"Siapa di sana!" teriak pria itu. Jantungku berdegup sangat cepat. Kalau saja dia tidak membawa golok sepertinya aku akan berani menghadapinya. Kulihat ke samping kananku, dan ada sosok anak kecil yang ada di ruang bawah tanah tadi. Dia mengisyaratkan ku untuk diam lalu menarik tangan ku pergi dari tempat ini. Dan entah kenapa, aku menurut saja dan terus mengikutinya pergi. Dia membawaku ke kebun belakang rumahnya lalu menunjuk ke sebuah pagar tanaman yg tertutup. Dia lalu mengangguk sekali tanpa berkata apa pun. "Maksudnya apa ni anak... aku suruh ngumpet di sini? Duh, kalau ada ulet ggimana, ya? Ah... Kakak! Radit... Gimana dong ini." Aku berdebat dengan diri sendiri. Dengan ragu ragu aku pun jongkok dan melihat ke pagar itu. aku sedikit terkejut karena melihat ada sebuah pintu d

