Bab 15

2212 Words
Di grup online Dhita mengabari kalau hari ini adalah hari pembukaan cafe barunya. Sebagai sahabat yang baik, sesibuk apa pun, Gisel dan Agam akan tetap datang di hari spesial sahabatnya. Sebelum Dhita datang mereka lebih dulu datang. Mereka ingin membuat kejutan. Pada saat Dhita datang, wanita itu akan terkejut melihat mereka datang. Semalam, Agam dan Gisel meminta maaf pada Dhita, tidak bisa datang di acara pembukaan cafe terbaru Dhita. Lihat saja, Dhita pasti terkejut melihat Agam dan Gisel ada di sini. Cafe terbaru Dhita super unik dan terlihat mewah. Perpaduan warna yang sangat memanjakan mata. Agam terpesona dengan cafe ini dalam sekali pandang. Sama halnya seperti Dhita membuka cafe untuk pertama kalinya. Selera Dhita patut diacungi jempol. Luar biasa, mengagumkan. Jauh-jauh Agam datang dari Surabaya ke Jakarta. Menipu Dhita dengan wajah konyol serta menunjukkan beberapa tumpukan berkas yang belum terselesaikan. Sama halnya seperti Agam, Gisel juga menipu Dhita. Mengatakan jikalau mereka memang benar-benar sibuk. Sebenarnya Dhita tidak mempermasalahkan soal itu. Dhita mengerti dan percaya soal kesibukan mereka. Tanpa ditunjukkan kesibukannya seperti apa pun Dhita akan percaya. Demi menambah rasa percaya Dhita, Agam dan Gisel menunjukkan betapa sibuknya mereka. Hal yang sebenarnya terjadi adalah, pekerjaan mereka berdua bisa ditunda. Agam dan Gisel bekerja di tempat yang berbeda. Namun dengan posisi yang sama, karyawan tetap. Tidak lagi, Agam akan naik jabatan menjadi manager keuangan. Seselesai pekerjaannya di Surabaya, jabatannya akan naik dan segera pulang kembali ke Jakarta. Dengan begitu, dia bisa terus didekat sahabatnya dan juga Gisel, tentunya. Sebuah mobil taxi berhenti. Seorang wanita cantik memakai dress berwarna biru pastel turun. Rambut panjangnya di ikat atas. Dhitania lebih mirip seorang artis yang turun dari mobil dan menuju berjalan di red carpet. Cantik sekali, wajahnya bersinar tatkala sinar matahari pagi memancar. “Dhitania, selamat!” seru Agam dan Gisel kompak. Sebelum Dhita membalikkan badan, Gisel terlebih dahulu memeluk Dhita. Diikuti dengan Agam, memeluk Dhita di samping kiri sementara Gisel memeluk Dhita dari samping. “Selamat Dhita sayang!” seru Gisel sekali lagi. Dhita tidak bisa berkata-kata lagi. Tiba-tiba dia dikejutkan oleh kedatangan kedua sahabatnya. Sudah dikabari semalam dan dia sangat berharap kedua sahabatnya bisa datang. Namun dilihatnya mereka berdua sedang sibuk, jadi dia bisa apa? Dia juga tidak bisa memaksa mereka berdua untuk datang demi acara kecil seperti ini. Tidak disangka, Agam dan Gisel datang ke sini—mengejutkannya. “Kalian ‘kan sibuk, gimana si? Minta maaf sambil nangis, nunjukin kerjaan. Kurang ajar banget ternyata nipu?” Kesal Dhita, melepaskan pelukan Agam dan Gisel. Gisel dan Agam tertawa terbahak-bahak. “Surprise!” teriak Gisel di telinga Dhita, suara tawanya tidak surut, “Pokoknya selamat! Keren Dhit, cafe-nya. Nanti aku sama Agam sering dateng ke sini. Karena ...,” ucap Gisel menggantung, melirik Agam sekilas lalu menatap Dhita, “karena sebentar lagi Agam akan kerja di sini! Akhirnya bisa kayak dulu lagi. Biasanya kita double date—“ Belum sempat Gisel melanjutkan ucapannya, Agam lebih dulu menyikut lengannya. Double date? Benar, dulu, Dhita, Biandika, Agam dan Gisel sering keluar bareng, sebut saja double date. Mengingat itu hatinya sesak. Kenangan bersama Bian berputar, menyerobot masuk memenuhi pikirannya. Dhita tersenyum, memaksakan diri untuk kuat. Kenangan bersama Bian terlalu banyak. Perpisahan ini tidak terlalu menyakitkan karena adanya Daniel. Namun mengingat kembali masa-masa bersama Bian, berjalan-jalan, liburan bersama, joging bareng, makan, dan melakukan hal-hal lain yang membuat hatinya bahagia. Dulu, tahun pertama dia begitu menyenangkan. “Sorry, Dhit. Aku gak bermaksud buat ingetin kamu,” kata Gisel merasa bersalah. “Manusia b*engsek itu enggak pantes buat diinget, Dhit. Udah jangan diinget. Ini hari bahagia! Cafe baru kamu keren, dua jempol!” timpal Agam menunjukkan dua ibu jarinya ke atas. “Siapa yang inget dia, males banget. Bye the way, ini bukan milik aku sepenuhnya. Aku sama Daniel yang ngurus cafe ini, berdua.” “Berdua? Jadi cafe ini, bukan punya kamu sepenuhnya?” tanya Agam terkejut. Dhita mengangguk. “Cafe ini milik Daniel Bagaskara, aku cuma bantu di—” “Punya Dhitania, saya yang cuma bantu,” potong seseorang yang baru saja datang. Mata Dhita, Agam dan Gisel refleks tertuju ke sumber suara. Ada seorang pria berpenampilan rapi berjalan santai menghampiri perkumpulan orang yang sedang mengobrol. Daniel Bagaskara, orang yang baru saja Dhita perbincangkan muncul memotong ucapannya. Kemeja berwarna putih, dibalut dengan jas berwarna hitam yang Daniel kenakan saat ini seperti seorang atasan di kantor. Dengan pembukaan cafe yang sederhana ini, Daniel tampil dengan sangat mewah. Dhita tidak heran, memang Daniel menyukai berpakai formal. Namun jika dibanding memakai pakaian kasual, Daniel lebih cocok. Bukan berarti memakai pakaian formal seperti sekarang ini tidak cocok, sama-sama cocok. Hanya saja Dhita akan merasa canggung. Sama seperti Dave, hari—hari pria itu memakai setelan jas atau tuxedo. Sangat membosankan melihatnya. Ternyata bermula dari pakaian juga, tingkat kecanggungan dan keakraban terjadi. Dhita contohnya, satu-satunya orang yang berpikir seperti ini. Apakah ada yang sama sepertinya? Saat orang berpakaian kasual, dia jadi merasa santai dan juga sebaliknya. “Oh ya, Daniel ini kedua sahabat aku, Gisel dan Agam. Dan Gisel, Agam, ini Daniel, partner aku,” ucap Dhita memperkenalkan sahabatnya pada Daniel dan memperkenalkan Daniel pada sahabatnya. Daniel menjabat tangan Agam. “Daniel Bagaskara.” “Agam.” Kemudian Daniel beralih menjabat tangan Gisel. “Daniel.” “Gisela Anastasya.” Daniel tersenyum tulus. “Senang bertemu kalian.” Tatapannya kembali beralih pada Dhita. “Kita mulai aja? Orang-orang yang berlalu lalang udah kumpul di depan cafe.” Dhita mengangguk antusias, menoleh ke Agam dan Gisel—menyuruh mereka agar mengikutinya. Benar saja, cafenya sudah dipadati banyak orang. Hari ini sesuai rencana, Daniel dan Dhita akan uji coba gratis. Tidak hanya itu, Daniel dan Dhita akan turun tangan langsung membantu karyawan. Di cafe ini tersedia berbagai macam coffe, cake, minuman dan makanan cepat saja seperti pizza, burger, kentang goreng dan lain-lain. Ada sekitar tujuh karyawan di cafe ini. Tempat yang di dekorasi unik dan berbeda dari yang lain akan menambah nilai plus untuk cafe ini. Daniel yang memandu, berpidato singkat mengenai cafe ini. Dari awal sampai akhir kata dari pidato. Dhita menyadari, Daniel pandai publik speaking. Daniel memberikan Dhita sebuah gunting berpita merah. Di depan pintu cafe sudah terpasang pisah merah. Dhita mengambil gunting itu lalu berjinjit, menyamai tinggi Daniel setidaknya sampai telinga pria itu. Daniel yang sadar langsung membungkukkan badannya. “Bareng-bareng aja, Niel. Ini juga cafe milik kamu,” bisik Dhita. Tiba-tiba tubuhnya tersenggol oleh seseorang di sampingnya, menyebabkan tubuhnya menubruk tubuh Daniel. Dhita yang sedang berbisik, tanpa sengaja bibirnya bersentuhan dengan pipi Daniel. Satu detik Dhita terdiam, saat sadar cepat-cepat dia kembali ke posisi semula. Apa ini? di hadapan semua orang. Betapa malunya dia, tidak sengaja mencium pipi Daniel. Pipi Dhita memerah. Entah apa yang Daniel pikirkan sekarang. Orang-orang yang melihatnya, pasti mengira dia sengaja menciumnya. Mereka tidak mempersalahkan soal itu karena mereka kira, dia dan Daniel berpacaran. Konyol memang. Lihat saja di sana, ada Gisel yang cekikkan sambil menunjukkan sebelah ibu jarinya ke atas sementara Agam yang menatap Dhita curiga. “Ma-maaf, Kak. Saya enggak sengaja,” ucap seorang gadis berseragam sekolah. Keringat dingin bercucuran di pelipisnya, sesekali melirik ke belakang. “Enggak papa. Ini jam sekolah, kenapa kamu ada di luar? Enggak sekolah?” “A-aku, sekolahku ada rapat jadi murid diliburkan,” jawab gadis itu gugup. Lagi-lagi dia menoleh ke belakang. Dhita yang penasaran apa yang gadis itu lihat pun memicingkan mata, melihat apa yang gadis itu lihat. Tidak ada, tidak ada yang mencurigakan. Daniel menggenggam tangan Dhita, mengarahkan guntingnya lalu membantu wanita itu memotong pitanya. Suara riuh tepuk tangan bertebaran kala pitanya tergunting. Dhita mendongkak, menatap Daniel. Wajahnya memanas, telinganya berdengung dan jantungnya berdegup kencang. Suara tepuk tangan dan Daniel yang bicara pada semua orang nyaris tidak terdengar di telinganya. Setelah Daniel menyuruh pengunjung untuk masuk, Daniel menariknya ke sisi—membiarkan para pengunjung masuk ke dalam cafe. Dhita melamun, mendengarkan suara jantungnya yang masih berdegup kencang. Daniel menyentuh bahu Dhita, sesaat Dhita tersadar dari lamunannya. “Ayo masuk, Dhit,” ajak Daniel tanpa melepaskan genggaman tangannya. Tatapannya teralih ke Agam dan Gisel, “kalian juga masuk, silakan pesan sesuka hati kalian. Ayo.” Setelah itu, Daniel dan Dhita masuk ke dalam, dengan Daniel yang setia menggenggam tangan Dhita. Sedangkan Agam dan Gisel saling bertatapan, memperhatikan tangan Dhita yang digenggam oleh Daniel. Gisel tertawa, merasa senang sekali sahabatnya sudah bisa melupakan Biandika dan membuka hati lagi. “Kalian duduk dan pesan aja ya. Kita berdua ke sana dulu,” ucap Daniel pada Gisel dan Agam. Gisel mengangguk. “Iya, Daniel. Kami nanti pesan, boleh pesan apa pun ‘kan?” tanya Gisel sambil cekikkan. “Of course. Boleh pesan apa saja,” balas Daniel, mengulas senyuman tipis, “kalau gitu. Kami pergi dulu ya.” Gisel mengangguk, lantas Daniel dan Dhita pergi meninggalkan mejanya dan Agam. “Dhita kenapa si, diem aja. Perasaan tadi semangat banget. Abis nyium pacarnya di tempat umum jadi berubah. Kamu ngerasa enggak si, mereka cocok? Apa mereka sebenernya pacarnya ya? Parah banget ‘kan Dhita gak ngasih tahu kita?” oceh Gisel. Sikap Dhita langsung berubah, diam dan melamun. “Dhita tuh enggak pacaran sama Daniel. Dia diem aja karena ngerasa bersalah udah cium dia di tempat umum. Keliatan banget kok tadi, ada cewek yang gak sengaja dorong dia,” jelas Agam. Dari yang dia lihat memang seperti itu. Dhita merasa sangat risih dengan sikap Daniel, “Dhita itu sahabat aku dari kecil, jadi aku tahu. Tadi aja aku aneh banget, jarang loh baru deket langsung seakrab ini.” “Dhita emang baik, gampang akrab sama dia. Waktu ‘kan udah berubah, Dhita udah dewasa sekarang. Lagian kalau mereka gak pacaran, mungkin on the way? Cocok si, cocok banget malah. Gimana menurut kamu Gam?” “Menurut aku gak cocok dan aku gak setuju. Cukup Biandika aja yang udah buat hati Dhita terluka. Aku gak mau ada cowok-cowok lain, sama kayak Biandika.” “Tapi ‘kan gak semua cowok sama kayak Bian. Contohnya kamu ke aku, kamu cowok ter-spesial, terbak, terkeren dalam hidup aku. Mungkin begitu juga Daniel di hidup Dhita,” bela Gisel, menginginkan sahabatnya move on dan beralih ke pria baru. Daniel contohnya. “Dulu juga Dhita nganggap Biandika kayak gitu. Kamu lihat sendiri ‘kan betapa lebaynya Dhita pas sama Biandika. Mana tergila-gila banget sama Biandika, dia kalau udah cinta sama orang bakal cinta banget, kalau udah benci, dia bakal benci banget.” “Kalau Daniel emang baik buat Dhita, ya gak papa dong?” “Kita enggak bisa nilai orang Cuma sekali ketemu, Gisel Anastasya, cantikku.” Agam masih mempertahankan argumen. Kali ini dia tidak akan membiarkan pria seperti Biandika masuk ke dalam kehidupan Dhita lagi. “Kalau Dhita suka sama Daniel, kamu bisa apa? Agam Gajendra?” “Kamu bela cowok itu terus, kamu suka ya?” tuduh Agam membuat Gisel melotot. Wanita itu melayangkan tangannya ke bahu Agam, memberikanAgam pukulan kecil. “Enggak Agam, aku cinta sama kamu. Cinta banget malah, kamu cemburu ya?” “Enggak,” jawab Agam jutek, mengambil buku menu lalu melihatnya detail. “Cie, cemburu. Cie ... Agam Gajendra, pacarnya Gisel Anastasnya cemburu,” goda Gisel sedari menoel-noel tangan kekasihnya. “Kamu mau pesen apa?” tanya Agam, mengalihkan topik pembicaraannya. “Cie ... Agam cemburu,” lagi Gisel senang menggoda Agam. Pria itu berdiri, menghampiri Gisel. Cup! Agam mengecup bibirnya. Gisel terdiam, menoleh ke kanan dan ke kiri memastikan perbuatan Agam tidak sampai terlihat oleh orang lain. “Mau lagi? Kalau kamu terus ngomong apalagi goda aku, langsung aku sikat bibir kamu.” “Sikat?” “Cium, sampai kamu kehilangan nafas.” *** “Daniel, soal tadi ... sorry. Aku bener-bener gak sengaja, tadi ada yang dorong aku. Aduh aku ngerasa gak enak banget nih sama pacar kamu,” jelas Dhita sangat merasa bersalah. Pasalnya Daniel sudah memiliki kekasih dan lagi hubungannya dengan Daniel hanya sebatas partner. “Enggak papa, Dhita. Aku tahu kamu gak sengaja, enggak usah ngerasa bersalah. Lagian kalau pacar aku ada pun, dia gak akan marah karena dia tahu kalau kamu gak salah,” ujar Daniel yang entah mengap membuat hati Dhita terasa sangat nyeri, “bahagia dong, Dhit. Ini kan hari bahagia, gak seharunya kamu sedih. Ini cuma masalah kecil. It’s oke, no problem. Kamu mau kecup pipiku sengaja juga gak masalah. Kamu teman saya, sahabat saya.” “Jadi semua teman kamu, bebas kecup pipi kamu?” Daniel mengangkat bahunya. “Cuma kamu.” “Daniel, stop sampai di sini aja. Kita teman, sahabat, partner kerja, tapi kamu jangan buat saya baper. Kamu udah punya pacar, seharusnya kamu bisa hormati pacar kamu.” “Kamu percaya kalau saya punya pacar?” “Jadi kamu gak punya pacar?” Daniel tersenyum tipis. Senyuman itu tampak tidak tulus, lebih tepatnya karena terpaksa dibentuk. Kepalanya tertunduk, tatapannya tertuju ke lantai. Tidak lama kemudian dia mendongkak, menatap Dhita. “Dulu, lima tahun yang lalu aku punya pacar dan pacar saja udah dipanggil sama Tuhan. Menurut kamu aku ini masih pacaran gak si? Aku atau pun dia belum ada kata putus. Jadi hubungan kami udah berakhir atau enggak?” Ah, ternyata seperti ini. kekasih yang Daniel maksud sudah pergi ke sisi Tuhan. “Menurut aku berakhir. Suami istri aja, kalau salah satu dari mereka meninggal, hubungan dinyatakan berakhir. Kembali lagi ke masing-masing, kamu mau kayak gini terus sampai nyusul pacar kamu nanti?”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD