Bab 13

1587 Words
“Dhita?” panggil seseorang membuat semuanya—Dhita, Queen, Bian dan wanita itu menoleh ke sumber suara. Dhita sontak terkejut, benar-benar terkejut. Tiba saja dia dikagetkan oleh seorang pria berkacamata berdiri di belakangnya. Daniel, ya, pria itu tiba-tiba ada di sini. Penampilannya sedikit berbeda, switer berwarna sama dengan warna sweter yang dikenakan olehnya yaitu cokelat tua dengan celana jeans berwarna hitam yang sangat pas dipakai oleh Daniel. Kini, Dhita dan Daniel seperti couple serasi. Berbeda dari keterkejutan Dhita, Bian hanya menatap Daniel dengan pandangan kosong. Seperti seorang anak pintar yang kehilangan satu nilai mata pelajaran penting—Dhita sangat menyukai pemandangan ini. Bukankah ini kesempatan emas untuk membalas dendam kepada Bian, si pria brengs*k ini? Alih-alih ingin membalas dendam, Dhita malah canggung sendiri. Di matanya, Daniel tampil memesona hingga dia tidak berani melakukan hal candaan rendahan pada Daniel. Suasana menjadi canggung tetapi sedetik kemudian suara dentingan dari sendok dan garpu Queen memecah keheningan. “Biandika ‘kan?” tebak Daniel sambil menunjuk ke arah Bian, sementara Bian memerosotkan bahunya seolah tubuh pria itu sudah menjadi jeli. Daniel tertawa pelan, tawaan ringan yang sangat asyik di telinga Dhita. Tapi, tunggu .... Kenapa Daniel mengenal Bian? “Masih kenal saya? Daniel, Daniel Bagaskara. Kalau gak kenal, saya ingatkan.” Wanita yang bersama Bian menoleh meminta jawaban lebih dari Bian, tapi Bian sendiri seperti kebingungan. Bian menatap ke arah lain kemudian kepalanya mengangguk-angguk. “Iya, saya ingat! Iya haha, saya ingat ....” Bian menunjuk kikuk ke arah Daniel sambil tertawa canggung. Tingkah mantan kekasihnya membuat Dhita curiga, sebelumnya Bian tidak pernah secanggung ini berhadapan dengan seseorang. Dhita memperhatikan tatapan Daniel, kemudian beralih menatap Bian, Dhita lakukan berkali-kali menebak sesuatu yang mungkin saja tertebak oleh otaknya. “Daniel kamu kenal sama Bian?” tanya Dhita penasaran. Daniel mengangguk. “Iya, dia temen SMA aku. Dulu aku sempet kenal dia karena satu problem kecil. Iya, ‘kan Bian? Sekarang kamu sudah berubah banyak ternyata. Semakin tinggi hati.” Dan tiba-tiba gaya bicara Daniel berbeda, yang semula 'saya-kamu' sekarang ‘aku-kamu’. Bian tersenyum kikuk, pria itu berkali-kali mengode wanita yang ada di sebelahnya. Melihat tingkah Bian yang semakin lama semakin mencurigakan, rasa keingintahuan Dhita meningkat pesat. Apa Daniel semenyeramkan itu dimata Bian sampai-sampai pria itu tidak berani menatapnya. Dirasa sangat tidak mungkin, awal ketemu saja Daniel sudah bersikap ramah. “Oh ya, sayang kamu dan Bian ada hubungan apa? Kenapa kamu gak cerita-cerita ke aku?” What the ...? Sayang? Daniel bertanya seperti itu sambil menatap Dhita penuh cinta. Senyuman lebar dan tulus, ini candaan ‘kan? Ya, pasti hanya candaan belaka. Padahal Dhita ingin berpura-pura pacaran dengan Daniel, tapi sepertinya pria itu lebih dulu peka akan keinginannya. “Sayang?” beo Bian pelan, tidak percaya. Queen mengerjap-ngerjapkan matanya, menatap Daniel dan Dhita secara bergantian. “Uncle itu bilang sayang ke Aunty Dhita? Wah! Asik! Pasti pacaran ‘kan? Kok Queen gak dikasih tau, jahat!” Daniel menggeserkan kursinya, mendekat ke arah Dhita. Posisi Dhita sekarang ada di tengah-tengah Queen dan Daniel. Jarak antara pria itu dan Dhita sangat dekat, sampai-sampai embusan nafasnya bisa terasa di wajah Dhita. Daniel sedikit lebih mendekat, pria itu menggenggam tangan Queen yang sontak saja membuat jantung Dhita berdebar-debar kencang. “Iya, Queen sayang kami berpacaran.” Aktingnya lebih bagus dari yang Dhita duga. Ini hanya sebuah candaan tapi jujur saja Dhita baper mendengarnya. “Dhita, Kak Daniel kami pergi ya.” Bian bangkit dari duduknya diikuti oleh Karin. Pria itu berjabat tangan dengan Daniel. “Senang bertemu denganmu, Kak.” “Tentu. Senang bertemu denganmu juga,” balas Daniel, tanpa diketahui orang lain selain Bian, dia mengucapkan sesuatu hanya menggerakkan mulutnya—sebuah u*****n kecil yang ditunjukkan untuk Bian. Bian tersenyum kikuk, menahan rasa malu sekaligus kesal. Dia menarik lengan Karin keluar dari restoran. Terlihat wanita bernama Karin itu kebingungan, sedari ditarik wanita itu menoleh ke belakang dan menatap Daniel. “Makan Dhit, nanti aku jelasin,” kata Daniel sambil melirik sekilas ke arah Queen. Dari lirikan itu, Dhita mengerti apa maksud Daniel. Dhita mengangguk sebagai tanda persetujuan, dia langsung memakan makanannya beda halnya dengan Queen, gadis kecil itu merajuk. “Jelasin sekarang aja, Uncle. Queen kan sudah besar?” Daniel melirik Dhita. “Tidak sadar umur,” gumamnya pelan. “Apa?” Sewot Queen. “Maksudku, kamu cantik sekali Queen. Maukah kamu jadi pacarku?” puji Daniel membuat Queen tersipu malu. “Gak, Uncle buat Aunty Dhita aja hehehe.” Dhita tertawa. “Daniel, kau—?” “Bercanda. Yaudah habiskan, aku akan hantar kalian pulang.” *** Brak! Daniel menghadang mobil seseorang, membuat mobil Daniel lecet akibat tertabrak mobil yang sedang dihadangnya. Di tengah jalanan sepi, Daniel nekat seperti ini. Daniel diibaratkan sebagai penjahat, bukan korban. Bisa dibilang Daniel sengaja mengikuti mobil korban sampai ke sini. Sudah larut malam, yang pastinya tempat ini sudah sepi. Seperti seorang penjahat yang ingin merampok, Daniel menggebrak pintu mobil dengan sangat keras membuat si pengendara ketakutan setengah mati. Dari kaca, Daniel bisa melihat si pengendara sedang mencoba menelepon seseorang. Kali ini Daniel tidak akan tinggal diam, tidak tanggung-tanggung Daniel melempar pintu mobil si pengendara itu dengan batu. “Keluar,” perintah Daniel dengan nada suara rendah, “keluar!” Kedua kalinya, Daniel membentak. Pria yang ada di dalam mobil cepat-cepat keluar dari mobil, menurutnya di dalam atau pun di luar sama bahayanya. Daripada membuat Daniel marah lebih baik keluar sesuai dengan perintahnya. Biandika, ya, mantan kekasih Dhita adalah korbannya. Seluruh badan Bian bergetar, sangat terlihat jelas di mata Daniel. Masa lalu kembali dipertemukan kembali, Daniel akan sangat berterima kasih kepada Dhita karena lewatnya dia bisa bertemu dengan Bian. “Kenapa harus takut? Saya gak akan buat kamu meninggal. So, calm and don't cry,” bisik Daniel seraya menepuk-nepuk punggung Bian. “Kak Niel, sorry ... mari kita berdamai dengan masa lalu,” ucap Bian takut-takut disambut gelak tawa dari Daniel. “Saya sudah berusaha sekeras mungkin untuk berdamai dengan masa lalu, tapi berdamai dengan masa lalu gak bisa buat hidup saya tenang. Berdamai dengan masa lalu gak bisa buat adik kecil saya hidup lagi, berdamai,” balasnya penuh dengan penekanan lalu meludah tepat di wajah Bian lantas pria itu memejamkan matanya jijik, “setelah kamu merusak hidup saya dengan membunuh adik saya, sekarang kamu hancurin hati Dhita? Laki-laki b*ngst seharusnya ada di tempat sampah. Karena uang kan kami bisa bebas? Sekarang kamu gak bisa bebas lagi ....” Bian menjatuhkan tubuhnya ke aspal, kepalanya menunduk tidak berani menatap Daniel. Pria itu menyatukan telapak tangannya lalu mendongkak. “Saya sudah minta maaf, maaf, maaf ... soal Dhita, hidup saya sudah hancur karena—“ “Menurut saya kurang!” Bugh! Daniel menarik kerah baju Bian kemudian meninju rahang pria itu. “Untuk adikku, adik tersayangku, matahariku, mentariku yang telah kamu renggut dariku!” Bugh! Kali ini Daniel meninju bagian perut. “Untuk kamu yang udah nyakitin hati orang sebaik dan setulus, Dhitania.” Setelah puas, Daniel mendorong pria itu kuat. “Kali ini saya ampuni, besok-besok kalau kamu ketahuan mengganggu hidup Dhitania, saya akan perlakukanmu sama seperti masa sekolah dulu. Saya belum berubah, saya masih seorang Daniel Bagaskara.” *** Mengingat soal kejadian satu jam yang lalu membuat Dhita senyum-senyum sendiri. Mengingat bagaimana Daniel yang tiba-tiba datang, dan mengaku sebagai kekasihnya. Perkataan Daniel membuat Bian terbungkam, wajahnya menjadi aneh ketika Daniel datang dan duduk di sampingnya. Dia penasaran, ada problem apa di antara mereka berdua, pasti sangat besar bukan? Kalau tidak, kenapa Bian ketakutan? Queen sudah tertidur pulas di sampingnya, gadis itu memeluk boneka teddy bear dengan sangat erat. Hari ini, Queen bersikap sok dewasa padahal hatinya masih uwu seperti anak kecil, ya sebenarnya memang Queen anak kecil yang hanya tahu bermain, mempelajari hal-hal kecil, makan, tidur, mendapatkan kasih sayang orang tua dan lainnya. Saat Dhita ingin menutupkan matanya, tiba-tiba handphone-nya bergetar. Pelan tapi pasti, Dhita turun dari ranjang tempat tidurnya tanpa membangunkan pulasnya tidur Queen. Tampaknya nama kontak ‘Daniel Partner’ di layar handphone-nya. Dia langsung mengambil handphone-nya, tatapannya tertuju pada Queen memastikan gadis kecil itu masih tertidur setelah dirasa baik barulah dia mengangkatnya. “Halo Daniel?” sapa Dhita berjalan keluar dari kamarnya. “Hai, Dhit. Sorry ya soal tadi, saya lancang ngakuin kalau kamu itu pacar saya. Habis saya tahu persis gimana watak mantan pacar kamu.” “Ngapain minta maaf, seharusnya aku yang bilang makasih. Tadinya aku mau ngelakuin hal yang sama seperti apa yang kamu lakuin tadi, tapi ya namanya kita baru kenal pasti sedikit canggung. Jujur aku masih gak habis pikir, kamu keren juga ya sampai dia ketakutan gitu.” Dhita tertawa pelan, mengingat wajah ketakutan Bian. “Kalau boleh tahu, kamu sama dia ada problem apa ya?” Pria itu diam sejenak. “Oh, dia pernah ketauan merokok di sekolah, jadi aku laporin BK.” “Cuma itu?” tanya Dhita penasaran. Hanya karena merokok dan dilaporkan ke BK sepertinya, sedikit tidak masuk akal. “Saya kakak kelas dia, dia gak terima saya laporin ke BK dan dia jebak saya dan kita baku hantam. Kamu tahu ‘kan gimana lembeknya saya? Hahaha.” Pria itu tertawa ringan. “Mana mungkin menang, walau badan saya lebih besar tapi saya kalah. Teman-teman saya tahu, mereka gak terima liat saya babak belur dan masuk rumah sakit jadi ... mereka kroyok Biandika.” Dhita diam, mendengarkan cerita dari Daniel. “Semenjak itu, Bian trauma liat saya bahkan dia pindah sekolah.” Logis, ceritanya masuk akal. Sekarang Dhita paham kenapa Bian takut dengan Daniel. Di sini Daniel tidak salah apa pun, Daniel hanya murid teladan yang ingin menegakkan kebenaran dan ketenteraman. “Saya telepon kamu cuma mau minta maaf, maaf ya ganggu tidur kamu.” Dhita memggeleng. “Enggak! Aku belum tidur kok, jadi tenang aja.” “Benarkah? Baiklah kalau gitu, tidur gih udah malam.” “Iya, good night.” “Daniel!" "Hm?" "Bisa enggak kita ngomongnya santai aja. Kayak tadi, lebih enak didengernya. Enggak kaku. Selain partner kamu juga temen aku." "Ah, iya. Besok-besok aku coba lebih santai sama kamu." Di sana Daniel tertawa pelan, membuat Dhita malu. "Good night too, Daniel."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD