Sesuai janji, sore ini hampir bersamaan orang tua Emma datang lagi kerumah sakit menjelang Maghrib. Selain membawa pakaian ganti untuk Emma juga membawa makanan untuk Angga.
"Assalamualaikum..." ucap mama Angga begitu memasuki ruang rawat Emma.
"Waalaikumsalam..." balas Emma dan Angga bersamaan.
"Kompak banget." kata mama Emma.
"Angga... ini kamu makan ya, tadi Tante dibawain banyak banget jajanan sama mahasiswa sidang, mereka ada-ada saja deh." ucap mama Emma sambil menyerah kan sekantong penuh jajanan.
"Ya Allah nggak perlu repot-repot Tante, ini saya taruh disini ya, kalau nanti Emma juga mau." kata Angga sambil meletakkan makanan itu di atas meja.
"Enggak repot kok, kasihan kamu, seharian di sini jagain Emma."
"Enggak papa kok Tante."
"Maaf mas jadi ngerepotin ya." ucap Emma.
"Nggak kok..."
"Tapi ngomong-ngomong, Mas Angga kenal Rio sama mas Fadhil juga?"
"Rio satu kos sama aku, kalau Fadhil kita kebetulan sering kopdar bareng, satu komunitas motor gitu." jawab Angga.
ini
"Ohhh gitu..." gumam Emma.
Tidak berapa lama, papa Emma masuk, namun keadaanya sudah tidak memakai seragam dinas.
"Angga... makasih ya, udah nemenin Emma." ucap papa Emma.
"Iya om.." balas Angga.
"Ya sudah... karena om sama Tante sudah datang, saya pamit ya..." ucap Angga sambil memakai hoodie nya kembali.
"Masih Maghrib nak... tunggu bentar lagi, kita jamaah dulu bareng, ya kan pa..." ucap mama Angga.
Jujur Angga yang lupa kapan terakhir melaksanakan sholat jadi terbengong sesaat, ibadah rutin yang selalu dia laksanakan adalah Sholat id, setahun sekali.
Sebelum memikirkan alasan untuk lolos dari permintaan mama Emma, akhirnya dia memilih menyerah, dengan dua kali anggukan yang dibaca oleh mama Emma sebagai persetujuan.
Barangkali setelah ini, dia akan bisa berubah lebih baik, pikirnya dalam hati.
Papa, mama juga Angga menuju musholla dekat ruang tunggu.
"Ya udah Om... Tante, Angga pulang dulu ya, salam buat Emma, semoga cepat sembuh, kalau boleh besok pulang kerja Angga kesini lagi. Assalamualaikum.." pamit Angga sambil mencium tangan kedua orang tua Emma di depan musholla, usai berjamaah sholat Maghrib disana.
"Waalikumsalam... hati-hati ya." ucap mama Emma.
"Iya besok pulang kerja kesini ya, om tungguin." balas papa Emma.
"Iya om..." ucap Angga.
Orang tua Emma kembali ke ruang rawat Emma. Mama Emma duduk di ranjang sambil merapikan selimut Emma. Sedangkan papa Emma duduk di kursi tempat duduk Angga tadi.
"Adel dirumah sama siapa ma?" tanya Emma.
"Tadi dirumah ada sama Cika, mereka ngerjain tugas, ya mama nanti nggak bisa nemenin kamu disini soalnya Adel nggak ada teman dirumah, nanti jam 10 malam mama pulang nggak papa ya." ucap mama nya.
"Iya ma nggak papa, palingan juga besok udah boleh pulang, mama nggak usah kesini, biar papa aja, kalau papa pas tugas, Emma disini banyak teman kok ma, mereka pasti bisa gantian jagain Emma." jawab Emma.
"Udah mama sama papa nggak usah khawatir, teman-teman Emma disini juga baik kok, ini kalau tau Emma disini udah pasti satu kost pindah kemari." kata Emma.
"Angga anak nya gimana?" tanya papa.
"Kurang tahu pa, kayanya baik, bukan pacar Emma pa, kan udah dibilang bukan pacar Emma." jawab Emma.
"Iya kan papa cuma nanya, soalnya papa ada feeling dia bakalan setia kalau jadi suami." kata papa nya.
"Papa suka sok tahu, Emma aja juga baru kenal sama mas Angga, dia temennya temen Emma, nggak kenal dekat juga."
"First impression kalau dari mama, mungkin dia agak dingin anaknya, dan bukan good boy bener, soalnya pas habis wudhu tadi mama lihat ada tatto di lenggan nya, tapi ya personaliti nya baik. Santun dan gak kurang ajar ke cewek." kata mama nya.
"Tatto?" tanya Emma.
"Jangan dipukul rata, gak semua anak bertatto itu brandal, buktinya Angga, dia sopan loh, dan papa suka sama anak itu."
"Ehmmm..." gumam Emma.
"Dah jangan dipikirin, kalau Emma nggak suka ya nggak papa." kata mama.
"Emang mama suka?" tanya Emma.
"Kalau mama gimana ya, pertimbangan mama, dia rela jagain kamu sehari semalam, nggak bingung nyari tempat tidur, nggak bingung nyari temen, sendirian aja dia mau, bukan siapa-siapa kamu kan, baru kenal juga, tapi dia sebaik itu sama kamu, gimana tanggung jawabnya dia kalau udah jadi pasangan." ungkap mama Angga.
"Iya ma... Emma ngerti." kata Emma.
"Emang ada, seseorang yang sedang kamu suka?" tanya papa Emma.
"Eh... belum ada pa, kalau yang baik sama Emma kayanya baik semua pa, tapi kalua misal mau jadi pasangan Emma kayanya belum ada arah kesana pa, ahh udahlah jadi bahas ginian kan." kata Emma.
"Ya udah ini ganti jilbab kamu sudah bau keringat, ini mama bawain kamu yang serut, enak gak pakek jarum, terus bahannya adem." kata Emma.
"Makasihh ma... mama emang paling pengertian deh." ucap Emma menerimanya dengan senang hati.
---
Esok harinya Emma hanya sendirian di rumah sakit, kebetulan papa nya ada tugas sampai malam, dan Adel juga sedang demam dirumah. Teman-teman nya juga sedang shift pagi.
"Duuhhh kebelet pipis." Emma duduk lalu turun dari ranjangnya perlahan. Kemudian membawa infus beserta gagangnya dari kamar mandi.
Sampai di dalam dia melihat ada tiang pendek yang bisa menjangkau infus ke tangannya, dia pun memindahkannya ke tiang tersebut lalu, bisa buang air kecil dengan tenang.
Walaupun agak kesulitan pas membersihkan diri, namun pada akhirnya dia berhasil juga. Dia memindahkan infusnya pada selang semula lalu menyeretnya keluar.
Sampai di luar dia melihat sosok yang berdiri sambil menatapnya cemas, saat baru keluar dari kamar mandi.
"Kamu dari mana saja?" tanya Angga kemudian membantu Emma membawakan penyangga infus itu untuk kembali ke tempatnya, yang disana sudah ada juga sosok yang dia kenal.
"Dari kamar mandi mas, kebelet tadi." jawab Emma sambil duduk di ranjang rawatnya.
"Kamu sendirian aja?" tanya Fadhil kemudian.
"Iya mas, papa lagi tugas kayanya Sampek malem, terus mama gak bisa kesini, setelah ngajar langsung pulang karena Adel sakit." jawab Emma.
"Seah, dan lainnya juga shift pagi." lanjutnya.
"Kalian berdua kok kemari, bukannya kerja." Emma kebingungan melihat dua sosok ganteng didepannya dengan masih berseragam lengkap beserta id card nya.
"Iya ini lagi istirahat, dan kami keluar bentar buat lihat kamu. Sebenarnya Fadhil yang ngajak aku kesini, dia khawatir sama keadaan kamu." jelas Angga.
"Oh gitu... makasih ya masih sempatin waktu buat lihat aku." Ucap Emma.
Beberapa saat kemudian datang petugas yang mengantarkan makan siang untuk Emma juga sebutir obat sesuai resep dokter.
"Emma... ini makan, ayo aku suapin." kata Fadhil.
Dan entah kenapa, suasana hati Angga yang semula baik-baik saja kini mendadak keruh seperti basu saja terkena gelombang pasang yang kuat.
"Makasih mas..." ucap Emma usai makan dia mengambil sebutir obat itu lalu meminumnya bersama segelas air putih.
"Kamu cepat sembuh ya." ucap Fadhil.
"Iya mas, aku juga udah bosen disini." ucap Emma.
"Ya udah kita balik dulu ya, belum makan juga tadi soalnya." kata Fadhil.
"Oh iya mas..." ucap Emma.
Setelah mereka berdua pergi, baru Emma sadari bahwa Angga lebih dingin dari biasanya.
"Emang dia kenapa?"
"Nggak tau ah.." ucap Emma lagi.
Namun expresi tadi benar-benar mengganggunya, akhirnya dia memutuskan mengambil ponselnya dan mengirim pesan ke Angga.
"Assalamualaikum mas.. tadi kenapa?"
Tidak ada balasan, sampai hampir jam 1 siang.
"Sebenarnya aku sih nggak peduli, tapi jujur ini benar-benar membuatku terganggu, dan aku nggak pernah chat cowok sampai nungguin balasannya kaya gini." ucap Emma kesal sendiri.
Baru kemudian, 5 menit menuju jam satu siang, Angga membalas.
"Waalaikumsalam... nggak papa." balas Angga, sebenarnya dia kesal melihat Fadhil sedekat itu dengan Emma, namun juga aneh baginya, membalas pesan cewek dengan embel-embel salam sebelumnya.
"Beneran nggak papa?"
"Iya, emang kamu pikir kenapa?"
Emma justru kesal sendiri lalu meletakkan ponselnya kemudian kembali berbaring.
"Nyesel aku nanya ke dia." ucapnya kemudian.
Sesaat kemudian dia mengambil ponselnya buat video call mamanya.
"Assalamualaikum ma..."
"Waalaikumsalam sayang, udah makan belum? ada temen kamu disana?"
"Ada ma... baru aja keluar buat makan."
"Syukurlah... udah diperiksa dokter lagi belum? gimana katanya sayang."
"Udah ma... intinya kalau typus itu agak lama, tapi buat Emma kalau hari ini udah stabil besok udah boleh pulang kok ma, cuma gak boleh kecapek an, istirahat cukup, gak boleh makan ini itu, karena sifatnya tidur sementara virusnya begitu kondisi badan lagi gak fit langsung nyerang lagi." kata Emma.
"Iya dengerin tuh makannya, kamu sih nak, ijazah tinggi maunya kerja di pabrik." omel mama Emma.
"Enggak papa ma, buat nyari pengalaman."
"Adel gimana ma, udah mendingan belum?"
"Udah membaik kok, kemarin habis ngerjain tugas main sama teman-temannya Sampek sore dan kehujanan." jawab Mama.
"Tuh kan makanya jadi deman ya ma.."
"He em bandel sih kaya kakaknya."
"Hehehe kan satu pabrikan ma..."
"Kalian berdua keras kepala kaya papa."
"Mah..." panggil Emma kemudian.
"Iya ada apa sayang?"
"Ma... mau cerita bentar boleh ya?"
"Boleh... dong."
"Jadi barusan mas Angga kesini jam istirahat soal ya di pabrik."
"Terus?"
"Dia kesini sama temennya."
"Ohhh jadi temen yang kamu bilang barusan keluar tadi, Angga sama temennya, cewek apa cowok?" tanya mama Emma setengah menggoda.
"Cowok ma... jadi ceritanya temen mas Angga tadi juga temennya Emma, nah si temennya tadi bantuin Emma makan, nyuapin gitu, soalnya kan makan pakai tangan yang di infus agak rikuh ma."
"Iya terus?
"Terus mas Angga nggak tau kenapa tiba-tiba berubah jadi frezzer."
"Maksudnya?"
"Iya biasanya dingin kaya kulkas kemarin jadi tambah beku kaya frezzer ma."
"Fix... dia cemburu sama temen nya, karena dia lihat temennya suapin kamu."
"Kalau cemburu kan harus ada rasa paling nggak suka dikittt lah ma, la dia nggak suka sama Emma ngapain cemburu, dan lagi, pas Emma tanya, mas Angga nggak papa? tadi gak bales-bales tau-tau pas bales. bilang gini, nggak papa, kamu pikir kenapa? kan ngeselin ma, aku juga malu udah nanya."
"Ya mungkin dia suka, tapi nunjukinnya gak pakai kata-kata, mama tau kok, mama pernah muda, dah gak usah panik, ntar juga pasti kesana." kata mama.
"Maa... emang nggak papa? kalau mas Angga suka sama Emma? kalau serius? lengannya aja di tatto ma."
"Kenapa? kamu nggak suka? beneran nggak suka?"
"Ya nggak gitu ma."
"Kalau nggak gitu ya gimana?" balik mama nya.
"Ahh udahlah cerita ke mama jadi tambah pusing ma.."
"Emma mau istirahat, bye Assalamualaikum, salam buat Adel ma."
"Waalaikumsalam salam... cepet sembuh sayang."
Emma meletakkan ponselnya diatas meja. Dia mulai memikirkan kata-kata mamanya. Dia bingung, dibilang suka, tapi perasaan itu belum kuat, dibilang nggak suka, tapi ngerasa bersalah pas bikin Angga cemburu.
---
Dan usai Maghrib Angga datang bersama Fadhil lagi. Sementara itu papa Emma masih ada di musholla.
Angga duduk di kursinya kemarin sedangkan Fadhil duduk di tempat tidur Emma,
Emma langsung duduk dia mencoba menutupi ketidaknyamanan nya ketika Fadhil duduk mendekatinya.
Angga menepuk bahu Fadhil dan mengatakan untuk duduk ditempatnya kemudian dia pergi. Sesaat sebelum pergi, Emma melihat sorot mata Angga benar-benar beda dari kemarin, dia merasakan strong Vibes berhawa negatif, dia menyesal tidak sempat menahan Angga tadi.
Sementara Fadhil sama sekali tidak peduli dengan dengan temannya, dia justru asyik mengajak bicara Emma mengenai rencana demo yang akan dilaksanak beberapa hari mendatang.
Angga masih sempat berdiri sejenak di depan pintu, kemudian melangkahkan kaki nya menuju kantin, dia memesan segelas kopi hitam dan mencomot sebungkus krupuk dari wadahnya.
Papa Emma kembali dari musholla. Setelah bertegur sapa dengan Fadhil dia menanyakan Angga.
"Angga nggak jadi kesini ya?"
"Oh... jadi kok om, saya tadi kesini dengan Angga, dia keluar tadi kayanya." jawab Fadhil.
"Oh ya udah... kalau gitu om nitip Emma bentar ya, mau cari makan dulu." pamit papa Emma.
Papa Emma berjalan menuju kantin, dari jauh dia melihat sosok Angga yang sedang duduk sendirian, sambil mengaduk kopi hitamnya berkali-kali.
"Heh... kok disini kamu? om cariin di dalam tadi." sapa papa Emma.
"Ehh... iya om, kebetulan saya tadi kesini sama temen saya." ucap Angga sembari mencium tangan papa Emma.
"Iya terus kenapa kamu malah di sini?" tanya papa Emma.
"Ehh... anu om lagi pingin ngopi bentar soalnya." jawab Angga.
"Temen kamu tadi suka sama Emma?" tanya papa Emma.
"I... iya om, dia cerita ke saya, katanya suka sama Emma."
"Terus..."
"Sebenarnya saya tahu Emma dari dulu om, karena dia kan satu gedung sama saya, sedangkan Fadhil baru kenal kemarin aja." kata Angga.
"Kamu kalah start? atau intinya gini, kamu suka nggak sama anak saya?" tanya papa Emma to the point.
"Hahahaha..." Angga malah ketawa nggak jelas.
"Loohhh malah ketawa sih Ngga?" Sahut papa Emma, mengambil kopi Angga lalu menyereputnya.
"Kalaupun saya suka sama Emma, tapi saya tau diri om, saya siapa dia siapa? mana pantes saya buat anak om." Angga menjelaskan alasannya sambil menggeleng-gelengkan kepala.
"Emang kamu pikir Emma itu siapa? kenapa kamu buat batesan pantes nggak nya sama dia." Kata papa Emma.
"Se... sebenarnya di mata saya, Emma satu-satunya mahluk tercantik di pabrik, nggak tau om pokoknya di mata saya seperti itu, udah gitu sopan, banyak temen, nggak pernah telat ibadahnya, kerjanya produktif banget, dan lagi setelah saya tahu kedua orang tuanya, seorang Polisi juga dosen, saya jadi minder mau deketin dia." ungkap Angga jujur, membuat papa Emma ketawa balik.
"Asal kamu tahu, om nggak pernah asal minum kopi orang, kalau om nggak merasa nyaman sama orang itu. Ehh Angga... Kalau kamu memang pingin serius sama dia, tikung dia di sepertiga malam, om tau saingan kamu banyak kan, kalau misal om sama Tante sudah kasih jalan ke kamu, tinggal kamu berusaha dong jadi imam yang baik gimana caranya dijalan itu." Jelas papa Emma.
"Itu kalau kamu serius loh sama anak saya, dan mama nya Emma tadi bilang, kalau ketemu kamu suruh sampein kalau tadi Emma bilang ke Mama nya, tentang kamu yang katanya kemarin kulkas sekarang frezzer..." tambah papa Emma tidak bisa menahan tawa.
"M... maksudnya om?"
"Tadi Emma cerita ke mamanya katanya tiba-tiba kamu diemin dia, dingin banget lebih dari biasanya, karena habis lihat temen kamu suapin dia."
"Ohhh itu..." Angga pun tertawa membayangkan sikapnya.
"Kok malah kamu ketawa, udah habisin kopi nya terus ikut om kedalam."
"Baik om..."
Usai Angga menghabiskan kopinya, mereka berdua masuk kedalam ruang rawat Emma, seorang perawat memberikan selembar resep obat yang harus di ambil di ruang obat.
"Biar saya saja om..." Angga meminta lembaran resep itu dari tangan papa Emma.
"Oh iya... makasih ya." ucap papa Emma.
Kembalinya dari menebus obat Angga memberikan satu persatu obat sesuai resep dan memberikannya pada Emma, kemudian segelas air putih.
"Iya... udah ada di sini kok ma, frezzer nya udah jadi kopi anget tuh kayaknya" ucap papa Emma pada seseorang diujung telpon.
Angga tersenyum dia tau yang dimaksud adalah dirinya, sedangkan Emma terlihat blushes sambil menutup wajahnya dengan ujung jilbabnya.