“Sepuluh atau sebelas anak rasanya cukup.” “Apa, Tuan?” tanya Celine dengan membelalakkan mata. Aksara terkekeh melihat reaksi wanitanya. “Saya hanya bercanda.” “Syukurlah! Jika itu perintah, mau tidak mau saya harus melakukannya.” “Tapi saya rasa memang seru. Apalagi kalau laki-laki semua, bisa jadi kesebelasan.” “Lebih seru lagi kalau ada perempuannya, Tuan. Saya bisa kuncir dan mainin rambut mereka.” Aksara tersenyum tipis menatap wajah Celine yang kemerah-merahan. Meskipun tanpa blush on, gadis itu terlihat merona sejak pertama kali berjumpa. Lebih tepatnya ketika Aksara menyatakan perasaannya. “Itu artinya kamu bersedia? Kenapa mesti nunggu sih, Celine? Bukannya kamu sudah punya kartu tanda penduduk? Kita bisa menikah secepatnya.” Lelaki itu terlihat kesal. “Iya, Tuan. Maaf.”

