Selamat membaca,
Pagi itu Astha berjalan gontai menuju kelasnya. Semoga hari ini tidak ada kesialan yang menimpa dirinya batin Astha.
Saat berjalan di koridor sekolah Astha berpapasan dengan Deva kembaran si monyet Dean. Astha hendak menghiraukan Deva, namun Astha salah ternyata Deva mencegat Astha.
"Astha, tunggu.!" Ujar Deva.
Astha berhenti berjalan dan menoleh kearah Deva. Baru saja dirinya berdoa untuk di jauhkan dari ke sialan dan sekarang kesialan itu malah mendekatinya batin Astha.
"Apa?" Jawab Astha dengan ketusnya.
"Gue minta maaf soal yang kemarin, gue beneran gak sengaja." Ucap Deva.
"Udah?" Tanya Astha.
Deva hanya mengangguk. Astha kemudian berlalu meninggalkan Deva. Astha tidak ingin mengotori mulutnya dengan mengabsen satu persatu isi kebun binatang di pagi hari.
Deva yang melihat tingkah Astha hanya bisa diam dan menggelengkan kepalanya. "Kapan lo lihat gue sih Tha? Apa gue harus jadi Dean dulu baru lo mau ngelirik gue?" Ucap Deva lirih.
****
Hari ini Dean benar-benar semangat untuk masuk kelas, dia akan bertemu Astha dan duduk dengan Astha.
Walaupun Astha masih cuek tapi Dean tidak akan menyerah.
Sampai di kelas Dean langsung menuju bangkunya, di lihatnya Astha sudah duduk manis sambil membaca buku. Uh manisnya Astha, batin Dean.
"Pagi Tha.." sapa Dean.
Astha hanya menoleh sebentar lalu menatap buku pelajarannya lagi.
Dean harus bersabar, mungkin sekarang Dean harus bersikap lembut. Mungkin Astha masih kaget dengan pernyataan cintanya kemarin. Dean harus bersikap cool lagi, setidaknya dia tidak berbuat hal bodoh di depan Astha, dan membuat Astha emosi.
Hari ini tidak ada ulah sama sekali dari Dean, Astha pikir Dean sudah menyerah. Selama jam pelajaran Dean fokus memperhatikan penjelasan guru dan tidak mengganggu Astha sama sekali. Astha lega Dean sudah mundur, semoga hidupnya kembali normal tanpa harus di kejar-kejar cowok straight, batin Astha.
"Baiklah anak-anak saya akan memberikan tugas kelompok untuk kalian, kalian bisa berpasangan dengan teman sebangku kalian. Kalian harus membuat makalah tentang sejarah. Kalian bisa mendatangi museum atau tempat bersejarah lainnya. Saya beri waktu 2 minggu. Selamat siang" ucap guru matapelajaran IPS itu.
Semua anak bersorak setelah guru tersebut selesai memberikan tugasnya. Tak terkecuali Astha dan Dean. Namun bagi Dean ini adalah kesempatannya untuk bisa lebih mendekati Astha. Seenggaknya bisa jalan bareng sama Astha.
"Kenapa lo senyum-senyum sendiri? Mabok lo?" Tanya Astha.
"Enggak". Jawab Dean singkat.
Ini anak aneh banget dah pikir Astha, kemarin Out of caracter banget dan sekarang udah balik lagi jadi Radean Wijaya yang sesungguhnya. Astha hanya menggelengkan kepalanya.
Tiba-tiba ponsel Astha bergetar, notifikasi pesan masuk ke ponselnya.
From: Yuda
Astha, pulang sekolah bisa kita bertemu?
Begitu kira-kira bunyi pesannya.
Astha menghela nafas, akhirnya Yuda menghubunginya. Dan sekarang adalah kesempatan Astha untuk meminta penjelasan akan hubungannya dengan Yuda. Sudah dua minggu ini Yuda tidak menghubungi Astha sama sekali. Astha galau, bagaimana tidak. Dua minggu gak denger suara pacar? Gak denger kabar pacar? Bikin hati Astha patah semangat.
To: Yuda
Ok, di tempat biasa kak.
Balas Astha dengan senyum sumringah terpancar di wajahnya.
Tanpa Astha sadari, sedari tadi Dean menatap tingkah Astha yang tersenyum-senyum sendiri.
"Nah sekarang elo yang kesambet cengengas cengenges sendiri" ujar Dean.
Astha langsung merubah raut wajahnya dan menoleh kearah Dean.
"Sirik lo" ucap Astha.
Dean hanya mengangguk-angguk. Sabar Dean sabar, dalam hati. Dean tidak mau memancing emosi Astha hari ini.
****
Bel pulang sekolah berbunyi. Astha bergegas membereskan perlengkapan sekolahnya. Dean tampak heran yang melihat Astha buru-buru keluar kelas. Dean segera berlari menyusul Astha, Dean hendak mengajak Astha untuk pulang bareng atau lebih tepatnya Dean nganterin Astha pulang.
"Tha, tunggu" ujar Dean sambil menyamai langkah Astha.
"Apa sih, berisik banget" ujar Astha.
Astha berjalan sangat cepat menuju gerbang sekolah. Tubuhnya yang kurus dan tinggi membuat langkahnya terlihat enteng saat berjalan.
"Gue anter lo pulang ya?"
"Gak! gue ada urusan, minggir lo." Ujar Astha sambil mendorong Dean. Dean masih mengejar Astha.
Tak lama sebuah mobil Honda jazz berwarna silver berhenti di depan gerbang sekolah. Astha langsung berlari dan masuk ke dalam mobil itu. Dean penasaran, siapa yang menjemput Astha. Akhirnya Dean putuskan untuk mengikuti Astha.
Mobil honda jazz itu berhenti di sebuah pelataran cafe, Astha keluar bareng cowok. Cowok itu menggandeng tangan Astha. Dari kejauhan Dean memperhatikan gerak-gerik mereka. Dean kesal, jadi Astha sudah punya pacar? Kenapa dia gak jujur aja? Pikir Dean. Setelah Astha dan si cowok tadi masuk. Dean putusin buat ikut masuk ke dalam cafe itu. Dean duduk di dekat tempat Astha dan si cowok tadi duduk maksudnya agar Dean bisa mendengar percakapan mereka.
"Kakak kemana aja?" Ujar Astha bertanya pada cowok yang ada di hadapannya saat ini.
"Kakak sibuk, Tha. Tha, ada yang mau kakak omongin ke kamu. Ini soal hubungan kita." Ucap si cowok yang bernama Yuda itu.
"Aku kangen lho sama kakak" ujar Astha mengalihkan pembicaraan. Astha sebenarnya tahu, Yuda ingin bilang apa. Tapi Astha sungguh tidak ingin mendengarnya, Astha belum siap.
"Tha, maafin kakak" ujar Yuda.
"Kak, kakak mau pesan apa? Kita pesan makanan dulu yuk, aku laper nih" elak Astha lagi.
Dean yang mendengarnya, seperti menangkap sesuatu yang aneh dari percakapan mereka.
"Tha, maafin kakak. Kakak gak bisa lanjutin hubungan kita." Ujar Yuda.
Astha diam, hal yang tidak ingin Astha dengar akhirnya terucap juga. Yuda ingin mengakhiri hubungannya dengan Astha. Astha menatap kosong kearah Yuda, kemudian dia tersenyum getir.
"Gak usah bercanda kak,ini bukan hari ulang tahunku." Jawab Astha.
"Kakak gak bercanda Tha, orang tua kakak udah tahu tentang hubungan kita dan mereka minta kita buat pisah. Kakak gak bisa nolak permintaan mereka Tha. Kamu harus ngertiin posisi kakak Tha, kakak gak mau jadi anak durhaka." Jelas Yuda pada Astha.
Mata Astha mulai berkaca-kaca, kenapa hubungannya berakhir seperti ini.
Kemana janji-janji manis Yuda yang dulu dia ucapkan untuk Astha.
"Lalu, bagaimana dengan perasaanku? Apa kakak tidak memikirkannya?" Ucap Astha.
Yuda diam, kemudian memegang tangan Astha.
"Kamu bisa dapetin yang lebih baik dari kakak Tha." Ujar Yuda.
"Kakak yang terbaik buat aku, aku gak mau kakak ninggalin aku. Cukup kakak yang ada di hati aku." Ujar Astha memohon.
Yuda menggelengkan kepala dan melepas genggamannya dari tangan Astha.
"Maafin kakak, Tha. Kakak gak bisa lanjutin hubungan yang gak jelas akhirnya." Ujar Yuda.
"Maksud kakak?" Tanya Astha.
"Apa yangbkamu harepin dari hubungan dua orang laki-laki? Manikah? Punya anak? Hidup bahagia? Itu cuma khayalan Tha." Ujar Yuda.
Astha diam mendengar ucapan Yuda, kenapa bisa Yuda mengatakan hal itu.
"Kakak harus pergi dulu." Yuda kemudian beranjak meninggalkan Astha.
"Kak tunggu, aku mohon jangan tinggalin aku kak" ujar Astha sambil memegang tangan Yuda. Kini air mata Astha sudah mengalir di pipinya.
Tapi Yuda menghentakkan tangan Astha dan berlalu begitu saja.
Dean yang melihat Astha di perlakukan seperti itu geram, ia mengepalkan tangannya. Ingin sekali dia mengahmpiri si cowok itu dan menonjok wajahnya karena membuat Astha menangis.
Astha masih menatap ke arah depan, inikah akhir hubungannya dengan Yuda? Astha menangkupkan telapak tangannya di wajahnya. Astha menangis, biarlah orang-orang menatapnya aneh, hatinya saat ini benar-benar hancur. Orang yang ia sayangi meninggalkannya begitu saja.
Dean merasa kasihan melihat Astha. Dean ingin menghampiri Astha, tapi Dean tahu ini bukan saat yang tepat. Astha butuh waktu untuk menenangkan hatinya. Dean putuskan untuk diam dan tetap memperhatikan Astha.
30 menit berlalu Astha masih dengan posisi yang sama. Dean masih setia menunggu Astha. Ia tidak tega untuk meninggalkan Astha.
Tak lama Astha bangkit dan beranjak dari tempat duduknya, dia berjalan keluar dari cafe tersebut. Dean segera mengikutinya. Astha berjalan dengan gontai, kakinya seperti tidak kuat menahan tubuhnya sendiri.
Dean ingin sekali berjalan di samping Astha tapi Dean tahu dia hanya akan membuat Astha lebih emosi. Tiba-tiba Astha jatuh terduduk di trotoar. Dia menangis, Dean yang melihat Astha terjatuh langsung menghampiri Astha.
"Tha, lo gak papa kan?" Tanya Dean khawatir.
Astha mendongak dan mendapati wajah Dean.
"De, kenapa dia ninggalin gue? Kenapa?" Ujar Astha sambil memeluk Dean.
Dean kaget, Dean kira Astha akan marah-marah dan memakinya. Nyatanya Astha saat ini sangat rapuh, apa separah ini patah hati dengan pacar laki-laki, batin Dean.
Astha masih menangis sambil memeluk Dean. Dean tidak memperdulikan tatapan orang-orang di sekitar.
Saat ini mereka berdua sedang duduk di bangku taman kota. Astha menatap lurus ke depan dan Dean menatap Astha.
"Ngapain lo lihatin gue? " ujar Astha. Dean kira Astha bakal jadi Astha yang tadi, Astha yang rapuh, Astha yang butuh sandaran tapi, tidak sekarang sikap juteknya sudah kembali lagi.
"Gak boleh apa gue lihatin calon pacar gue?" Ucap Dean.
Astha tersenyum, "lo beneran mau pacaran sama gue?" Tanya Astha.
"Iya, Tha" jawab Dean.
"Tapi sorry gue gak mau" ujar Astha.
Dean kesal dengan jawaban Astha, kemudian Dean memutar pundak Astha agar berhadapan dengannya.
"Ijinin gue buat ngehapus luka di hati lo." Ujar Dean.
Astha menatap mata Dean dalam-dalam mencari sebuah kebohongan yang mungkin dia sembunyikan. Tapi tidak ada, di sana sama sekali tidak ada kebohongan.
"Sorry, gue gak bisa" ucap Astha sambil melepas lengan Dean di pundaknya.
"Kenapa Tha? Karena lo masih suka sama tuh cowok yang tadi putusin elo?" Ucap Dean.
"Itu lo tahu," jawab Astha.
Astha menghela nafasnya, tadi setelah menangis Dean membawa Astha ke sebuah taman. Lalu Dean menenangkan Astha, setelah itu Astha menceritakan semuanya kepada Dean. Entahlah apa yang membuat Astha mau menceritakannya pada Dean.
Dan terdamparlah mereka saat ini di sebuah taman kota.
"Elo itu cowok tulen njing, lo gak usah nyoba-nyoba buat jadi gay" ujar Astha.
Dean masih diam mendengar ucapan Astha. Dean tahu ini mungkin tiba-tiba tapi sebenarnya Dean sudah lama sekali memendam rasa untuk Astha, namun Dean selalu menepisnya. Ia kira perasaan itu cuma perasaan suka untuk teman lelaki nyatanya bukan. Perasaan itu berbeda dengan yang biasa ia rasakan.
"Gue gak nyoba-nyoba, dan gue tulus sama elo Tha," ujar Dean mantap.
"Tulus? Semua bilang tulus dan akhirnya putus. Semua bilang cinta dan akhirnya pergi. Semua bilang sayang tapi akhirnya nyakitin. Entah De, gue udah gak bisa percaya." Ujar Astha.
Dean menatap Astha, sebegitu terlukanya kah Astha sampai ia tidak bisa membuka hatinya lagi?
Tbc.....