Bab 4

1621 Words
Hukuman yang diberikan Dave sangat merepotkan. Pagi-pagi sekali Dave menyuruhnya bersiap, dia bahkan menggeret tubuh Ditha ke kamar mandi. Patah hati membuat Ditha menjadi pemalas. Makan pun harus dipaksa, jika tidak wanita itu tidak akan makan. Hari ini Dave sudah menentukan hukuman apa yang akan diberikannya pada Ditha. Cukup mudah, seharian ini Ditha harus menuruti semua ucapannya. Pagi-pagi Ditha diajak pergi ke kantor. Seperti b***k, Ditha menuruti apa pun perintah Dave. Menyuruh ini, menyuruh itu, lakukan ini dan lakukan itu. Jika saja Ditha tidak berbuat salah, dia benar-benar akan memaki Dave. "Bawakan ini." Dave menyuruh Ditha membawakan setumpuk berkas. Tidak biasanya Dave membawa berkas sebanyak ini ke kantor. Sepertinya Dave memang sengaja ingin mempersulit Ditha. "Ayo cepat sedikit!" Banyak pasang mata yang memperhatikan mereka. Beberapa karyawan kantor bahkan sampai para OB dan OG memperhatikan mereka. Mungkin ada yang akan berangkapan kalau Ditha adalah kekasih Dave, karena sejujurnya Ditha jarang datang ke sini. Terakhir kali datang ke sini saat umurnya 9 tahun, waktu itu ada acara perayaan ulang tahun perusahaan. "Dave, kamu sengaja mau buat aku kesulitan?" tanya Ditha menggerutu. Kesedihan yang tertahan dalam hati kini tergantikan oleh kekesalannya pada Dave. Dari dulu Dave memiliki hobi mempersulit dan mengekangnya. Apalagi saat masa-masa sekolah, Dave malah bersikap seperti pacar posesif. Di umur 18 tahun, barulah dia bisa merasakan yang namanya kebebasan dari kekangan manusia bernama Dave. "Diam saja atau aku akan lebih mempersulitmu. Ingatlah kesalahan apa yang sudah kamu berbuat, seharusnya kamu bersyukur," kata Dave tanpa menatap Ditha. Ditha berdecak sebal. Lihatlah wajah songongnya itu, dia ingin sekali mencabiknya. Andai kesalahannya bisa dibayar dengan uang maka dia akan meminjam uang pada sepupu-sepupunya. Uang tabungan sudah terkuras habis. Ayahnya melarang meminta pada siapa pun selain pria itu sendiri, Dave dan Aletha. "Dhita, apa kamu memohon-mohon di depannya, agar dia tidak meninggalkanmu?" Dave bertanya, menatap Ditha. Sambil menunggu jawaban dari Ditha, Dave mengajaknya masuk ke dalam ruangan. Jantungnya berdegup dengan sangat kencang. Ditha sangat mengenal siapa itu Dave. Seorang pria cuek dan dingin, sering sekali menebak-nebak situasi dengan sangat tepat. Misal Ditha sedang berada di suatu tempat, dan saat itu Dave sedang berteleponan dengannya. Dari suaranya saja Dave sudah bisa menebak hal apa saja yang Ditha lakukan. Pria itu memang sering menebak dengan tepat, tapi Dave juga manusia biasa, kadang tebakannya meleset. "Benar 'kan? Apa kamu juga bersujud di depannya? Sambil menangis-nangis?" Ditha diam. Dave tersenyum sinis. "Cih, memalukan. Benar-benar memalukan." "Dave, berhentilah mengejekku. Fokus saja pada pekerjaanmu. Aku akan di sini siap membantumu, Tuan Davean Bhatia Cowdree." Ditha menyatukan kedua telapak tangannya memohon. "Silakan duduk Tuan, aku juga akan duduk." "Aku duduk, kamu enggak boleh duduk." "Gila," gumam Ditha pelan. *** Kakak mana yang tega menyuruh ini itu tanpa membiarkannya duduk atau minum sedikit pun. Rasanya kaki Ditha sudah mati rasa, seharian menjadi b***k Dave. Julukan yang diberikan adik sepupunya tentang seorang Davean Bhatia Cowdree yang tidak punya hati dan perasaan memang benar. Sudah hati Ditha sedang patah, ditambah Dave membuatnya semakin sengsara. Kepalanya tiba-tiba berdenyut nyeri. Semakin lama dibiarkan, kepalanya semakin nyeri seperti ditusuk-tusuk. Kakinya sedikit bergetar, tidak kuat menahan beban tubuhnya lagi. "Dave ...," panggil Ditha lemah sambil meremat kepalanya. Dave mendongkak, menatap saudarinya datar. "Jangan banyak drama, deh. Sekarang ambilin aku secangkir teh." Pria bodoh, saudarinya sedang kesakitan malah diperintah membuatkannya teh. Percuma saja Ditha menggerutu dalam hati, Dave keras kepala, pria itu tidak akan pernah mempercayainya lagi. "Dave ...." Bruk! Ditha pingsan! Sontak saja Dave bangkit dengan wajah terkejut. Segera dia membopong adiknya, dan membawanya ke rumah sakit. Dalam perjalanan, Dave tidak berhenti-berhenti melirik adiknya. Perasaan bersalah serta khawatir langsung menyelimuti dirinya. Apa mungkin dirinya sudah kelewatan tadi? *** Dave, Aletha dan Davier menunggu Ditha sadarkan diri. Sampai saat ini, Aletha dan Davier tidak mau membuka suara mereka. Dokter yang memeriksa Ditha mengatakan kalau maag Ditha kambuh, kemungkinan Ditha tidak memakan makanannya dengan benar. Ditambah kejadian yang menimpa Ditha, membuat wanita itu stress. Terakhir kali maag Ditha kambuh, dia dirawat seminggu di rumah sakit. Lambung dia sering bermasalah, untuk itu keluarganya selalu mengatur makanan dan jadwal makan Ditha. Walau Ditha suka sekali merengek, tidak ingin diatur-atur lagi tapi keluarganya tetap memaksa. Semuanya mereka lakukan demi kebaikan Ditha sendiri. Davier menghela nafasnya panjang. Tangannya terulur mengusap rambut putrinya. Sedih sekali melihat putrinya seperti ini, telah diperdaya oleh lelaki asing yang telah seenaknya masuk dan keluar dari hidup putrinya. Davier pikir, dengan dibiarkan memilih apa pun yang Ditha suka, Ditha akan bahagia. Salah, ternyata salah besar. Kebahagiaan yang terpancar di wajah Ditha hanya singgah sebentar saja. "Kamu apakan Ditha, Dave?" tanya Davier dingin, tidak menoleh sedikit pun ke arah Dave. Tatapannya saat ini hanya terfokus pada putrinya seorang. "Jawab Dave," desak Aletha, menginginkan jawaban cepat dari putranya. "Ma, Pa. Kalian denger 'kan dokter tadi bilang apa? Kenapa kalian menyalahkanku?" tanya Dave tidak menerima tuduhan mereka berdua. Sudah jelas dokter mengatakan kalau maag adiknya kambuh, tapi mungkin hukuman darinya menambah buruk kondisi Ditha. "Oke! Aku membawanya ke kantor! Aku menyuruhnya ini dan itu, Aku kesal padanya dan pada pria itu. Jadi, I'm sorry ...." "Hohoho, Nak. Santai," kata Davier sambil tertawa kecil. Pria itu bangkit dari duduknya, menepuk-nepuk bahu putranya pelan. Dave sangat menyayangi Ditha, Davier tahu itu. Melihat Dave seperti ini, Davier teringat masa mudanya dulu. Sikap over protektif, membuat adiknya tertekan. Untunglah Dave tidak lebih parah dari dirinya dulu. "Kamu berbicara seperti ibumu, kelihatan sekali kalau kamu merasa bersalah." Lagi-lagi Davier tertawa, dia mengalihkan pandangannya menatap Aletha. "Ayo kita pergi, dia yang akan menemani Ditha sampai sembuh." Aletha membelalakkan matanya. "Vier!" tegas Aletha kesal. Anaknya sedang terbaring lemah di rumah sakit dan suaminya malah mengajaknya pulang. Setidaknya tunggu sama Ditha sadar. "Ada Dave, lagian ini rumah sakit keluarga kita. Ada kedua adikku dan anaknya di sini, kau tidak perlu khawatir," jelas Davier menatap Aletha dengan tatapan sesuatu—seperti memberikan kode untuknya agar ikut keluar. Davier menggenggam tangan Aletha keluar dari ruangan Ditha. Sedari tadi perhatian Dave tertuju pada mereka berdua. Mereka—Aletha dan Davier seperti merencanakan sesuatu atau memang mereka sengaja membiarkan menunggu di sini. Jika memang sengaja, Dave tidak masalah tapi kalau merencanakan sesuatu, Dave keberatan. Seperti tempo lalu, mereka sengaja mempersulit dirinya karena Dave telah mengacaukan kamar Ditha. Waktu itu dirinya masih berumur belasan tahun, masih labil dan pemarah, beda dengan sekarang jauh lebih dewasa dan lebih mengerti apa yang baik dan buruk. Kelopak mata Ditha perlahan terbuka. Pandangan wanita itu beredar dan terhenti pada Dave. "Maaf, Dev. Aku nyusahin kamu," lirih Ditha. "Jangan banyak bicara. Di sini aku yang salah. Kamu enggak perlu ngomel-ngomel, cukup diam dan tenang di sini." Dave bangkit dari duduknya, mengambil mangkuk berisi bubur. "Kamu makan dulu." Pria itu mengaduk-adukkan bubur sebentar, mengaduknya seperti apa yang dilakukan orang-orang— membiarkan bumbu teraduk rata pada semua bagian. Adiknya sangat suka memakan bubur diaduk, katanya memakan bubur tanpa diaduk dijuluki sebagai psikopat. Entah dari mana adiknya mendapatkan berita mitos seperti itu. "Gila," desis Ditha. Kini, bukan perasaan bersalah lagi yang muncul dalam hatinya tetapi rasa kesal. Dia menganggap urusannya dengan Dave dianggap selesai. Tentu saja selesai, pria itu sudah memperbudaknya sebagai hukuman. Masalah selesai begitu pun hukumannya. "Apa? Ayo makan." Dave menyodorkan sesendok bubur ke mulut Ditha. "Makan saja Ditha, jangan membuatku naik pitam." Paksanya, menempelkan ujung sendok di bibir Ditha. Hidup satu atap dengan Dave tidak menjamin otaknya akan menjadi waras. Dave sangat disegani oleh seluruh anggota keluarga besarnya. Dia pria yang bisa diandalkan. Dalam urusan bisnis, atur-mengatur segala hal dan mengancam seseorang. Menurut orang Ditha wanita yang sangat beruntung memiliki kakak yang sangat bisa diandalkan. Itu menurut orang, beda halnya dengan Ditha sendiri. Dave bukan pria sempurna, ya, tidak ada yang bisa mengubah takdir Tuhan, bahwa semua manusia tiada yang sempurna. Hanya orang tidak waras saja menyuapi adiknya disaat adiknya sedang terbaring. Tingkah dan jalan pikir Dave kadang di luar logika manusia. Pantas saja, tidak ada satu pun wanita yang berani mendekati Dave. Memang tampan, mapan, sukses dan nyaris sempurna, tapi anehnya tidak ada satu pun yang berani. Mungkin saja, Dave jelemaan monster, ya itu mungkin saja. Lihat saja wajahnya, pria itu sepertinya geram karena Ditha menolak suapannya. Dalam hati dan pikiran Ditha sedang menerka-nerka, apakah Dave akan menyobek bibirnya karena telah membuat Dave kesal? Atau malah menyumpal semangkuk bubur langsung ke dalam mulutnya. "Dave gila," desis Ditha lagi, bangkit dari posisi tidurannya. "Sudah hilang sakit hatinya? Sepertinya aku harus membuatmu kesal, agar kamu bisa melupakan si br*ngsek itu," Dave bertanya dengan nada menyindir, kembali menyodorkan sesendok bubur ke mulut Ditha. Kali ini Ditha menerima suapan itu, mengunyahnya perlahan lalu langsung menelannya. "Jangan mengingatkan itu, Dave. Itu semua membuat hatiku sakit," ucapnya pilu, "kamu belum merasakan apa itu patah hati. Bagaimana kamu mencintai seseorang lalu seseorang yang kamu cintai tiba-tiba pergi, seenaknya hatiku dibawa pergi ke atas lalu dijatuhkan." Dave mendengarkan cerita adiknya dengan saksama sambil menyuapi adiknya. Di dalam mata adiknya terdapat banyak sekali kesedihan. Mendengar itu semua membuat hatinya meringis, ikut merasakan kesedihan Ditha. Setelah bubur di mangkuk habis, Dave bangkit mengambilkan segelas air mineral, memberikannya pada Ditha. "Bisa?" Dave bertanya ketika melihat tangan Ditha kesulitan meraih gelas. "Bisa," jawab Ditha memaksa, tapi langsung ditahan oleh Dave. Pria itu membantu adiknya minum. "Andai aja ada dokter yang bisa menyembuhkan sakit hati, mungkin aku akan memanggilnya. Aku akan bertanya apa obat sakit hati pada Zio." "Zio?!" pekik Ditha tak percaya. Zio adalah adik sepupunya. Pria itu pernah ditolak oleh seorang perempuan dan sampai sekarang Zio masih saja mengejarnya. Dia sering merenung, ada perkumpulan keluarga pun dia tidak suka datang. Beralibi sibuk, ya, sibuk mengurusi hatinya. "Ya memangnya kenapa? Dia pawang patah hati." Ditha tertawa terpingkal-pingkal, perutnya bahkan sakit mendengar usulan Dave. "Sampai sekarang dia masih patah hati, dan kamu mau tanya ke dia? Gimana!" Ceklek! "DITHA!!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD