"Om Fathan?" Pria berkemeja putih itu mengangkat kepalanya, mengalihkan pandangannya dari file-file tebal yang Karim tidak tahu berisi apa. "Oh, Karim! Masuk!" perintahnya dengan suara rendah penuh wibawa. Pantes banget jadi bos, pikir Karim. Karim menurut. Didorongnya pintu kaca tebal di depannya dan masuk ke dalam. "Duduk, Rim!" Karim segera menuju sofa yang ditunjuk Fathan dan duduk di sana. Tak lama, Fathan turut bergabung dan duduk berseberangan dengan Karim, begitu santai. Berbeda jauh dengan Karim yang duduk tegap dengan mata menghadap ke bawah, terlihat tidak nyaman. Ayah Kay yang menyadari ketidak nyamanan itu lantas tersenyum ramah, mencoba mencairkan suasana. "Mau minum apa, Rim?" Karim mengangkat kepala. "Nggak usah repot-repot, Om," tolaknya sopan. Tapi ayah Kay menga

