CYT 03

1233 Words
"Kakak cantik! Ayok pergi bermain di taman kak! Inaya sama Reuz mau ajak kakak cantik ke tempat biasa kita main! Nanti di sana kakak mau temani kita main bareng ya? Ayok kak! Nanti keburu siang terus kita di marahin papa karena perlu makan siang kak!!" ucap Inaya semangat. "Wah ide yang bagus tuh! Boleh yuk! Nanti kalian mainnya hati-hati ya jangan jauh-jauh dari kakak dan mari kita bersenang-senang bersama!! Kita nikmati hari ini seolah ini adalah hari terbaik yang pernah ada!! Oke, oke!! Ayoook kita berangkat sekarang!!!" sahut Putri antusias. Sayangnya di saat mereka berdua hendak membuka pintu tak lama Riond memanggil Putri dan ia menyerahkan kartu ATMnya yang berwarna hitam tanpa mengatakan apapun, gadis itu hanya menatap dua orang di hadapannya bingung. "Putri! Tunggu, nih!" ujar Riond santai. "Hah? Buat apaan woy? Gue gak ngerasa minta atau butuhin kartu ATM lu kok! Ngapain lu kasih ke gue? Udah simpan aja buat lu gue bisa sendiri kok, apa maksud lu nih ngasih ini ke gue? Aneh-aneh gak nih tujuan lu?" tanya Putri serius. Sejenak Riond terdiam sejenak dan iapun mengatakan alasannya memberi kartu ATM miliknya toh gadis itu akan sering bersama Inaya dan Reuz jadi ia tidak mungkin membiarkan mereka berdua kebingungan tanpa sepeser uangpun, lagipula Riond masih memiliki kartu ATM lainnya yang serupa. "Ya buat keperluan anak gue! Gak mungkinkan udah lu jagain mereka terus kalian kebingungan gak bawa uang sepeserpun? Udah ambil aja toh gak ada niat apapun dan gue masih ada kartu ATM lain jadi gak usah berpikir terlalu banyak! Ambil dan pake aja kartunya," tutur Riond santai. Entah saat ini dirinya harus senang atau sedih ketika mendengar ucapan dari pemuda yang kini menatapnya lekat, tetapi dengan perasaan ragu ia menerimanya dan mengucapkan terima kasih toh apa yang diberikan pemuda itu adalah untuk putrinya Inaya dan putranya Reuz bukan dirinya. "Oh jadi begitu ya ... benar juga! Bagaimanapun juga kehadiran gue cuma untuk Inaya dan Reuz jadi buat apa juga gue berpikir terlalu banyak ya? Yaudah deh kalau gitu gue berterima kasih atas pengertian yang lu berikan karena cuma hal itu yang bisa gue lakuinkan," ucap Putri sendu. Air mata terlihat menetes dari salah mata Putri hanya saja gadis itu memilih untuk melanjutkan langkah kaki dirinya karena Reuz dan Inaya yang sudah ingin sekali bermain di lantai bawah dari ruangan kerja ayah mereka, sementara Riond dan Elysa hanya bisa menatap lekat kepergian gadis itu dengan perasaan bersalah. Andai saja dirinya berada di ekonomi yang cukup, pasti dirinya tak akan berada di posisi hari ini bukan? Sayangnya nasibnya tak semudah orang lain jadi Putri memilih mengalihkan fokusnya dengan bermain bersama Inaya dan Reuz yang menatap dirinya iba. Hatinya terluka, jiwanya seperti hilang entah kemana, tetapi wajahnya berusaha untuk tetap tegar dan tersenyum seakan seorang Putri Iryana Arsy masih baik-baik saja di dunianya sudah tak lagi berbentuk dengan indah dalam pikirannya. Namun tanpa di sadari oleh Putri dan Inaya, ada seseorang yang memperhatikan mereka berdua dengan pandangan yang sulit di artikan lalu tak lama orang tersebut berusaha mengendong paksa Inaya dan di tahan oleh Putri karena ia sudah berjanji melindungi gadis ini dengan dirinya. "Hey! Siapa kamu seenaknya berusaha menggendong, Inaya! Lepas! Lepasin dia atau nanti saya lapor polisi nih! Jangan mentang-mentang saya cewek maka kamu bisa sembarangan ke orang! Saya bilang lepasin Inaya! Dia putri saya," tutur Putri serius. Mendengar ucapan Putri membuat seseorang itu tertawa sekilas karena ia jelas lebih berhak untuk mengklaim Inaya di banding gadis yang entah datang darimana, sayangnya Putri bukanlah gadis yang bisa di tindas seenaknya saja oleh orang lain. "Siapa saya? Kamu tidak mengetahui saya lalu kamu berkata semaumu, hm? Dia putri kamu? Saya yang melahirkannya bukan kamu! Jadi bagaimana mungkin kamu bersikap jumawa seperti ini?! Kamu pikir saya tidak bisa balik melaporkan sikapmu ini begitu!!" sindir seseorang itu kesal. "Ibu yang melahirkannya tidak akan pergi tanpa alasan lalu datang seolah-olah dia tidak berbuat salah! Boleh saja kamu melaporkan saya toh Riond tidak akan tinggal diam melihat saya yang di perlakukan tidak adil jadi sebaiknya pikirkan baik-baik sebelum bertindak dah," sahut Putri datar. Mendengar ucapan Putri sontak saja membuat seseorang itu menggeram marah sebab ia tidak suka jika ada orang yang membahas mantan suaminya yang telah melukainya dengan segala sikap diam dan cueknya selama ini. "Bicara omong kosong apa kamu hah?! Tidak usah sok berkuasa deh! Lu gak mengenal Riond sama sekali jadi gak usah ngawur sama sekali!! Apapun yang akan lu bilang ke dia gak akan merubah dia buat memusuhi gue kok!" geram seseorang itu marah. Sayangnya Putri tidak terpengaruh sama sekali bahkan ia memilih untuk membawa Inaya dan Reuz masuk kembali ke dalam lingkungan kampus di banding terus-menerus menghadapi orang yang belum tentu berniat baik padanya, beruntunglah langkah Putri tidak di kejar oleh orang itu. Inaya dan Reuz yang di bawah oleh putripun mengikuti langkah kaki putri dengan terburu-buru karena memang putri melangkah dengan cepat sambil mengendong Reuz dan mengandeng tangan Inaya. Namun Inaya yang masih kecil merasa kesulitan untuk mengikuti langkah putri yang cepat, dan Inaya pun mulai mengeluarkan suaranya pertanda dirinya protes dengan langkah cepat putri. “Kakak jalannya jangan cepat-cepat dong, Inaya cape tau ngikutin langkah tante!” protes Inaya dengan wajah cemberutnya dan mulutnya sedikit di monyongkan olehnya. Putri yang melihat raut wajah Inaya yang seakan merajuk kepadanya justru merasa lucu melihat. “Oh iya maaf ya sayang! Habis kakak takut banget di kejer sama orang tadi! Nanti kalau kamu atau Reuz di ambil tante lagi yang di salahin sama papah kamu!” ucap Putri lembut. “Kakak Inaya kenal kok sama orang tadi! Dia gak akan nyakitin Inaya ataupun Reuz jadi tante tenang aja ya!” jelas Inaya. “Oh begitu, emang mereka siapa? Yaudah sekarang Inaya sama Reuz mau kemana?” tanya Putri lembut. “Hmm maunya sih pulang tante! Inaya cape disini! Tapi kalau pulang Inaya mainnya sama omah! Inaya bosen kakak, kakak punya ide gak kemana kita akan main?” jawab Inaya dengan lugas. “Hmm kemana ya kita main! Atau mau main timezone aja Inaya?” tawar Putri. “Hmm, boleh deh! Udah lama juga Inaya sama Reuz gak main time zone!” ucap Inaya. “Yaudah kalau gitu kita berangkat yuk, tapi sebelum itu kakak mau ajak temen kakak boleh yak?” tawar Putri. “Yaudah gapapa!” kata Inaya. Putri dan Inaya melanjutkan perjalananya sambil mengendong Reuz untuk mencari Tria, sepanjang jalan Putri mencari Tria namun tidak juga berhasil menemukannya sampai pada akhirnya Putri kelelahan dan duduk di kursi yang ada di dekatnya. “Haduh kemana sih ini anak! Kebiasan kalau di butuhin suka ilang!” omel Putri. Selagi Putri mencoba menghubungi Tria dengan ponselnya, Inaya melihat sosok yang sangat di kenalnya berjalan mendekati Inaya dan Reuz, sesampainya Riond di tempat duduk tempat Putri. Putri masih tidak menyadari keberadaan Riond justru sibuk dengan ponselnya dan Reuz yang di pangku oleh Putri terlihat sangat tenang, melihat putri sibuk dengan dunianya sendiri membuat Riond merasa kesal dengan Putri. “Heh! Kamu di titip in anak malah sibuk sendiri! Bahkan saya ada di sini saja kamu tidak menyadarinya! Kalau sampai Inaya jalan-jalan terus ilang! Mau apa kamu!” bentak Riond emosi. Putri yang sedang sibuk menghubungi temanya di bentak secara tiba-tiba membuatnya terkejut, kesalahan apa yang sudah dia lakukan olehnya sehingga membuat Riond memarahinya. Karena putri merasa tidak melakukan kesalahan apapun membuatnya membalas balik ucapan Riond yang sangat menusuk hatinya, seakan Riond selalu mengangap Putri tidak bekerja dengan benar, ini sangat melukai harga diri putri.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD