Rhey membiarkan Meisha berada di dalam kamar. Ia tak bisa menolak keinginan dari wanita yang dicintai meskipun Rhey tahu Meisha belum bisa membalas cintanya dan justru mencintai laki-laki lain.
Rhey berdiri di balkon kamar, duduk santai di atas alas karpet.
Sebelum menikah, hampir tiap malam Rhey duduk di balkon sambil melihat langit dan bergumam, "Hai, jodoh. Di belahan langit mana kamu berada?"
Sekarang ketika ia sudah menemukan jodohnya, bukan kebahagiaan yang didapati Rhey, justru kehampaan.
"Kak, kenapa duduk di sini? Panas." Tiba-tiba Meisha datang menghampiri, duduk di sebelah Rhey.
"Enggak apa-apa. Katanya sinar matahari itu bagus."
Meisha terkekeh, pandangannya lurus ke depan.
"Kalau masih pagi memang bagus. Tapi, kalau udah jam sembilanan, enggak bagus juga," timpal gadis bercadar itu. Rhey tak menimpali. Mengabaikan ucapan Meisha. Sekian menit diantara mereka tidak ada yang bicara. Bergelut pada pikirannya masing-masing.
"Mei?" Panggilan Rhey memecah keheningan antara keduanya.
"Iya, Kak?"
Rhey menoleh, membalas tatapan istrinya.
"Kamu bisa gak, kenalin aku sama lelaki yang kamu cintai?"
Pertanyaan Rhey sontak membuat Meisha terkejut. Keningnya mengkerut, kemudian ia memalingkan wajah ke arah lain.
"Aku cuma pengen tau aja, lelaki yang kamu cintai seperti apa? Apa dia lebih ganteng dari aku? Kalau lebih kaya raya, kayaknya gak mungkin, ya?"
Rhey sengaja menyombongkan diri. Dari balik cadar, Meisha tersenyum miring.
"Sebenarnya, kamu lebih segalanya dari dia."
"Oh ya?" Rhey terperanjat, mengubah posisi duduk, lebih menghadap Meisha. Wanita bercadar itu menganggukkan kepala.
"Kalau aku lebih dari dia, kenapa kamu gak bisa cinta sama aku?" tuntut Rhey menatap lekat kedua mata Meisha.
"Bukan aku gak bisa cinta sama kamu, tapi belum." Meisha meralat ucapan Rhey.
"Coba kamu jelasin."
"Apanya?"
"Belum bisa cinta sama aku karena apa?" desak Rhey ingin mendengar kejujuran dari Meisha. Wanita itu tak langsung menjawab, terdiam sejenak.
"Mei, apa cowok itu tau kalau kamu udah nikah sama aku?"
Meisha menggelengkan kepala.
"Belum. Aku belum memberitahunya."
"Kenapa? Kamu takut dia sakit hati?"
Lagi, Meisha terdiam. Pertanyaan Rhey kerap kali membuat Meisha bingung menjawab. Ia tak mau menyakiti Rhey lagi. Baginya, kejujuran Meisha sudah merupakan kesalahan besar. Harusnya Meisha tak perlu berkata jujur. Biar saja ia berpura-pura tidak ada lelaki lain di hatinya. Biar saja ia berpura-pura bahagia dengan pernikahannya. Mungkin jika Rhey tidak tahu kalau di hati Meisha ada lelaki lain, mereka bisa selayak suami istri. Rhey tetap melakukan hubungan suami istri meski Meisha belum mencintainya. Kalau sekarang, Rhey tidak maau melakukan itu karena ia takut, ketika melakukan hubungan suami istri, Meisha masih memikirkan lelaki lain.
"Aku gak tau," jawab Meisha merunduk. Rhey paling tidak suka sikap ragu-ragu seseorang. Dari dulu, sifat Rhey tegas.
"Begini saja, aku tanya sama kamu. Kamu kan, enggak mau kita bercerai. Apa kamu mau berusaha melupakan lelaki itu?"
Meisha tak langsung menjawab. Pandangannya lurus ke depan.
Wanita itu pun sadar, ia tak boleh seperti ini. Tak boleh membiarkan Rhey mengharapkan sesuatu yang belum pasti. Kalau Meisha tidak belajar mencintai suaminya, maka dia sangat egois.
"Iya, Kak. Aku akan belajar mencintaimu dan melupakan cintanya."
"Bagaimana caranya kamu belajar mencintaiku?" Meisha benar-benar dibuat bingung oleh pertanyaan Rhey. Memang tidak mudah melupakan lelaki yang selama ini ia cintai. Masalah hati Meisha belum selesai dengan lelaki lain, tapi ia sudah membiarkan orang lain menyimpan namanya di hati orang itu.
"Dengan terus bersamamu."
Jawaban Meisha membuat Rhey tersenyum. Ia menganggukkan kepala. Tapi, Rhey tak boleh senang dulu. Ia harus memastikan tentang cinta Meisha pada lelaki yang hingga kini belum Rhey ketahui namanya.
"Terus, kamu juga mau belajar melupakan lelaki yang kamu cintai enggak?"
"Iya. Aku juga akan belajar melupakannya. Aku ingin kita berumah tangga untuk mencari ladang ibadah. Aku ingin menjadi istrimu yang baik."
"Bisa kamu buktikan?"
"Insya Allah, Kak."
Rhey sedikit lega mendengar jawaban Meisha dari segala pertanyaannya.
Tiba-tiba saja handphone Meisha berdering. Ia merogoh handphone dari saku gamis. Melihat nomor tertera, dahinya mengkerut.
Meisha tampak bingung, ia menelan saliva. Memandang Rhey dan nama kontak yang ada di layar handphone.
"Kenapa enggak diangkat? Telepon dari siapa?" tanya Rhey heran. Meisha menyodorkan ponselnya ke depan Rhey.
"Fahri? Siapa?" Rhey semakin bingung.
"Dia ... dia laki-laki itu."
Jantung Rhey seketika berdetak lebih cepat. Ia tercenung tapi berusaha menguasai perasaannya.
"Angkat aja, gak apa-apa. Aku ke dalam dulu."
"Kak?"
"Apa?"
"Jangan pergi. Aku akan meloudspeaker. Aku akan ... akan memberitahunya kalau aku udah nikah," ujar Meisha sungguh-sungguh. Rhey melipat bibir, ia jadi bimbang. Satu sisi dirinya bahagia, tapi sisi lain ia takut kalau lelaki itu memarahi Meisha.
"Kalau begitu, biar aku saja yang memberitahunya. Sekarang kamu angkat dulu teleponnya." Rhey berusaha tetap tenang. Meisha menganggukkan kepala. Menerima panggilan telepon dari Fahri.
"Assalamualaikum, Ukhti." Suara lelaki dari ujung telepon terdengar. Meisha melihat Rhey memalingkan muka ke arah lain.
"Waalaikumsalam."
"Sekarang kamu lagi di mana?"
Pandangan Meisha tak lepas menatap Rhey yang memalingkan muka seolah tak ingin mendengar percakapan Meisha dan lelaki itu.
"Di rumah," jawab Meisha singkat.
"Aku sekarang lagi ada di pondok baca. Kamu bisa ke sini gak? Kebetulan ada teman-teman lainnya. Kita juga kan udah dua bulanan enggak ketemu."
Rhey memejamkan kedua mata. Ia tahu, maksud lelaki itu apa. Meisha terdiam. Ia tidakk tahu harus menjawab apa. Meisha berharap, Rhey berbicara. Namun, lelaki itu tetap diam. Rhey juga ingin menguji Meisha. Apakah langsung mengiyakan ajakan lelaki itu atau justru sebaliknya.
"Ukhti Meisha?" Panggil lelaki yang dicintai Meisha. Rhey tetap bungkam.
"I-iya?" Meisha agak gugup.
"Ukhti mau ke sini enggak?"
"Hm, aku mau pikir-pikir dulu. Assalamualaikum."
Tanpa menunggu Fahri menjawab salam, Meisha mematikan sambungan telepon. Ia meenghela napas berat. Ada sesak di d**a. Meisha tak dapat memungkiri jika hatinya bahagia karena Fahri telah menghubunginya lagi setelah dua bulan tidak ada kabar.
"Kak?"
"Ya, Mei? Kenapa?" Rhey baru menoleh, melihat Meisha yang tertunduk.
"Aku bagaimana?"
"Bagaimana apanya?" Rhey balik tanya. Pura-pura tak mengerti. Meisha mendongak, menatap kedua mata suaminya. Sorot mata yang sendu dan terlihat cinta yang terpendar untuknya. Dalam hati, Meisha berharap dapat membalas cinta Rhey padanya. Ia ingin membina rumah tangga yang sakinah mawaddah warrohmah. Meisha tidak mau terus-menerus mencintai laki-laki yang tak memberinya kepastian.
"Aku gak akan menemuinya kalau kamu enggak mengizinkan," kata Meisha membalas tatapan suaminya.
"Kalau aku mengizinkan kamu bertemu, apa kamu akan menemuinya sendirian?"
"Enggak," jawab Meisha cepat. "Aku enggak akan pergi sendirian. Aku akan pergi bersamamu. Aku akan memberitahunya kalau aku udah nikah dan kamu adalah suamiku."
Rhey sedikit tidak percaya jika Meisha berani mengungkapkan kebenaran itu. Bukan Rhey namanya, jika ia tidak memberi kesempatan pada Meisha untuk membuktikannya.
"Oke. Kita temui cowok itu. Aku juga pengen kenalan sama dia sekaligus pengen membuktikan kata-katamu barusan. Kita berangkat sekarang?" tanya Rhey.
Meisha menganggukkan kepala, lalu mengirim pesan singkat pada Fahri.
"Aku ke sana sekarang." Pesan singkat telah dikirim Meisha untuk Fahri.
"Iya, Ukhti. Aku menunggumu," balas Fahri dengan senyuman yang tersungging disudut bibir.