Bab 8. Tekanan Darah Tinggi

1179 Words
Aksara menggeleng. Seumur hidupnya baru kali ini ia disuguhi ikan asin. “Masakan orang desa tuh enak, Pak.” Perkataan dari Baskoro tempo lalu membuatnya sedikit penasaran. Dilihatnya makanan di depannya sambil sedikit bergidik. Tangannya mulai memegang sendok, lalu menyuapkan lauk itu ke mulutnya. Seketika wajahnya menampakkan ekspresi yang aneh. Pintu terketuk, dan tak lama kemudian supir yang telah menemaninya beberapa tahun ini mulai masuk, “Maaf, Pak, anda kenapa?” tanya Baskoro kaget. Dilihatnya majikannya yang menampakkan ekspresi lain dari biasanya. “Tuh, katamu makanan ndeso itu enak. Tapi kenyataannya?” tanya Aksara sambil menunjuk makanan di depannya. Baskoro memang terlihat akrab dengan bosnya, karena ia lah satu-satunya orang yang paling lama dan paling paham tentang Aksara. Ia juga teman sekolah Aksara saat di SMA dulu. Sayangnya, nasibnya tak sebagus lelaki yang dipanggil pak. “Pak Aksara makan ikan asin?” tanya Baskoro terkejut. Ia menahan tawa dengan menutup mulutnya. “Iya, makan tuh lauk yang asinnya setengah mati! Sepertinya Celine mau bunuh saya.” Baskoro tersenyum, “Mau dirumahkan saja takutnya setengah mati, Pak, Apa mungkin bisa sekejam itu?” “Justru karena ia ketakutan jadinya nekat.” Baskoro kembali menarik sudut bibirnya, “Lagian, cara bapak makan tuh salah. Makannya itu lauknya sedikit dan nasinya yang banyak, sama tuh sambal petainya terlihat menggoda,” ucap Baskoro sambil menoleh ke arah makanan tersebut. “Saya gak tertarik. Buang jauh-jauh makanan itu!” “Baik, Pak. Saya makan saja.” “Terserah.” Baskoro mengambil wadah makan dan melangkah ke luar. Namun, belum sampai diambang pintu, namanya dipanggil oleh majikannya. “Iya, Pak.” “Untuk apa kamu ke sini?” tanya Aksara. “Eh, iya, maaf. Saya hanya mau ijin bawa mobil ke bengkel, sudah waktunya service.” “Baiklah. Harus sudah selesai saat jam pulang nanti.” “Iya, Pak.” Aksara menyandarkan punggungnya ke kursi, moodnya berantakan karena makanan aneh yang dibawa oleh Celine. Ia meraih ponsel yang berada si atas meja melakukan panggilan ke ponsel gadis itu. “Selamat pagi menjelang siang, Tuan.” Suara khas gadis belia itu terdengar, berikut dengan wajah yang beberapa saat lalu mampir ke dalam pikiran Aksara. Kameranya yang begitu dekat, membuat setiap inci bagian wajah itu terlihat. Bibirnya yang tipis, dengan pipi sedikit mengembang. Matanya bulat, dan memiliki bulu mata yang lentik. “Denim sedang ngemil buah, Tuan. Denim sangat suka makan buah naga,” ucap celine yang langsung mengarahkan kamera ke anak asuhnya. Ya, tanpa Aksara meminta gadis itu sudah tahu tujuan Tuannya menelfon. “Ma, ma, ma,” ucap Denim dengan suara cedalnya. Ia mendekatkan buah yang dipegang kepada babysitter kesayangannya. “Mamamnya enak ya, Dek Denim.” Jari-jari kecil bocah itu memegang pipi Celine, meninggalkan bekas merah di pipi dan dahinya. Aksara tersenyum. Aktifitas anaknya seperti menjadi sebuah hiburan tersendiri. Padahal, niat awalnya, Aksara hendak marah kepada Celine. “Wajahmu belepotan,” ucap lelaki itu sambil mengulum senyum. “Iya, Tuan, maaf. Biarlah. Yang penting Dek Denim suka. Ia sedang mengeksplore dunianya.” Aksara menarik sudutnya. Ia semakin yakin anaknya berada di tangan yang tepat. “Bekalnya sudah dimakan, Tuan. Maaf, saya tidak tahu makanan enak itu seperti apa. Itu makanan favorit saya dana adik-adik.” Aksara bergidik, lidahnya terasa kilu membayangkan betapa asinnya makanan yang masuk ke mulutnya. “Saya tidak makan. Saya tidak doyan. Rasanya asin sekali. Kamu mau bunuh saya ya?” “Maaf, Tuan. Sungguh saya tidak tahu kalau Tuan menderita tekanan darah tinggi. Pantas Tuan sering marah.” Celine berhenti sejenak. Ia baru menyadari ucapannya yang tak sopan. “Maaf, Tuan.” “Siapa yang mederita tekanan darah tinggi?” “Maaf, Tuan. Kalau tidak, kenapa bisa sampai membunuh? Setahu saya, belum ada kasus orang mati karena ikan asin, terkecuali dia menderita tekanan darah tinggi.” “Terus kamu bilang saya suka marah?” “Maaf, Tuan. Saya gak berniat berbicara seperti itu, hanya keceplosan. Eh” Gadisitu menutup mulutnya. “Celine ....” “Maaf, Tuan, ini sudah jadwal Denim tidur siang. Saya matikan panggilannya,” ucap gadis itu yang langsung mengakhiri video call tuannya. “Bodoh, Celine, kenapa bibir kamu tidak bisa dijaga? Kalau Tuan Aksara marah lagi bagaimana?” Gadis itu merutuki dirinya sendiri. Celine kembali dengan aktifitasnya. Ia mengurus Denim terlebih dulu, dan membersikan rumah setelahnya. Rumah sebesar itu, tentu sangat merepotkan jika dikerjkan oleh satu orang. Namun, nyatanya gadis yang terus diangap bau kencur oleh majikannya bisa mengatasi semua masalah tersebut. Gadis itu duduk di sofa. Ia menyenderkan punggungnya karena kelelahan. Tersadar dengan barang yang mengganjal di tubuhnya, ia merogoh saku celana kulot yang dikenakannya. Ponsel warna biru dari tuannya. Celine tersenyum. Ia begitu bahagia. Rasanya tak sabar memamerkan benda tersebut kepada adik-adiknya. Tentu mereka akan berselfie ria dengan kamera beresolusi tinggi dari perangkat tersebut. Jiwa mudanya pun bergejolak. Ia memotret dirinya dengan berbagai pose. Dari menunjukkan dua tangan, pura-pura memegang kepala, juga pose saat manyun. Celine kembali menghapus hasil bidikan kameranya jika dirasa fotonya jelek lalu kembali berselfie mencari gambar yang pas. Salah satu dari foto tersebut dijadikan walpaper ponselnya. *** Larut malam Aksara baru pulang, tugasnya yang kemarin menumpuk membuatnya tak bisa bermalas-malasan hari ini. Apalagi perusahaan sedang masa jaya-jayanya dimana pesanan barang begitu tinggi. Ia membuka pintu rumah dengan kunci cadangan. Ia tahu diri untuk tak mengganggu babysitternya yang tentu sangat letih dengan segala aktifitasnya. Baru juga ia mendorong pintu rumahnya. Aksara disuguhi dengan Celine yang tertidur di ruang tamu. Gais belia itu duduk bersandar di sofa dengan mata yang terkatup. Aksara duduk di sebelahnya, tersenyum menatap wajah polos babysitter kesayangannya, “Kamu pasti capek urus rumah ini sendirian. Besok ada asisten rumah tangga baru yang membantmu,’ ucap Aksara kepada wanita yang tengah tertidur pulas. Cukup lama ia berdiam diri di situ, menikmati paras Celine yang kini begitu candu. Kapan lagi, ia berani menatap lama tanpa merasa sungkan? Sudut matanya tertarik dengan ponsel pembeliannya. Aksara mengambil benda yang terletak di atas meja itu begitu saja, digesernya benda tersebut hingga tampak wajah Celine yang sedang memonyongkan bibirnya. Lagi-lagi aksi konyol Celine bisa membuat tuannya tersenyum. Sedikit mengurai ketegangan dengan aktifitas kerjanya yang melelahkan. Di rasa matanya mulai memberat, Aksara mengambil selimut dan bantal dari kamarnya. Ia menata benda tersebut dan memposiskan tidurnya gadis itu. Aksara tak tega membangunkan. Tapi, tak mungkin juga ia mengangkat tubuh babysitter itu. Setiap kulitnya yang bersentuhan terus saja membawa getaran yang aneh untuknya. “Selamat malam,” ucap Aksara. Ia duduk di sofa sebelahnya, turut ikut memejamkan mata. Baru juga ia mulai masuk ke dunia mimpi, lengkingan suara memanggil dirinya membuatnya terbangun. “Ada apa? Apa yang terjadi?” tanya Aksara kepada wanita yang tengah menatapnya tajam. “Tuan, kenapa Tuan tidur di sini? Kalau Tuan sakit bagaimana?” “Kenapa tidak berfikiran seperti itu kepada dirimu?” Celine menunduk, “Saya tida berniat tidur di sini, Tuan. Hanya ketiduran menunggu Tuan pulang.” Aksara tercekat. Baru kali ini, ia merasa diperhatikan. Selama ini, ia merasa hidupnya kosong. “Siapa yang menyuruhmu menunggu? Bukankah sudah saya bilang kalau saya pulang terlambat?” “Bagaimana saya bisa enak-enakan tidur di kamar sedangkan Majikan saya masih terjaga dengan pekerjaannya?”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD