepat melengos menuju dapur. Ia berdiri di dekat meja makan sambil meletakkan sayuran yang dibelinya. Dinar menormalkan perasaan yang terasa mengganggu hatinya. Dinar coba untuk tidak menganggap perasaan itu ada. Ia tau akan sangat salah bila ia menganggap keberadaan Danu dalam dadanya. Toh kesalahan Danu harusnya mampu mengikis seluruh perasaan yang ada di hatinya. Lelaki itu tidak baik! Dia manusia yang harusnya paling Dinar benci. Dinar mengigit bibirnya kuat-kuat sembari menghapus air mata yang entah kenapa justru kembali membuat pipinya basah. Harus berapa lama hatinya akan berada dalam rasa sakit yang bercampur-campur ini. **** "Mbak, ngutang dong 500 ribu." Dengan muka jutek Sania menghampirinya. Dinar yang sedang melihat-lihat baju baru yang ia beli, menoleh ke ambang pintu. "Kamu gak punya uang?" tanya Dinar dengan nada menyindir. Ini anak kemarin di kasih uang sama mertuanya. Tapi kenapa hari ini malah minjem uang? "Ya elah! diminta ngutang dikit aja balasnya sinis gitu!" ketusnya. Dinar mengerutkan kening. "Kalau kamu minta hutangin, Mbak, mintanya baik-baik dong." "Sok banget sih. Tinggal kasih aja! 500 ribu doang!" Gak tau malu! benak Dinar. 500 ribu doang. Gampang sekali congornya bicara. Kalau uang segitu nilainya doang, harusnya situ punya. Pengen rasanya Dinar mengatakan itu blak-blakan. Walau sebenarnya ia ingin memberikan pelajaran pada adiknya itu, tapi pada akhirnya ia memberikan juga uang pada Sania. Entah kenapa ada rasa menyelesik dalam dadanya melihat tampilan kurus serta tak terurus sang adik. "Nih. Mbak cuma ada segini," ujar Dinar memberi dua lembar kertas merah. Sania kelihatan lebih berbeda. Seolah aura dia yang dulu sering bolak balik salon dan mall kini redup. Tampak seperti perempuan non perawatan. "Tambah lagilah, Mbak. Habis belanja sebanyak itu masa gak ada uang!" Sania melihat tumpukkan belanjaan Dinar dengan wajah kesalnya. Tampak jelas pandangan iri di matanya. "Ya makanya Mbak cuma punya segitu. Kan, Abis belanja," jawab Dinar santai. Terdengar jelas gemuruh marah Sania membanting pintu kamarnya. **** [Iya, Ma. Coba mama bayangin deh. Dari mana dia bisa dapat uang sebanyak itu.] Jempol Sania dengan lincah mengetik berkirim pesan pada mertuanya. [Masa sih sebanyak itu. Kemarin Yuda balik ke sini aja kok minta transfer papanya soalnya gak ada duit.] "Tuhkan? Kok bisa sih???" gerutunya seorang diri. [Iya, Ma. Itu si Dinar habis belanja baju banyak banget. Sok banget lagi gayanya. Ke tukang sayur aja kok pake dandan!] [Ih! Norak! Untung gak jadi mantuku itu anak. Bisa malu mama nanti.] Fokus Sania menggosip dengan mertuanya teralihkan dengan suara-suara aneh dari dalam kamarnya. Ia menyudahi berbalas pesan itu. "Mas ngapain?" Sania memergoki Danu yang membuka dompetnya di kamar. "Ada duit gak?" tanyanya ketus. "Gak ada, Mas. Kan, uang yang kemarin di kasih mama Mas ambil," ujar Sania sambil berusaha menyembunyikan uang dua ratus ribu yang diberikan Dinar tadi siang. "Ck! Bilang gak punya duit mulu sih!" Danu dengan kesal mengacak rambutnya seperti orang frustasi. "Memang Mas belum gajian? Kemarin uang gaji aku juga mas ambil, katanya mas mau balikin pas gajian." Sania menghampiri Danu yang berbaring dengan kesal. "Banyak ngomong kamu! Aku gak bisa kasih uang ke kamu. Itu uang gaji mau aku investasi ke teman dekatku," ujarnya. "Loh! Terus aku gimana, Mas? Uang gaji aku juga udah Mas ambil." Uang gaji miliknya yang kemarin sempat ingin di berikan pada ibunya dengan perantara Danu agar sang ibu senang, namun di tolak. Tapi Danu tak mengembalikan uang itu dengan dalih kalau ia tak punya uang sepeserpun. "Bawel kamu! Minta aja sama orang tua kamu! Lagian kamu yang nuntut di nikahin kok!" sengitnya. "Mas Danu yang hamilin aku makanya aku minta tanggung jawab. Kok Mas jadi gini sih!" Sania tersulut emosi. Danu hari ini sangat menyebalkan baginya. Kemarin saat malam pertama pernikahan, Danu justru meminta haknya sebagai suami. Sania memberikan walau dirinya khawatir terjadi sesuatu pada kandungannya. Tapi hari ini Danu belagak seolah ia sangat terpaksa menikahi dirinya. "Kamu bisa diem gak sih?!" bentaknya. Dengan penuh emosi ia pergi meninggalkan Sania yang kaget mendapatkan bentakkan. **** Dua hari berlalu dan Dinar bisa menikmati hidupnya dengan sikap Yuda yang makin hangat padanya. Tapi, kejadian hari ini sungguh tidak di duga. "Kami menangkap saudara Yuda, atas tuduhan pencurian." Sekelompok polisi datang membawa surat penangkapan. "Mas?" Dinar kaget setengah mati saat polisi itu meringkus Yuda secara paksa. "Pencurian apa, Pak? Saya gak pernah mencuri apapun!" bantah Yuda barusaha berontak. "Anda, mencuri uang senilai 10 juta. Pelapor sudah ada di kantor polisi," jelas Pak Polisi. "Jadi uang yang kemarin di kasih buat dapur itu uang curian?" sahut Sania dengan suara nyaring. Ucapan itu justru membuat para Polisi kian yakin. "Bener, Dinar? Kamu memberikan uang curian untuk keluarga ini?" Dinar terbungkam sambil melirik Yuda yang di ringkus paksa kepolisian tanpa bisa menjelaskan apapun pada Dinar. Saat di bawa, seluruh tetangga melihat dengan penuh penasaran. "Jelas sih itu uang curian. Mana ada tukang parkir punya uang sebanyak itu!" sindir Sania. "Bener, Dinar? Uang yang kamu berikan itu uang curian!" desak bapaknya. Dinar kebingungan harus menjawab bagaimana. Tidak mungkin kepolisian salah menangkapkan? Tapi, tidak mungkin juga Yuda mencuri? Ia merutuki kebodohannya karena tidak mendesak Yuda agar menjelaskan bagaimana ia bisa dapat uang sebanyak itu. Mungkin kalau Yuda menjelaskan, ia jadi bisa memberikan jawaban logis hingga suaminya itu tidak akan di sudutkan. "Bikin malu kamu, Dinar!" desis ibu Tiara sambil kemudian masuk. Para tetangga melihat adegan itu sambil berbisik-bisik. **** Sampai tengah malam, Dinar tidak bisa tidur. Ia tidak tau harus bagaimana. Ia tidak diperbolehkan Bapak untuk keluar rumah. Sementara jauh di lubuk hatinya kasian dengan Yuda yang seorang diri di ringkus Polisi. Ia berusaha melakukan sesuatu dengan menggeledah barang-barang Yuda. Tidak ada hal yang berati di sana. Semua pakaian lusuh yang ada tidak memberikan jawaban. Justru malah membuatnya kian takut kalau suaminya memang mencuri untuk memberikan uang itu padanya. Agar ia tidak di permalukan keluarga.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD