BAB 9

2750 Words
Mereka sarapan di warung langganan Angga yang tak jauh dari rumahnya. "Eh, anak ganteng! Lama nggak makan disini. Kirain uda pindah." Ibu penjual menyapa saat Angga memasuki warung lebih dulu, lalu di susul Nara. "Iya Bu, uda ada yang masakin." balas Angga dengan sopan "Punya pembantu baru?" tanya penjual itu dengan polos. Membuat Nara dan Angga saling berpandangan, lalu sama-sama tersenyum. "Tuh kan! Aku kayak pembantu kalo masak terus?" bisik Nara di telinga Angga, lalu gadis itu mengikik sambil menutup mulutnya "Ya uda, jangan masak lagi, fokus manak aja." balas Angga dengan berbisik. Sekejap Nara mencubit paha Angga, dengan cepat Angga menggenggam tangan Nara dan tak melepaskan. Detak jantung Nara makin cepat ketika Angga meremas-remas tangannya. Angga melepas genggamannya saat melihat Ibu penjual menuju ke arah mereka. "Ini ponakannya nak Angga?!" tanya penjual itu lagi ketika mengantar makanan di meja Angga. Dengan spontan Nara tertawa lepas, sedangkan Angga memicingkan matanya menatap Nara dengan raut tak suka. Hingga beberapa saat akhirnya Nara menghentikan tawanya. "Jangan marah donk calon suami." bisik Nara sambil melihat Angga yang mengunyah makanan. Angga tak menjawab, dan tak menoleh ke sumber suara. Mereka pun menikmati makanan yang sudah tersedia didepan mata. "Tadi seneng banget kayaknya." bisik Angga lalu mencium pundak Nara. Nara tersenyum mengingat wajah Angga yang agak sewot. "Mas wajahnya lucu kalo sewot gitu. Mas harus sadar kalo memang usia kita jauh beda, om dan ponakan." ucap Nara sambil tersenyum. "Biar sewot tapi tetep ganteng kan?" tanya Angga dengan melirik dan memberi raut wajah menggoda. Nara pun gemas hingga sebelah telapak tangannya memegang rahang Angga. "Jelek! Makanya wajahnya jangan gitu lagi." ucap Nara dengan tatapan hangat. Angga mencium telapak tangan yang masih menangkup rahangnya. "Love you Byan" bisik Angga. "Ga percaya!" ucap Nara melepaskan tangannya dari rahang Angga dan memalingkan wajahnya. Angga menggelengkan kepalanya mendengar ucapan si gadis. "Dia calon istri saya Bu." ucap Angga saat membayar makanan yang telah disantapnya bersama Nara, dan memperkenalkan Nara yang berdiri disampingnya. "O a lah, kirain ponakan." balas si penjual. Angga dan Nara hanya membalas dengan senyuman. Usai sarapan, mereka melanjutkan ke Plaza yang ada di pusat kota. Mereka berjalan bergandengan, kadang Angga merangkul bahu Nara dan gadis itu melingkarkan tangannya dipinggang Angga. Saking asyiknya berdua, Angga tak menyadari betapa crowdednya di WAG 'A+' Amira : Tercyduk? maap potonya buram (terlihat gambar Nara dan Angga berdiri berhadapan, seperti membicarakan sesuatu) Isti : paling Nara cuma temani duda kesepian aja... Linda : kebetulan ketemu kali... Amira : kalo ini? (Amira mengirim foto lagi. Tampak Angga memeluk dari belakang tubuh Nara. Terlihat posesif). Aline : Auuuuuuuuu ... laris manis... Adila : Uda Launching? Amar: beneran kak @Angga? ? Isti : Jangan main-main Kak Angga. Arya : Jangan main-main Kak Angga (2) Linda : Jangan main-main Kak Angga (3) Venna : Kayaknya beneran , kalo di momen formal aku ragu, kalo ini kan seperti quality time. Mereka benar-benar berduaan. Aline : Jadi pengen kencan! Papi @Nares, kencan yoooook!? Amira : kencan jama'ah lebih seru Nares : Sabtu ke club, ulang tahun istriku @aline. Let's get rock! Aline : ay lap yu Papiiiiiiiii...??? Amira : ikut ya kak @angga di ajak donk ceweknya! Aline : di ajak donk ceweknya! (2) Lisa : di ajak donk ceweknya! (3) Isti : dia ajak donk ceweknya! (4) Ketika Nara ke toilet, Angga menyempatkan membuka ponselnya yang sedari tadi berbunyi dengan nada pesan singkat. Dia tersenyum dan mengetikkan sesuatu. Angga : Ga ikut! @amira! kamu ngapain poto-poto? ganggu privacy! Amira : kan situ orang ganteng, artis di keluarga kita. Anggap aja aku paparazi ?. Kenapa ga ikut ke club? Angga : anak gadis ga boleh keluar malam-malam. Aline : preeeetttttttttt! ? Angga memasukkan ponselnya, dia mengabaikan ibu-ibu yang selalu meramaikan WAG. Dan mengaktifkan mode mute. Isti menambahkan +6282123456789 Isti : hai @nara Amira : hai Ra Aline : selamat datang Nara ? Isti : Ra, Sabtu ada acara di club, bareng ama aku lagi ya Aksa : Ra, Kak Angga ga ikut, ntar pulang ama aku aja ya... Adila : Ra, nti aku pinjemin baju lagi, aku jemput ya? Aline : Ra, ntar aku make over Lisa : Ra, bawa baju, kita tidur di rumah aline Percakapan terus berlangsung di WAG. "Mas laper!" ucap Nara dan menunjuk ke counter bakery. "Baru 1,5 jam lalu kita sarapan, uda laper?!" tanya Angga heran melihat gadis yang mudah sekali mengucapkan lapar, tapi badannya tetap ya gitu-gitu aja. Nara hanya menganggukkan kepalanya. "Ga cacingan kan By?" "Ih Mas Angga! Nara sehat ya!" Ucap gadis itu dan memukul lengan Angga. Akhirnya pria itu menuruti kekasihnya dengan membeli roti. Mereka menikmati roti yang dibeli Angga sambil duduk santai, Nara mendengar ponselnya terus berbunyi, dan membukanya. "Ini apa?!" tanya Nara sambil membaca layar ponselnya. Tertera nama group baru. "Apaan By?" Angga ingin tahu apa yang dilihat Nara diponselnya, dan melongok ke arah monitor kecil itu. "Mas baca sendiri donk!" Nara menarik ponselnya dari pandangan Angga. "Baca apa?!" Angga semakin penasaran. "Di group A+!" "A+?! Kamu ikut juga?" "Mbak Isti yang masukkan ke group." Angga mengeluarkan ponselnya dan melihat percakapan WAG yang sedang heboh itu. Dia menggelengkan kepala membaca grup yang berisi seluruh sepupunya, tapi yang sering aktif hanya para wanita aja. Angga : SABTU BYANARA BERANGKAT SAMA AKU! Amira : yeayyyy.. makin rame.. Aline : case closed! tankio my pretty brodah! Percakapan di WAG pun berakhir. "Kata Aksa, mas ga ikut." Nara menggoda Angga. "Jadi kamu pulang sama Aksa?" rasa cemburu pria ini timbul. "Kalo mas ga ikut, aku berangkat sama mbak Isti, pulang sama Aksa." "Di group uda mas bilang dengan jelas, Byan berangkat sama mas." "Jadi mas ikut ke club kan?" Tanya Nara lagi. Angga menggelengkan kepalanya, lalu berdiri dan menarik tangan gadis itu. "Kita jalan lagi!" ajak Angga tanpa menjawab pertanyaan Nara. "Maaaaass! Mas ikut kan?" Tanya Nara lagi menjajari langkah Angga. "Lha kalo ga ikut, mas kayak supir donk! Nganter jemput kamu doank?!" "Yeay! Mas ikut." Nara meraih lengan Angga dan memeluknya, membuat Angga tersenyum. 'Tingkah mu adaaaaa aja!' batin Angga dengan tersenyum. Sekarang hari Sabtu, dan Angga sudah berada di kos Nara sejak jam 7 malam. Setelah melewati perdebatan panjang tentang baju yang akan dipakai Nara, akhirnya gadis itu menyerah. "Mas liat lemari Nara aja dech! Mas yang pilih!" ucap Nara pasrah sambil duduk di pinggir kasur. Nara kesal tiap kali memilih baju selalu dikomentari Angga. Yang terlalu terbuka, terlalu pendek, transparan, terlalu ketat, dan berbagai alasan lainnya. Akhirnya Angga memilih dress di atas lutut tanpa lengan dan cardigan. "Pakai itu aja! Masih kelihatan keren kok!" Dan tibalah mereka di sebuah club malam. "Mas, malu!" ucap Nara ketika turun dari mobilnya. "Malu kenapa?" "Malu ketemu sodara mas" ujar Nara yang masih tetap berdiri di sisi mobil Angga. "Kan uda sering ketemu." "Tapi waktu itu kita belum ada apa-apa." "Emang sekarang kita ada apa?" Angga mulai menggoda Nara, rasanya pria itu tak bosan menggodanya. "Oh...gitu ya?! OK! Aku balik aja!" ucap Nara dengan berapi-api. Sebelum melangkah, Angga mencekal dan merangkul pundak Nara. "Berangkat sama mas, pulang sama mas. Ingat calon istri?!" ucap Angga sambil mencium puncak kepala Nara beberapa kali. "Iya calon imam." ucap Nara balik dengan mesra. Masuk ke club, mereka langsung menuju tempat yang biasa di tempati. "Hai Ra!" Aline menjemput Nara yang berdiri di belakang Angga. "Selamat ulang tahun ya Kak." ucap Nara dengan kikuk menyalami Aline, lalu cipika-cipiki. Lalu Nara menyalami seluruh wanita yang ada di sofa itu yang tak lain saudara Angga. "Duduk sini!" Aline menarik tangan Nara untuk bergabung dengan mereka. Angga pun ikut bersalaman dengan mereka. "Tinggal aja kak Angga! Ga kita apa-apain kok." Seru Amira melihat Angga yang masih tetap berdiri di ujung sofa. Angga mengangguk dan meninggalkan Nara bersama para wanita. Dia bergabung dengan para lelaki. "Nara dimana kak?" Tanya Aksa ketika Angga mendaratkan pantatnya di sofa. "Disana!" Tunjuk Angga ke sekelompok wanita yang sedang tertawa. Aksa, Akmal, Amar dan Feri selaku tunangan Adila berdiri. Mereka menghampiri sofa para wanita. "Ra! Dila! kesana yuk!" Ajak Amar ke Nara dan Adila yang masih lajang. "Ntar donk, kan belum mulai." Balas Adila. "Mumpung meja depan kosong!" Sahut Feri. "Yuk Ra! Ntar lagi rame, Sabtu nich!" Ajak Adila. Nara menyetujui dan mereka pun berganti duduk mendekati stage. 6 lajang itu duduk bersama memutari meja. Angga hanya melihat dari jauh, pandangan pria itu tak lepas dari tubuh Nara. Sesekali Nara menoleh dimana Angga duduk, gadis itu merasa di awasi dari kejauhan, mata mereka bertabrakan, dan hal kecil itu membuat Nara terasa malu serta salah tingkah. Lagu pertama mulai dimainkan oleh band lokal itu. Nara yang biasa bersemangat, tapi kali ini dia bukan menjadi dirinya sendiri. Dia hanya duduk dan menganggukkan kepalanya. Sedangkan 5 lajang yang ada disekitarnya sudah bergoyang, berjoged mengikuti tempo. "Ngapain diem Ra?! Tumben!" Tanya Akmal. "Ga papa!" Ucap Nara bohong, padahal dia ingin sekali berjoged tapi dia malu karena ada Angga. "Ada Angga?!" Tanya Adila. Nara tidak menjawab. "Emang kalian ada hubungan apa sich?" Tanya Amar. "Di sewa ya?" Tanya Aksa. "Nggak!" Jawab Nara tegas. "Kemarin ke mall kencan ya?" Tanya Dila lagi. "Kamu pacaran ama Angga?" Tanya Aksa. Nara bingung mendapat cercaan pertanyaan. "Dekat aja" jawab Nara. "Jangan terlalu berharap ama kak Angga, tau sendiri kan gimana track record nya tentang wanita?" Amar memperingati Nara. Akmal dan Aksa juga memberikan komentar yang membuat hati Nara makin gundah. Tak tahan dengan semua itu, Nara meninggalkan meja, dan keluar ke kamar kecil. Angga melihat Nara keluar ruangan yang riuh, pria itu ikut keluar juga. Tampak Nara duduk di bangku seorang diri. "Matanya uda pedih? Kan baru aja masuk!" Ucap Angga yang sekarang berdiri di hadapan Nara. "Sebel sama Amar, Aksa, Akmal." Sahut Nara dengan cemberut. "Kenapa?" Tanya Angga yang ikut duduk di sebelah Nara. Akhirnya gadis itu menceritakan seluruhnya. "Kok bilang deket? Bilang aja calon istri!" Ucap Angga. "Mas....aku bilang deket aja mereka seperti ga percaya, apalagi kalo aku bilang calon istri? Mungkin mereka ngakak sambil guling-guling. Kok aku jadi ikutan ragu sama mas ya?" Ujar Nara dengan melihat Angga sekilas. Angga menggenggam tangan Nara, dan perlakuan kecil itu membuat jantung Nara berdetak lebih cepat. "Byanara, liat mas!" Perintah Angga. Gadis itu menatap Angga. "Sebagai lelaki, mas uda minta Byan menjadi istri di hadapan mas Dito. Itu bukan main-main. Kamu percaya mas kan?!" Tanya Angga dengan tatapan serius. Gadis itu hanya menjawab dengan anggukan. "Jangan ragukan mas lagi ya?!" Angga meyakinkan, gadis itu mengangguk dengan senyuman yang ditahannya. "Terserah Byan mau nikah kapan, Minggu depan, atau kapan...Mas sudah siap! Mas sudah capek mengenal wanita, dan ujung-ujungnya ga jelas. Mas rela menunggu karena Byan sudah berjanji jadi istri Angga. Tapi jangan lama-lama, mas sudah ga muda lagi." Angga terus berusaha meyakinkan hati kekasihnya. Angga mencium puncak kepala Nara. "Mas jangan cium-cium sembarangan! Ntar dipikir sodara mas, Nara cewek murahan." Ucap Nara. "Iya dech! Kalo kita berdua aja boleh ya cium-cium?!" Sahut Angga. "MAS!" Pekik Nara sambil melotot lalu berdiri meninggalkan Angga yang tertawa melihat wajah gadis itu merona. Mereka memasuki ruangan sambil bergandengan tangan. "Kalo mau goyang, ga usah malu!" Bisik Angga di telinga Nara, gadis itu tak membalasnya. Angga mengantar Nara untuk duduk bersama dengan para lajang, dan dia kembali dengan pria dewasa. Tampak Aksa sedang bernyanyi 'kopi dangdut' dan membuat para pengunjung bergoyang, termasuk Nara yang baru aja bergabung langsung di tarik Adila untuk ikut berjoget. Angga tersenyum melihat Nara yang bergoyang dengan semangat, lekuk tubuhnya sangat gemulai mengikuti ritme tempo lagu. Pengunjung bertepuk tangan ketika Aksa mengakhiri lagunya. "Dan selanjutnya, saya persilahkan kakak Angga menyumbangkan suaranya. Silahkan kak!" Ucap Aksa menunjuk dan bicara melalui mic, sehingga para pengunjung menoleh ke arah tunjukkan Aksa. Angga tersenyum dan menggelengkan kepala mendapatkan todongan dari sepupunya. Sorak dan tepuk tangan menyemangati Angga, termasuk Nara. Dengan terpaksa Angga berdiri dan berjalan menuju mini stage. "It's for you!" Ucap Angga dan menunjuk Nara, sedangkan gadis itu menunduk malu dan salah tingkah, karena beberapa pasang mata melihat Nara. Angga menyanyikan 'just the way you are' dari Bruno Mars. Sepanjang lagu mata Angga menatap Nara yang menunduk malu, kadang Nara melihat Angga lalu tersenyum, dan tak lama menunduk lagi atau melihat ke arah lain. Usai menyanyi Angga langsung turun, berjalan dan berhenti sejenak di sisi kursi Nara. Tanpa aba Angga mencium puncak kepala Nara, gadis itu tampak terkejut dan hendak protes, tapi sayangnya si pria meninggalkan dengan tersenyum. 'pasti cemberut' batin Angga yang seolah tahu kelakuannya. Dan memang benar, Nara cemberut sambil melihat punggung Angga yang berjalan menuju tempatnya. Dan tentu saja wajah Nara membuat sepupu Angga geli dan tersenyum. "Maapin sodara kita ya...." Ucap Adila meringis. "Sodara kalian GI-LA!" Balas Nara dengan tersipu. "Kamu yang buat dia gila." Sahut Aksa yang ikut membela sepupunya. Nara mengikik dan menutup mulutnya, Angga yang melihat dari kejauhan ingin tahu apa yang membuat gadis itu tertawa. Malam makin larut, band lokal telah diganti oleh penampilan DJ yang membuat remix dari daftar lagu. Suasana ruangan menyuarakan dentuman musik yang lebih bersemangat dan memicu adrenalin. Wanita dewasa yang mulanya berada di ruang yang bersofa kini mereka bergabung dengan Nara dan Adila, karena lebih dekat dengan dance floor. "Silahkan ladies!" Ucap Amar mempersilahkan, dan ketiga pria lajang itu bergabung dengan pria dewasa. "Turun Ra!" Ajak Aline menuju dance floor. Seluruh perempuan itu turun ke area khusus untuk bergoyang dengan berdekatan seolah saling menjaga. Mereka menikmati musik yang disuguhkan dengan meliukkan tubuhnya. Dance floor makin ramai dan berjubel. Pria dewasa yang sedari tadi hanya mengawasi tampak lebih siaga. Para pengunjung entah sengaja atau tidak menyisipkan tubuhnya di antara para wanita itu, dan secara perlahan mereka terpisah dari kelompoknya. "Amar! Kalian ga turun?!" Tanya Arta sambil melihat Amar. "Uda capek sesi awal tadi kak!" Jawab Amar. "Aku turun dulu!" Ucap Angga, karena dia melihat beberapa pria menatap tak sopan ke arah Nara. Angga bangkit dari sofa, berjalan menuju dance floor, dan ternyata di ikuti oleh masing-masing pasangan lainnya. Mereka juga merasakan, jika wanitanya mendapat tatapan dari mata pria lain. Dengan sedikit memaksa akhirnya para pria itu berhasil disisi wanitanya. Angga memeluk Nara dari belakang, sontak membuat gadis itu terkejut, namun tak lama dia tersenyum setelah tahu siapa yang memeluknya. Tapi membuat gerakan Nara terbatas. "Jangan terlalu kencang goyangannya!" Bisik Angga dengan bibir yang menempel di telinga Nara, tentunya membuat gadis itu gugup, jantungnya berdetak lebih kencang. Nara menoleh dan menatap Angga, "kenapa?" tanyanya. "Membuatmu berkeringat! Aku ga suka!" "Kenapa? Bau ya?!" Tanya Nara lagi, dia merasa heran, apa ada yang salah dengan keringatnya. Lagi-lagi Nara membuat Angga tersenyum mendengar pertanyaan dari gadis yang ada di pelukannya. "Sexy Byan! Makin berkeringat, kamu makin Sexy! Dan membangkitkan milik mas!" Bisik Angga lagi. Nara menunduk malu, entah itu pujian atau pelecehan, yang pasti ucapan itu berhasil membuatnya salah tingkah. Tak tahan dengan aroma tubuh yang sedari tadi menggodanya, Angga mencium leher Nara yang masih basah dengan keringat. Nara mencubit lengan Angga sebagai bentuk keberatannya. "Mundur atau aku cium terus?!" Angga kembali mengancam Nara, sehingga mau tak mau Nara mengikuti langkah Angga yang masih memeluknya keluar dari area dance floor. Pukul 1 dini hari mereka meninggalkan club malam itu, dan lanjut ke rumah Aline. "Emang kita ngapain ke rumah Aline?" Tanya Nara yang ada di mobil bersama Angga. "Kadang abis dari club, kita nginep bareng." "Terus ngapain?!" tanya Nara. "Aku ga tau. Ini juga pertama kali aku ikut." "Sebelumnya?" "Yang kemarin-kemarin ga mau di ajak ikut ginian. Abis dari club, minta langsung pulang! Kamu yang pertama kali, terimakasih." "Aku yang harus terima kasih, mas uda ajak aku mengenal keluarga ini. Aku seneng banget. Terimakasih." Nara mencium pipi Angga yang memegang kemudi. "BYANARA! AKU NYETIR!" Teriak Angga yang terkejut mendapat kecupan kecil di pipinya. Nara tertawa mengikik berhasil mengganggu konsentrasi Angga. Mereka tiba lebih dulu di rumah Aline, Angga dan Nara masih menunggu didalam mobil. "Byan, ntar kalo di interogasi, bilang aja, kalo kamu calon istri mas, kan mas uda minta restu mas Dito." "Ya ga bakal percaya! Kan mereka ga tau tentang pertemuan mas Dito sama mas. Ntar dipikirnya Nara ngaku-ngaku jadi calon istri orang ganteng." ucap Nara blak-blakan, membuat Angga menggelengkan kepalanya. "Jadi ntar kalo ditanya, jawab apa?" "Sementara dekat. Jawab gitu aja." "Byan!" "Iya mas?" Nara menoleh ke arah Angga. "Ituuuu" Angga menunjuk ke arah mata Nara, gadis itu pun fokus dengan telunjuk Angga yang mengarah kepadanya. Pria itu mencuri ciuman di bibir Nara. "MAS ANGGAAAAA!" teriak Nara yang baru sadar jika dikelabui. Nara keluar mobil dan meninggalkan Angga yang masih tertawa senang. Langkah Nara terhenti, dan menoleh kebelakang. Angga masih berjalan santai. "Mas! Ayok!" "Ngapain jalannya buru-buru? Yang punya rumah belum datang!" Angga berjalan di sisi Nara. "Abisnya mas sich! Ntar ketahuan sodara kan ga enak." "Ya udah, kalo di kos kita puasin ya..." Angga terus menggoda Nara.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD