11

1258 Words
Kaena terhenti dan tak melanjutkan kalimatnya. Kael memandang Kaena sangat dalam, “Lanjutkan Kaena. Apa yang ingin kau katakan padaku sebenarnya?!” “Sudahlah, aku malas dan sedang lelah. Kita tak usah belanja dan tak usah makan sekalian.” Kaena masuk ke dalam kamarnya dan bersembunyi dari dirinya sendiri. Kaena tak bohong, dia sangat suka saat Kael mencumbu dirinya. Dia sangat suka saat saudara kembarnya itu memeluk dengan erat. Kael tak mau mengakui kesalahan dirinya, dia hanya membatu memandang pintu kamar Kaena yang kini sangat sunyi. Dia benci ketika gadis itu menangis. Kaena mengerjapkan mata, dia melihat jam di dinding sudah menunjukkan jam 6 pagi. Pontang panting dia keluar dari kamar. Sudah sangat lama dia tertidur, Kaena melihat di sekelilingnya. Dia melewatkan makan siang dan malam, begitu juga dengan Kael. Saat Kaena menatap pantulan dirinya di cermin gadis itu terkejut melihat wajah dan pakaiannya sudah bersih dan berganti. Hah, dia memegang dadanya karena lagi-lagi Kael menyentuh seluruh tubuhnya. “Kau sudah bangun?! kita tak makan siang dan malam, apa sekarang kita juga tak sarapan pagi?!” Kaena tak sempat bertanya atapun marah, dia langsung menuju kulkas dan melihat apa ada yang bisa di jadikan sarapan pagi ini. Jujur saja dirinya juga sangat lapar saat ini. “Kau belanja?!” Kael menggindikkan bahunya, “Aku tidak mau mati kelaparan.” Kaena menghela karena mengingat adegan marah-marah yang dirinya lakukan sebelum tertidur. Dia bergegas karena tak enak sekali membuat Kael menunggu dirinya. “Kau belanja sendiri?!” “Memangnya sama siapa lagi aku belanja?” jawabnya sembari memeluk kembali Kaena di belakang dan mengecup tengkuknya. “Jangan marah lagi, aku sungguh minta maaf dan tak akan mengulangi lagi.” Kaena berbalik. “Kael, bersikaplah baik sore ini. Kita harus bergaul dengan yang lainnya. Tidak mungkin kita berdua tidak membutuhkan bantuan orang lain. Kita berdua tidak mungkin selamanya bersama. Jadi aku mohon bersikap yang benar.” Dia mengangguk, “Baiklah Kaena, aku akan menuruti dirimu kali ini. Tapi aku mohon jangan dekat dengan pria lain. Aku bisa mati karenamu, aku jusa bisa membunuh orang lain karenamu. Jadi aku mohon jangan melakukan apapun.” “Baiklah, aku akan berkumpul sesama wanita saja. Sekarang duduklah di kursi itu karena perutmu sudah bunyi dari tadi.” Kael tak lagi bicara, dia dengan cepat menuju meja makan dan menantikan sarapan paginya. “Apa aku benar-benar butuh ini?!” dia terlihat bingung saat di mangkuk penuh dengan sayuran. “Pelan-pelan saja, minus matamu akan bertambah jika tak makan sayuran.” “Hah…” sembari mengeluh dia tetap memakannya, ya walaupun tak suka Kael tak akan mengecewakan Kaena yang memasak untuk dirinya. “Jangan pakai rok sore ini.” Kaena mengangguk, “Baiklah.” “Pakai baju yang menggunakan kerah tinggi.” “Oke.” jawabnya lagi. Kael kesal sekali tapi dia tak bisa mengungkapkan karena tak ingin Kaena malah jadi marah lagi padanya. Dia cukup takut ketika gadis ini tak bicara padanya. Mereka berdua menghabiskan waktu menonton film menjelang sore dan berangkat ke kampus. Keduanya masih saling diam dan tak seperti biasanya. Saat Kaena merebahkan tubuhnya di sofa, tiba-tiba Kael menghimpit dirinya dan mengambil posisi memeluk tepat di sebelah Kaena. “Janji tidak akan dekat laki-laki lain?!” Kaena kini tersenyum, dia teringat lagi masa-masa ketika masih sekolah di Berlin. Semua orang tak ada yang berani mendekatinya. Bahkan Kael menggunakan nama keluarga untuk menakuti orang-orang. Alhasil mereka berdua hanya memiliki satu sama lain sampai tiba di Amsterdam. “Kael, apa kau ingin mengulang masa-masa kita di Jerman? Aku bahkan hanya memiliki dirimu saja. Semua teman di sekolah takut mendekatiku. Bahkan teman wanita sekalipun.” “Maaf Kaena, aku hanya ingin kau memperhatikan diriku saja. Maaf karena membuat masa-masa sekolahmu suram.” Kaena mengusap rambut Kael lembut, “Jangan berkata seperti itu, aku juga suka berada di dekat dirimu karena semua hal bisa kau lakukan untukku. Tapi sekarang berbeda Kael, kita sudah dewasa dan wajib menikah suatu saat nanti.” Kael mengerti maksud Kaena, tapi tak ada wanita manapun di hatinya. Kael hanya cukup dengan Kaena saat ini, jadi dia tak berniat melakukan apapun. “Sudah hampir pukul 15.00 ayo bersiap kita harus ke kampus, bukan?!” “Iya.” jawab Kaena yang berdiri setelah Kael mengangkat tubuhnya. “Janji Kaena?!” Dia berbalik, “Astaga Kael.” “Oke!” Kael mengangkat kedua tangannya. Kaena bukan wanita yang terlalu lama berdandan karena memang sudah cantik pada dasarnya. Dengan atasan merah dengan kerah tinggi menutupi leher berpadu dengan celana jins membuat dirinya terlihat bak model. Rambutnya terurai panjang, warna hitam pekat menutupi wajah Kaena yang mungil. Kael menggigit bibirnya melihat Kaena. Tak ada yang salah dengan gadis itu, semua yang Kael inginkan sudah dia lakukan. Tapi entah kenapa dirinya tak suka. “Ayo kita akan terlambat kalau kau terus melihatku seperti itu.” Kael menunduk, bohong kalau tak ada pria yang tertarik padanya nanti. Kael sungguh takut sekali, dia tak ingin Kaena pergi ke kampus. Dia tak sadar betapa tampan dirinya saat ini. Kaena pun gelisah melihatnya, hanya saja dia bisa menutupi diri. “Kaena, aku sakit perut.” “Jangan alasan Kael, ayo! Aku bahkan hafal jadwalmu ke kamar mandi.” rutuknya. Kael hanya bisa menghela karena tak bisa membohongi Kaena. “Ingat janjimu.” ucap pria itu lagi. ”Baiklah Kael sayang.” jawab Kaena. Mereka pun tiba di kampus dan sesuai dugaan barisan mereka di pisah. Kael hanya bisa menatap Kaena dari jauh saja, hatinya gelisah apalagi saat para senior mulai mengabsen satu persatu. Di depan mata Kael, Kaena berkenalan dengan satu-satu senior dan bersalaman dengan mereka. Kael tahu wajah Kaena tak nyaman. Rasanya dia mau menghampiri gadis itu dan membawanya pergi. “Hey kalian, jangan ganggu dia. Apa kalian tak lihat saudara kembarnya sebentar lagi akan mengamuk?!” teriak seorang senior wanita yang kini berada di hadapan Kael. “Kalau kalian ingin menggoda dia setidaknya lebih tampan dari dia.” sambungnya lagi. “Ah kurang ajar kau.” jawab mereka semua. “Jatuh mental kita karena mulutmu, Kris.” Gadis itu terkekeh. Dia adalah ketua mahasiswa fakultas ini, fisiknya juga di kagumi. Selain dia pintar dan sangat pandai mengambil sikap. “Siapa namamu.” “Kael, Kak!” “Oke, selamat bergabung.” jawabnya menepuk bahu Kael. “Sekarang kalian semua buat lingkaran ya.” Mereka semua bersiap melakukan apapun yang di kehendaki para senior sampai malam tiba. Kini mereka semua kembali berkumpul untuk membuat BBQ. Kael berusaha mendekati Kaena tapi para senior memisahkan mereka kembali. “Untuk kali kalian harus pisah walaupun kami tahu kalian itu anak kembar yang punya keterikatan. Silahkan kembali ke tempatmu Kael.” ucap Kris tegas. Mau tidak mau Kael mengikuti apa yang di inginkannya. Semua acara hampir selesai, Kael asyik dengan pemikirannya bahkan dia lupa sudah beberapa jam tak melihat keberadaan Kaena. “Sekarang kalian boleh berdiri ini hampir subuh kita akan istirahat sebentar, Oke.” “Baik.” jawab mereka bersamaan. Kael mencari Kaena tapi tidak bertemu sama sekali di kerumunan para mahasiswa perempuan fakultas ini. Deg, jantung Kael terasa nyeri. Dia merasa kehilangan Kaena dan sakit sekali. Napas pria itu pun menggebu, dia tak bisa menghentikan langkahnya sampai seseorang berkata padanya. “Apa kau mencari Kaena? Dia bersama senior laki-laki ke sana!” ucapnya. “Terimakasih senior Kris.” Wanita dengan rambut panjang dan rambut putih itu mengangguk, “Santai saja Kael.” Kaki Kael terus melangkah, dia mendengar suara Kaena tertawa pelan. Dari jarak dekat dia melihat Kaena tersenyum pada seorang pria tampan bertubuh atletis yang sejak tadi memegang toah. Kael tidak tahu siapa namanya, tapi entah kenapa hati pria itu tak terima.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD