Termangu Crisiant sedari malam, terbawa hingga siang bolong. Pemikiran dia pun begitu rumit setelah tangan menemukan hasil USG.
"Pak, jadi bagaimana?"
Sekretaris yang meminta keputusan barulah dilihat oleh Crisiant, sekalipun raut wajah kebingungan begitu kentara.
"Apanya?"
Warman menyodorkan blush on sampel tim RnD dengan sedikit kesal. Lelaki tersebut terhitung 15 menit tetap pada posisi berdiri di hadapan Crisiant, pada waktu itu juga Warman diabaikan.
"Sebenarnya apa yang Anda lamunkan, Pak? Wajah Bapak yang serius sekali, menambah garis halus."
Sindiran itu direspon tatapan tajam oleh Crisiant. Usia dia baru 30-an, belum termasuk kategori tua yang Warman sebutkan.
"Aku heran dengan kelakuan Asha."
Bukan sekali dua kali Crisiant mengeluhkan sosok Asha pada Warman. Sampai lelaki tersebut cukup paham untuk memberikan solusi.
"Ibu Asha lagi-lagi menyatakan cintanya?" tebak Warman.
"Bukan."
Crisiant terlihat berpikir keras, tapi Warman-lah yang melakukannya lebih banyak.
"Kalau bukan menyatakan perasaan, lalu apa yang bisa ibu Asha perbuat?"
"Dia minta cerai," sahut Crisiant cepat yang berhasil mengundang mata sekretaris terbelalak.
"Tapi, anehnya dia hamil," lanjut Crisiant.
Kali tersebut bukanlah Asha yang mengajukan gugatan cerai dipedulikan oleh Warman, menurut lelaki tersebut hal yang tak akan pernah berani dilakukan oleh Asha. Warman justru peduli dengan hal terakhir.
"Ibu Asha hamil, kenapa disebut aneh?"
Mulut Crisiant membisu, dia tak pernah menyentuh Asha. Sekali pun pulang dalam keadaan mabuk berat, dia selalu masuk ke kamar sendiri. Asha juga menghormati soal ranjang, tak sekali-kali mencoba menggoda.
Melihat reaksi atasan yang begitu kompleks, Warman hanya bisa menduga satu hal.
"Jangan bilang kalau ibu Asha selingkuh? Lalu hamil anak lelaki lain!"
Tuduhan itu membuat Crisiant berdecak, menampik omongan lancang dari sekretaris.
"Bapak kan belum pernah begituan dengan ibu Asha," ujar Warman gamblang membuat kesal saja.
Tarikan napas Crisiant amat kacau.
"Mungkin, sewaktu mabuk berat. Kami tak sengaja melakukannya."
Penyebutan one night stand oleh atasan justru dipandang aneh, menurut Warman hal itu sangat mustahil terjadi.
"Bukannya kalau mabuk, Bapak selalu menginap di rumah saya?"
Alasannya jelas, Crisiant takut khilaf pada istri sendiri dan memutuskan untuk menghindar.
"Pokoknya! Aku berani jamin, Asha bukan wanita seperti itu." Bukan hanya nada, wajah Crisiant pun begitu ngotot.
"Kalau begitu jangan cerai, besarkan anak kalian, Pak!" saran Warman cepat.
***
Senja telah mampir, menandakan kepulangan untuk Crisiant. Kali tersebut dahi dia mengerut, tak berhasil menemukan keberadaan Asha. Biasanya istri yang menyambut, hari ini justru pembantu yang melakukannya.
"Di mana Asha?"
Kali pertama Crisiant inisiatif menanyakan keberadaan Asha terlebih dahulu, tentu saja bibir pembantu langsung mengulas senyum.
"Ibu Asha sedang lari sore di komplek."
Ekspresi Crisiant langsung tak senang, melihat langit di atas sana serta jam yang menunjuk angka sore.
"Apa saja yang kamu lakukan di rumah? Sampai membiarkan majikan lari di sore hari!"
Pembantu sontak terkejut. Crisiant marah hanya karena Asha yang lari di sekitar komplek. Bahkan bisa ditemukan hanya dengan mencari selama 3 menit.
"Maaf, Pak. Tapi, ibu Asha melakukannya tiga kali seminggu. Itu sudah rutinitas."
Helaan napas Crisiant terdengar kasar.
"Kenapa dia gegabah begitu? Ada hal yang harus dijaga malah olahraga," omel Crisiant.
Dia teringat dengan Asha yang hamil, sementara pembantu hanya bisa berdiri dengan ragu melanjutkan pembicaraan.
"Suruh Asha menemuiku di ruang kerja saat dia kembali!"
"Baik, Pak."
Langkah kaki Crisiant yang hendak menaiki anak tangga sempat terhenti, dia teringat dengan kata 'demi anak' alhasil Crisiant berbalik dan memandang pembantu.
"Sampaikan dengan nada sepelan mungkin."
"Lalu, tanyakan apa yang dia butuhkan, belikan semua yang Asha katakan."
Bibir pembantu pun tersenyum merekah. "Baik, Pak!"
Asha yang mendapat amanat untuk menemui Crisiant segera ia lakukan seusai dengan kegiatannya. Jemari Asha sempat mengetuk pintu yang membuat Crisiant menghentikan pekerjaan saat melihat Asha.
Selagi masuk, Asha dipandang heran oleh suami sendiri.
"Kenapa? Kamu sudah merasa jadi orang asing?" sindir Crisiant.
Asha kelihatan bingung.
"Kamu sendiri yang bilang, penghuni rumah tak perlu mengetuk untuk masuk," Crisiant memilih menjelaskan.
Asha memilih untuk tidak mendebat, ia duduk dengan patuh di atas sofa. Crisiant sendiri bangkit dari kursi lantas mulai memperpendek jarak.
"Mas memintaku ke sini untuk membahas masalah gugatan cerai?" tanya Asha.
Ekspresi tak senang dari Crisiant begitu kentara, namun dia berusaha bersikap sabar menghadapi Asha yang diduga mengandung ini.
"Kita tidak bisa cerai begitu saja."
"Kenapa?" Suara Asha lumayan lantang mengundang tatapan tajam dari suami.
Jelas sekali Asha menginginkan perceraian. Lantas, anak yang dikandung mau dikemanakan? Crisiant menarik napas pelan supaya tetap sabar.
"Lusa ulang tahun nenek, kamu harus datang bersamaku ke sana."
Hanya itu alasan sementara yang bisa Crisiant berikan. Dia ingin tahu tujuan Asha tak menyinggung kehamilan itu secara langsung.
Tarikan napas Asha cukup kesal. Hanya nenek, satu-satunya keluarga suami yang menyukai dirinya. Jika tiba-tiba membahas cerai di hari ulang tahun, tentu bukanlah hal yang bagus.
"Baiklah. Selepas itu, tolong tanda tangani surat cerainya."
"Aku dengar, kamu memilih beli perhiasan alih-alih tas dan sepatu bermerk," singgung Crisiant, dia menyuruh pembantu dan langsung dapat laporan.
Asha diam sejenak. Menjual perhiasan tentu lebih mudah dan kerugiannya tak begitu merosot ketimbang tas atau sepatu. Asha hanya ingin pergi dengan persiapan penuh.
Datang untuk harta, maka pergi pun harus membawa serta harta bersamanya.
"Aku hanya sedang suka saja dengan perhiasan," sahut Asha terpaksa berbohong.
Crisiant beranggapan kalau Asha sedang ngidam perhiasan. Kepala dia mengangguk, siap untuk mengisi sisa laci kosong di wardrobe milik Asha.
***
Pada acara ulang tahun nenek Crisiant, Intan Riyanti. Asha nampak memasuki kediaman keluarga Alamsyah sendirian, seolah ia tokoh antagonis sebenarnya sampai seluruh mata melirik tak senang.
Pada akhirnya, Asha memilih menyendiri di balkon rumah. Menunggu Crisiant selesai dengan urusan sendiri dan mencarinya atau nenek Intan yang muncul untuk memulai acara.
"Wah, bukankah ini putri keluarga Dilnawaz? Asha Zaina Dilnawaz."
Tubuh Asha berputar, ia memandang adik dari suaminya lekat. Rihanna melipat tangan di perut sembari mendekati dirinya.
"Kamu punya muka datang ke sini?"
Terjadi perebutan lokasi pengembangan bisnis, alhasil keluarganya tak ada satupun yang diundang. Namun, Asha lelah jadi wanita yang berpura-pura lemah lembut.
Kelas atas sesungguhnya adalah sang penindas. Bibir Asha menertawai Rihanna pelan.
"Bukankah kamu terlalu bodoh untuk mempertanyakan hal yang jelas?" sindir Asha.
Sorot mata Rihanna tentu tak terima dan marah luar biasa. Tangan telah terangkat, siap untuk menampar.
"Dasar kamu wanita--"
Asha cekatan menampar terlebih dahulu membuat Rihanna membeku dengan raut kesal setengah mati.
"Berani sekali kamu menamparku!"
Rihanna sewot setengah mati, niatan balas dendam begitu menggebu. Penglihatan Asha yang menemukan Crisiant hampir membuka pintu, Asha yang tak ingin disalahkan memilih terjatuh ke lantai dan berpura-pura pingsan.
"Apa yang telah kamu perbuat, Rihanna!"