Bab 11

1442 Words
“Dhita?” Dhita dan Gerald menoleh ke sumber suara, kening keduanya berkerut saling bertanya dalam tatapan mata. Seorang pria tampan memakai kacamata tipis tersenyum ke arah Dhita membuat Gerald langsung menatap pria itu emosi. Beraninya memberikan senyuman menggoda ke adiknya sedangkan Dhita masih memikirkan ulang, apakah dia kenal dengan pria itu. Ah, baru ingat, pria itu Daniel! Pemilik cafe Daisy. “Daniel ‘kan?” Pria bernama Daniel mengangguk antusias, dia menjulurkan tangannya ke hadapan Dhita mengajaknya bersalaman setelah itu beralih ke pria di sebelah Dhita. Daniel sedikit membungkuk, memberikan salam. “Daniel, Kak. Daniel Bagaskara, mohon maaf mungkin kedatangan saya ini membuat Kakak kaget.” “Geraldi, kakak Dhitania. Kamu sendiri ada hubungan apa dengan adik saya?” Daniel berdehem singkat. “Saya partner Dhita, Kak. Bagi saya, Dhita adalah atasan saya karena dia telah menyelamatkan cafe peninggalan keluarga saya. Saya tidak tahu harus membalas bagaimana.” Gerald mengangguk-anggukan kepalanya kemudian menepuk bahu Dhita pelan. “Langsung pulang ya, kalau mau keluar dulu kabarin Dave. Sekarang Kakak mau langsung ke rumah sakit,” bisik Gerald seraya mengecup kening Dhita setelah itu pergi tanpa mengatakan sepatah kata pun pada Daniel. Dhita memperhatikan punggung Gerald yang semakin menjauh lalu hilang di balik dinding. Suasana restoran semakin ramai didatangi oleh pengunjung, Dhita meminta Daniel berbicara di tempat yang tak terlalu ramai akhirnya Daniel memutuskan berbicara di cafenya saja ralat cafe mereka. Daniel tampil berbeda, lebih santai dan juga tampan tentunya. Baru kali ini, Dhita langsung terpikat oleh pesona seseorang. Padahal Dhita sudah bertemu berpuluh-puluh pria tampan lainnya yang lebih tampan dari Daniel, tapi kenapa dia malah terpesona dengan satu orang pria biasa saja? Menurut orang mungkin lebay atau menganggap Daniel biasa saja, tapi berbeda dengannya. Apakah bisa seseorang yang habis putus cinta menyukai orang asing dengan sangat mudahnya? Di luar logika dan batas pemikirannya, dalam satu tatapan Dhita sudah bisa melupakan apa yang sudah terjadi di dalam hidupnya, seketika mantan kekasihnya hilang dan perasaan sedihnya lenyap begitu saja. Satu kali bertemu dengan Daniel dirasa normal, biasa saja. Hubungan bisnis sebagai perantara agar dia bisa lebih sering bertemu dengan Daniel. Hanya dia seorang yang bisa menghapus semua kenangan Bian di dalam hati dan pikirannya. Tidak apa hatinya dipertaruhkan yang terpenting Bian disingkirkan dari hati dan pikirannya. Sedari tadi Dhita asyik menatap wajah Daniel, tanpa sadar Daniel pun ikut menatapnya. Daniel menjentikkan jarinya di dekat wajah Dhita membuat Dhita tersentak kaget, wanita itu memalingkan wajahnya, malu. “Bengong ya? Lagi mikirin apa?” “Oh! Aku lagi mikirin dekorasi yang cocok untuk cafe kita!” seru Dhita tanpa menatap wajah Daniel. Jantungnya berdegup kencang, kelopak matanya tertutup berusaha mengendalikan dirinya sendiri. Persetan dengan wajah Daniel, kenapa sangat bersinar di matanya. “Coba kita bicarain soal tema? Kamu gak mau ‘kan temanya tetep kayak gini?” tanya Daniel menatap ke sekelilingnya. Tema sebelumnya datar seperti tak bernyawa, sesuai namanya ‘daisy’ perpaduan antara dua warna, kuning dan putih. Cafe ini tidak besar, tapi cukup istimewa tata letaknya. Tidak hanya itu, letak cafe yang strategis membuat cafe ini jika diolah dengan baik pasti akan ramai. “Siapa yang mau mampir ke cafe kaku ini,” cibir Dhita mengolok cafe ini. Daniel tertawa pelan. “Tapi kamu sebelumnya mampir. Kenapa?” “Ya, aku cuma lihat-lihat memangnya gak boleh?” “Saya gak bilang gak boleh. Ngomong-ngomong kita boleh langsung dekorasi sekarang? Lebih cepat lebih baik ‘kan?” Dhita mengangguk antusias. “Ya, lebih cepat lebih baik.” *** Sudah berjam-jam Dhita dan Daniel menghabiskan waktu untuk mendekorasi cafe-nya. Semua pegawai di sini ikut serta membantu mendekor cafe. Tema cafe ini adalah gabungan dari keinginan Dhita dan Daniel, tidak mungkin hanya keinginan sepihak yang ada satu pihak lainnya tidak terima. Dua pemikiran berbeda dan keinginan berbeda juga, Dhita bisa menggabungkan semuanya dengan cukup mudah. Mulai dari warna, tema, dan cara penyusunan meja. Warna soft tidak terlalu terang atau pun gelap, warna juga diambil sesuai kesepakatan bersama setelahnya Daniel melimpahkan semuanya ke Dhita. Pengerjaan ini tidak mungkin selesai hari ini, Dhita berencana akan melanjutkannya besok. Dhita ikut turun tangan membantu dekorasi cafe. Daniel mengambil alih kuas yang dipegang oleh Dhita membuat Dhita mendengkus kesal. “Daniel!” “Ini bukan pekerjaan kamu, kenapa kamu capek-capek lakuin ini? Seharusnya kamu istirahat aja, lihat semuanya,” ucap Daniel melirik kursi di ujung ruangan. Dhita meloncat, menggapai kuas itu kembali. “Aku mau yang terbaik, aku tahu cafe ini punya potensi bagus untuk berkembang. Jangan lupa slogan kamu ‘lebih cepat lebih baik’ lupa ya?” Dhita menirukan gaya bicara Daniel di kalimat terakhir. Daniel tersenyum kecil, dia mengambil roll kuas mencelupkannya ke ember cat lalu mulai mengecat dinding. Sama halnya seperti Dhita, wanita itu kembali mengecat dinding sesekali melirik Daniel. Lihat saja pria itu, saat mengecat pun bisa sekeren itu. Baju kaos lengan pendek yang terlipat serta celana pendek longgar, hanya soal sesederhana itu Dhita sudah sangat mengagumi penampilan Daniel. “Kamu tahu gak, saya ini gak bisa ngecat. Sok gentle ‘kan saya di depan kamu?” tanya Daniel sambil tertawa kecil. Dhita berhenti dari aktivitasnya, wanita itu melirik hasil kerja Daniel. “Oke, hasil cat kamu bagus tapi masih bisa aja ngerendah? Gimana kalau aku?” Dhita balik bertanya kesal, bagaimana tidak? Bisa-bisanya pria itu membuatnya emosi. Percayalah, Dhita paling tidak suka ada orang yang selalu merendah padahal apa yang direndahkannya itu berbanding terbalik? Menurutnya itu menyakiti hati orang yang lebih buruk dari apa yang direndahkan. “Mungkin di mata kamu hasil cat saya rapi, tapi kita gak tau apa kata kuli bangunan ya ‘kan? Pasti banyak kekurangannya,” balas Daniel santai, mulutnya berbicara tapi tangannya sibuk bergerak mengecat, “udah sore nih, kamu gak mau pulang? Apa kamu udah ngabarin kakak kamu? Kayaknya, dia sedikit posesif ya? Kandung?” Daniel melempari banyak pertanyaan, pria itu menatap Dhita seperti menyedak Dhita agar wanita itu segera menjawab pertanyaannya. Dhita mengangkat tangannya sambil tertawa, merasa lucu dengan macam-macam pertanyaan Daniel. Pria itu bertanya seolah ingin tahu kehidupannya lebih jauh. “Sebenernya aku belum bilang kakakku, tapi aku ini sudah besar bisa menjaga diriku sendiri. Semenjak kejadian itu, kakakku jadi mengekangku,” jawab Dhita sedih. Wanita itu mengembuskan nafasnya kasar, kakinya melangkah menuju kursi tidak lupa meninggalkan kuas di ember cat. “Kejadian?” Daniel mengulang kata itu, dia menyimpan roll kuasnya ke tempat asal kemudian mengikuti Dhita, “sorry, bukannya saya kepo tapi emang kepo.” Dhita tertawa terbahak-bahak, tingkat humornya menjadi anjlok semenjak mengenal Daniel. Kening pria itu berkerut, menatap Dhita penuh dengan pertanyaan. “Kenapa kamu tertawa?” “Lucu, apa aku aja yang receh dan butuh hiburan? Biasanya dua sahabat aku yang selalu hibur aku tapi kayaknya mereka berdua sibuk.” “Kita ini apa ya? Sebatas partner kah?” Dhita mengetuk-ketukkan jarinya di dagu. “Maunya apa?” “Saya maunya lebih dari itu.” Seketika Dhita terdiam, jantungnya berdegup dengan sangat kencang. Jemarinya mencengkeram ujung baju, melepaskan rasa gugupnya. “Pa-pacar maksudnya?” “Bukan, maksud saya teman.” Bodoh! Dhita bodoh! Dhita sangat bodoh, saking bodohnya dia bertanya seperti itu pada orang yang baru dia kenal. Otaknya dipaksa untuk berpikir keras, memikirkan bagaimana cara mengalihkan topik pembicaraan. “Hehe, iya. Aku juga bercanda, lagian aku udah punya pacar.” Menjadi bodoh untuk yang kedua kalinya, terima kasih otak! “Syukur deh, soalnya saya juga udah punya pacar.” Jleb! Tertolak, sebelum menyatakan cinta. Belum apa-apa padahal tapi Dhita sudah ditampar kenyataan. Harapan untuk merajut hubungan yang lebih lanjut usai sampai hubungan pertemanan. *** “Hei Dhita! Aku boleh minta tolong gak?” Dhita memberhentikan langkahnya lalu menoleh ke sumber suara mendapati wanita bertubuh gempal berpakaian kasual. Wanita itu menggandeng seorang anak kecil, kira-kira usianya 4 tahunan. Dhita melambaikan tangannya, menyapa wanita itu dengan senyuman semringah. “Oh, Kak Cantika. Minta bantuan apa?” tanya Dhita, dia berjongkok menatap putri kecil yang sedang digandeng oleh Cantika. Wajah anak itu sangat imut, pipinya gembul, terdapat lesung pipi di sebelah kanan pipinya. “Halo Queen, apa kabarmu?” Anak kecil bernama Queen itu mengangguk sambil tersenyum, senyuman itu sungguh membuat Dhita gemas. “Baik, Aunty. Kalau Aunty sendiri gimana?” tanya Queen mengecup pipi Dhita. “Aunty baik, sayang,” jawab Dhita mencubit pipi Queen gemas. Dia sering mampir ke rumah Cantika, jadi otomatis dia mengenal Queen. Cantik, ceria, dan gampang berbaur dengan orang asing, tidak salah jika Queen cepat sekali memikat hatinya. “Sorry nih, Dhit aku mau minta bantuan. Kalau kamu gak sibuk, aku mau titip Queen sampai besok sore. Aku kurang percaya sama orang lain jadi ... kalau kamu gak sibuk, bo—" “Yaelah, Ka. Kita ini temenan lho, kapapun kamu minta bantuan pasti aku akan usahain bantu. Lagian Queen ‘kan pinter, gak akan ngerepotin.” “Serius nih, Dhit?” “Iya serius!” “Yaudah, ini kunci rumahku—“ “Eits, Queen yang ke rumahku aja. Dave lagi PMS pasti ngamuk.” “Ya ampun, tambah ngerepotin dong. Terserah deh, ini kuncinya pegang aja.” Cantika menyodorkan kunci rumah ke hadapan Dhita. “Sebelum aku pergi, aku mau nyiapin baju buat malem sama pagi Queen, sekalian s**u bubuk. Oh iya, sebelum tidur minum vitamin ya, nanti aku siapin semuanya.” “Iya, Mama Cantika. Ayo Queen! Let’s go!”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD