Sheila memasuki kelasnya dengan hati yang berbunga-bunga. Entahlah kenapa ia sangat bahagia sekarang setelah tadi mood nya di hancurkan oleh Faqih.
"Kenapa baru masuk?" Suara itu menghentikan langkah Sheila.
"Karna pengen masuk sekarang." Ucap Sheila denan wajah santai.
Semua tatapan mengarah pada percakapan orang di depan mereka. Iya ibu Pipit dan Sheila lagi.
"Sekretaris mana buku absen?" Tanya Ibu itu kepada sekretaris kelas.
Sang sekretaris pun menyerahkan buku absen itu kepada ibu Pipit tadi.
"Apa-apaan ini! Kamu tidak pernah masuk kelas dan selalu bolos, sekalinya masuk kelas di pelajaran saya kamu bikin ulah!" Ucap ibu pipit marah.
sheila merasa aneh ketika melihat buku absen yang tertulis alpha rapih di kolom absennya. "Woy Shel, berarti gue ngga di izinin pas gue Chat lo kalo ada acara mendadak?" Tanyanya kepada Shela untuk memastikan.
"Kata Sekretaris ngga boleh kalo ngga ada surat tertulis." Ucap Shela.
"Cih.. ngga adil." Ucap Sheila.
"Ngga adil kamu bilang! Emang harus ada surat tertulis kalo mau izin, kamu jangan seenaknya kalo sekolah disini!" Ucap ibu pipit marah.
"ASAL IBU TAU! KETUA KELAS DAN ANTEK-ANTEKNYA SERING NGGA MASUK TANPA SURAT TERTULIS TAPI DI BUKU ABSENNYA TERTULIS IZIN. Emang saya ngga tau? Cih Yang punya kuasa emang suka seenaknya." Sheila tersenyum sinis.
"KAMU INI UDAH NGGA PERNAH MASUK KELAS SEKARANG SOK-SOK AN NUDUH YANG NGGAK BENER! SEKARANG IKUT IBU KE RUANG BK!!"
Guru itu pun membawa Sheila pergi ke ruang BK jadi sementara kelas itu tidak ada yang mengisi.
"Mampus." Ucap Ketua kelas.
Tiba-tiba Shela bangkit dari duduknya dan berjalan menuju meja yang di duduki ketua kelas tadi.
BRAKKK!!!
Shela menggebrak meja yang di tempati oleh Andi tersebut.
"MAKSUD LO APA HAH!" sang ketua kelas yang di ketahui namannya ANDI pun berdiri dari duduknya.
"LO YANG APA b**o! LO SENENG KAN LIAT SHEILA DI HUKUM?! CIH... SOK BERKUASA." Ucap Shela sambil tersenyum merendahkan.
"IYA GUE SENENG, LO PUAS! DIA CUMAN BISA NGERUSAK NAMA BAIK KELAS INI. BIARIN AJA DIA DI KELUARIN!"
"g****k!" Shela melangkahkan kakinya menuju toilet yang di ikuti oleh Amel di belakangnya.
*
"Mau sampe kapan kalian kaya gini terus?" Tanya pa Anton kepada Sheila dan Faqih.
Jangan tanya kenapa Faqih bisa ada di sini.
Flashback on
"Kamu ngapain masuk kelas?" Tanya pak Syarif.
Ya pak Syarif itu guru Matematika sekaligus menjadi kesiswaan di sekolah SMAN 1 PELITA ini.
"Belajar." Jawab faqih datar.
"Seharusnya kamu ngga usah masuk kelas udah sana nongkrong-nongkrong aja sambil ngerokok, bapak mah ngga papa ngga usah ngajar kamu lagi."
"Yaudah." Faqih melangkahkan kakinya keluar.
"SURUH SIAPA KELUAR?!" Teriak pak Syarif.
Faqih pun membalik badannya dengan malas.
"IKUT BAPAK KE BK SEKARANG JUGA!"
Flashback off
"Kalian ini sudah kelas XI bapa harap kalian ubah sikap kalian ini. Sekolah itu gunannya untuk belajar bukan untuk buat masalah." Ujar pak Anton lagi.
"Maaf pak." Cicit Sheila.
"Kalian bikin pusing bapak tau ngga? Bapak selalu sabar ngadepin sikap kalian. Tapi ngga lagi untuk sekarang."
Tiba-tiba pak Anton berdiri dari duduknya dan mengeluarkan 2 lembar ketas dari laci mejanya.
"Besok orang tua kalian harus kesini." Ujar pak Anton sembari menyodorkan ketas itu.
"Maaf pak, tapi tolong jangan kasih saya surat itu." Sheila menunduk.
"Ambil surat ini dan setelah itu kalian boleh keluar dari ruangan ini."
Faqih langsung mengambil 2 lembar kertas itu dari tangan Pak Anton dan segera bangkit dari duduknya.
"Saya permisi pak." Pamit Sheila kemudian menyusul Faqih yang sudah keluar terlebih dahulu dari ruangan itu.
Faqih melangkahkan kakinya menuju Rooftop dan duduk di kursi tua itu di susul Sheila.
"Sheil gue minta ini." Ujar Faqih sambil memamerkan bungkus rokok Marlboro itu. Dan hanya di angguki oleh Sheila.
Faqih menghembuskan asap itu dari mulutnya berulang kali menikmati rasa pahit dan manis dalam batang rokok itu.
"Besok siapa yang bakal dateng." Gumam Sheila sambil menunduk.
"Mamah gue." Ucap Faqih.
"Tapi.....Lo gimana?"
"Ngewakilin berdua."
Sheila dan Faqih menghabiskan waktu di sekolahnya hanya untuk duduk, termenung, dan sibuk dengan Fikirannya masing-masing sampai bel pulang pun terdengar berbunyi nyaring menandakan bahwa waktu menunjukan pukul 15.00 dan seluruh siswa-siswi harus meninggalkan sekolah itu untuk kembali ke rumah mereka masing-masing.
"Sheil mau ice creamnya sekarang?" Tanya Faqih ketika mereka melangkahkan kaki meninggalkan Rooftop dan menuju parkiran.
"Nanti malem aja Qih." Ucap Sheila
"Lo yakin makan Ice cream malem-malem?" Tanya faqih meyakinkan.
"Iya."
"Yaudah ntar gue jemput jam 8 malem biasa."
"Iya."
Sheila pun melangkahkan kakinya untuk mendekati motor Sportnya yang terparkir rapih di area parkiran ini.
Sheila mengeluarkan motor Sportnya dan tak lupa juga ia memakai helm full face miliknya dan mengendarai motor itu melewati Faqih tanpa menyapanya.
"Hati-hati Sheil." Batin Faqih.
Memang sejak keluar dari BK tadi Sheila lebih banyak diam dan melamun entahlah apa yang ada di fikiran gadis itu.
Sheila membutuhkan waktu 15 menit untuk sampai di apartementnya.
Setelah sampai di apartementnya ia langsung duduk di sofa dan mengacak rambutnya frustasi.
Sudah banyak masalah yang menimpanya hari ini, semoga besok akan lebih baik dari hari ini. Fikirnya
*
"Assalamualaikum.." ucap Faqih sembari membuka pintu rumanya.
"Waalaikumsalam..." jawab mamah Dian, ibu dari Faqih.
Faqih mencium punggung tangan mamahnya.
"Mah Faqih pengen ngomong sama mamah." Ucap Faqih.
"Ngomong apa nak?"
Faqih membawa mamahnya duduk di sofa, Faqih mengeluarkan 2 lembar kertas yang di berikan Pak Anton tadi kepada mamahnya.
Kemudian mamah nya pun membaca surat tersebut.
"Kamu ini Qih nggak nggak berubah-berubah dari dulu, selalu aja cari masalah di sekolah." Ucap mamahnya menasehati
Tapi kemudian mamahnya merasa janggal kenapa suratnya ada 2.
"Qih..." ucap mamah faqih.
"Ya?" Jawab Faqih
"Kenapa suratnya ada 2?"
"Mm...itu satunya punya Sheila." Terang Faqih.
"Emangnya kalian dapet masalah apa? Pacaran di sekolah? Kaliqn m***m ya di sekolah?" Tanya mamah Dian.
"Astagfirullqh mahh...Bukan mah... Faqih sama Sheila kebanyakan Bolos. Sekalinya pengen masuk pelajaran buat belajar malah berakhir di BK."
"Yaudah ntar mamah besok kesana ngewakilin kalian berdua."
Akhirnya Faiqh bernafas lega karna ucapan mamahnya.
"Tapi...."
"Kamu harus janji sama mamah kalo ini masalah terakhir kamu."
"Insyaallah Kalo ngga lupa." Ucap Faqih terkekeh setelah itu ia langsung pergi ke kamarnya.
Sedangkan mamahnya hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan anak semata wayangnya itu.
Setelah membersihkan dirinya, Faqih mengistirahatkan tubuhnya yang sangat lelah hari ini.
"Qih..." Mamah Dian mengetuk pintu kamar Faqih.
"Faqih makan dulu, kamu belum makan dari tadi siang." Ucap mamah di balik pintu kamar Faqih.
Faqih yang merasa ada suara dari luar kamarnya pun bangkit dari tidurnya
Dilihatnya jam yang menunjukan pukul 7 malam.
Shit! Faqih lupa bahwa ia ada janji bersama Sheila hari ini.
"Iya mah.. ntar Faqih nyusul." Ucapnya.
Setelah itu ia langsung menyambar handuk dan segera berlari ke kamar mandi.
20 menit berlalu ia sudah rapi dengan pakaiannya dan turun untuk bergabung dengan mamahnya.
"Tumben kamu rapih Qih, mau kemana?" Tanya mamah Faqih setelah mereka duduk di meja makan
"Mau ngajak Sheila keluar mah." Jelas Faqih lalu menyantap makanannya
"Ekhmm..cie ngapel." Ucap mamah terkekeh.
"Apaan sih mah nggak." Elak Faqih.
Setelah Faqih menyelesaikan makanannya ia pun berpamitan dengan mamah untuk pergi ke apartement Sheila.
"Mah... Faqih berangkat dulu." Ucap Faqih sambil mencium punggung tangan mamah Faqih.
"Hati-hati ya, ajak Sheilanya main kesini lagi Qih." Ucap mamah.
"Iya mah."
Faqih melangkahkan kakinya keluar dari rumah tersebut dan mengendarai motor Sportnya dengan kecepatan rata-rata.
20 menit berlalu kini ia sudah berada di depan pintu apartement Sheila.
"Sheil.." ucap Faqih.
"Ya sebentar." Sheila melangkahkan kakinya membukakan pintu untuk Faqih.
"Eh ice Price. Yuk jalan bos." Ucap Sheila sambil terkekeh.
Faqih mengendarai motornya meninggalkan pekarangan apartement Sheila.
"Yey..akhirnya gue bisa menghirup udara malam."ucap Sheila girang.
Faqih terkekeh. "lo amnesia ya? kan lo keluar malem terus shelilaa..." ucap faqih.
"oh iya gue lupa hehe." ucap sheila di sertai cengengesannya.
"tapi Gue bahagia Sheil." Batinnya.
Mereka duduk di salah satu meja yang strategis karna di samping meja itu terdapat jendela yang menyuguhkan pemandangan malam yang sangat indah.
Cafe ini juga memiliki panggung kecil di depannya.
"Pengen ice creaaammmm" ucap Sheila.
"Pesen gih." Ucap Faqih.
Sheila pun melambaikan tangannya hingga akhirnya sang Waiterss pun menghampiri meja mereka.
"Selamat malam... mau pesan apa?" Tanya waiterss itu.
Sheila pun melirik faqih. "Mau pesen apa?" Tanya Sheila kepada faqih.
"Apa aja." Jawab faqih.
"Yaudah Ice cream greentea 1, vanilla latte 1, cheesecake 2." Ucap Sheila.
"Ice cream greentea 1, vanilla latte 1, cheesecake 2. Ada yang mau di tambahkan?" Tanya Waiterss itu mengulangi pesanan sheila.
"Itu aja dulu."
"Baik silahkan di tunggu sekitar 15 menit."
Setelah mengucapkan itu waiterss pun pergi dari hadapan Sheila.
"Qih." Ucap Sheila memecah keheningan di antara mereka.
"Hm?" Tanya Faqih.
"Ngga jadi." Ucap Sheila.
Hening.
Sheila frustasi karna orang yang di hadapannya ini malas sekali kalau soal berbicara.
"Qih." Ucap Sheila.
"Hm"
"Mm.. ngga jadi."
"Qih.." ucap Sheila lagi.
"Apa?"
"Ng...
"Jangan ngomong ga jadi lagi." Ucap Faqih menebak.
"Nggak kok gue cuman mau bilang ice cream gue hampir dateng weleeee.." ucap Sheila mengejek.
Dan benar, beberapa detik kemudian sang waiterss pun menghampiri mereka dengan membawa makanan yang mereka pesan.
"Makasih." Ucap Sheila setelah waiterss itu menghidangkan makanan mereka di atas meja.
Sheila menikmati ice cream dan cheesecake nya dengan girang. Sedangkan Faqih hanya memperhatikan Sheila yang nampaknya malam ini sangat bahagia sekali.
"Qih... itu makanannya di makan kek minumannya di minum kek. Diem-diem aja." Ucap Sheila.
"Kenyang." Ucap Faqih.
"Lah dari tadi lo belum nyentuh tuh makanan, kenyang dari Hongkong!" Kesal sheila.
Faqih terkekeh "liatin lo makan aja udah kenyang gue."
"Lah emang bisa ya kaya gitu?" Tanya Sheila heran.
"Ya bisa lah. Buktinya gue tuh gitu."
"Iya juga ya." Ucap Sheila paham.
Tiba-tiba sesuatu terlintas di fikiran Sheila sehingga ia sibuk dengan fikirannya dan menghentikan acara makannya.
Faqih yang melihat itupun segera menepuk pipi Sheila.
"Hey... ngelamun muluk." Ucap Faqih.
"Eh...." Sheila tersadar dari lamunannya.
"Mikirin apaan?" Tanya Faqih.
Oh damn it! Sheila benci keadaan dimana ia harus berbohong atau jujur.
"Jujur." Ucap Faqih seakan tau apa yang sedang sheila pikirkan.
"Nih orang cenayang bukan sih? Heran." Batin Sheila.
"Gue mikirin... gimana ya kalau seandainya gue ketemu mamah papah?" Ucapnya sembari menerawang kejadian itu dan menatap ke luar jendela.
"Apa mereka bisa nerima gue sebagai anaknya? Kan gue nakal kek gini." Sheila tertawa miris.
"Gue cuman mikirin gue harus bersikap kayak gimana seandainya gue ketemu mereka?" Ucap Sheila.
"Hey liat gue." Ucap Faqih sembari meng genggam tangan Sheila.
"Cukup jadi diri lo sendiri nunjukin sifat lo yang asli ngga boleh jadi orang lain." Ucap Faqih sambil menatap bola mata sheila.
"Anjir jantung gueeee..." Batin Sheila.
"Seandainya mereka ngga nganggep gue anaknya?" Tanya Sheila.
"Tampol ae mukanya." Ucap Faqih datar.
"Anjir ntar gue jadi anak durhaka kek lo. Ngga mau ah gue." Tolak Sheila.
"Becanda gue. Kalo mereka ngga nganggep lo anaknya yaudah biarin aja."
"WHATTTTTT...????" Ucap sheila kaget.
"Hey... gue pernah bilang kan? Semua orang tua itu sayang sama anaknya jadi lo ngga usah berfikiran jauh kek gitu."
"Ya kan seandainya."
"Ya tetep aja ngga boleh."
"Ih masa ngga boleh ber Ekspetasi?"
"Ngga boleh."
"Kata siapa ngga boleh?"
"Kata gue barusan."
"Barusan lo ngomong apa?"
"Ngga boleh."
"Apanya yang ngga boleh?" Tanya Sheila lagi, lagi, dan lagi.
"Ngga boleh ber ekspetasi sayang." Ucap Faqih datar.
NO! Apakah sekarang pendengaran Sheila terganggu? Apakah ia tidak salah mendengar? Faqih menyebut dirinya dengan nama Sayang?
Kerja jantung Sheila lebih cepat dari biasanya udah jantungnya ngga normal mulu tiap deket Faqih sekararang pendengarannya pun terganggu.
"Tadi lo ngomong apa Qih?" Tanya Sheila lagi memastikan.
"Yah nanya mulu sih, ngga tau orang pengen makan ya." Ucap Faqih dan kemudian pria itu sudah menyantap Cheesecake nya.
"Yahhhh... Faqih mah." Ucap Sheila tak bersemangat.
Setelah Faqih menghabiskan Cheesecake dan Vanilla lattenya ia kemudian menatap Sheila manik Sheila dalam-dalam.
Sheila yang merasa di tatap itu pun risih dengan tatapan itu.
"Iya tau gue cantik tapi ngga usah natep kek gitu juga kali." Ucap Sheila pede.
"Pede banget mba nya."
"Dih orang fakta ya."
"Yang waras ngalah."
"Allhamdulillah akhirnya ice prince ngalah sama sheila ini." Ucap Sheila bersyukur.
"Apaan sih lo alay."
"Suka-suka gue dong."
"Terserah princess."
"Oh my God jantung guee..."
Mereka masih berada di dalam cafe tersebut untuk menikmati malam ini sebelum berganti dengan pagi.
"Sheil.."
"Hm?"
"Camer nyariin."
"Camer? Siapa? Boro-boro camer, pacar aja nggak punya " ujar Sheila.
"Dasar jomblo." Ejek Faqih.
"Emangnya situ nggak jomblo mas?"
"Jomblo juga." Ajak Faqih.
"Jomblo kok teriak jomblo."
"Masih mending jomblo ya dari pada homo."
"Good omongan lu anjir." Sheila menoyor kepala Faqih sambil terkekeh.
"Sakit Sheil." Ucap Faqih sambil mengelus-elus kepalanya.
"Alay."
"Pulang yuk Sheil." Ajak Faqih.
"Kita ke markas aja yuk."
"Mau ngapain?"
"Ketemu Reyhan." Ucap Sheila bercanda.
"Ganteng gue kali sama Reyhan mah." Ucap Faqih sambil merapihkan rambutnya dengan jari tangannya.
"Iya ganteng kalo di liat pake sedotan dari gunung Salak."
Tiba-tiba Faqih berdiri dari duduknya dan berjalan menuju ke depan.
Sheila di buat heran dengan sikap Faqih ini.
"Cekk...cek...123.."
Suara itu mangagetkan Sheila. Sebab dilihatnya seorang pria berada di atas panggung kecil dengan di temani sebuah gitar kayu yang berada di pangkuannya.
"Faqih." Gumam Sheila.
Sheila mengucek matanya berkali-kali. Apa benar Faqih? Seorang Ice prince bisa gitu? Heran.
"For You Sheil." Ucap Faqih di Mic dengan menatap Sheila.
Seketika semua tatapan pengunjung Cafe itu mengarah ke Sheila.
Sheila yang merasa di tatap puluhan pasang mata itu hanya bisa tersenyum canggung.
Faqih mulai memetik gitarnya dengan lihai dan mulai menyanyikan lagu yang di bawakannya.
Ed Sheeran
I found a love for me
Darling just dive right in
And follow my lead
Well I found a girl beautiful and sweet
I never knew you were the someone waiting for me
Cause we were just kids when we fell in love
Not knowing what it was
I will not give you up this time
But darling, just kiss me slow, your heart is all I own
And in your eyes you're holding mine
Baby, I'm dancing in the dark with you between my arms
Barefoot on the grass, listening to our favorite song
When you said you looked a mess, I whispered underneath my breath
But you heard it, darling, you look perfect tonight
Well I found a woman, stronger than anyone I know
She shares my dreams, I hope that someday I'll share her home
I found a love, to carry more than just my secrets
To carry love, to carry children of our own
We are still kids, but we're so in love
Fighting against all odds
I know we'll be alright this time
Darling, just hold my hand
Be my girl, I'll be your man
I see my future in your eyes
Baby, I'm dancing in the dark, with you between my arms
Barefoot on the grass, listening to our favorite song
When I saw you in that dress, looking so beautiful
I don't deserve this, darling, you look perfect tonight
Baby, I'm dancing in the dark, with you between my arms
Barefoot on the grass, listening to our favorite song
I have faith in what I see
Now I know I have met an angel in person
And she looks perfect
I don't deserve this
You look perfect tonight
Lagu Perfect dari Ed Sheeran itu selesai ia nyanyikan seketika semua pengunjung di Cafe bertepuk tangan karna penampilan Faqih.
Faqih itu hobi main gitar iya tapi baru kali ini Sheila mendengar Faqih bernyanyi. Biasanya Faqih hanya menggumamkan nada-nada dari lagu yang ia nyanyikan tersebut.
"Suara lo bagus anjir." Ucap sheila setelah Faqih berada di sampingnya.
"Gue tau." Jawab Faqih datar.
"Makasih kek apa kek gitu kan udah di puji." Ucap Sheila sambil memutar bola matanya malas.
"Males."
"Sheil ayok pulang." Ucap Faqih lagi.
"Masih sore."
"Lu mau tidur jam berapa heh?" Tanya Faqih.
"10."
"Ini udah jam 11 Cantik."
"Ya biarin, intinya gue mau tidur jam 10." Ucap Sheila.
"Yah s***p nih bocah."
"Yaudah yuk pulang tapi jangan ke apart dulu. Bosen." Ucap Sheila.
"Iya."
Faqih membayar makanan mereka kemudian mengajak Sheila keluar dari Cafe tersebut.
"Mau kemana Sheil?" Tanya Faqih saat mereka berada di atas motor Faqih yang sedang melaju dengan kecepatan rata-rata.
"Markaassss." Ucap Sheila.
Faqih melajukan motornya membelah jalanan malam yang gelap.
Faqih dan Sheila melangkahkan kakinya menuju ke anak-anak yang sedang berada di teras markas mereka.
"Hallo..." ucap Sheila menyapa mereka.
"Eh Sheila tambah cantik aja." Ucap Rizki sambil terkekeh.
Sedangkan Reyhan dan Faqih hanya menatap Rizki tajam.
Rizki yang merasa di tatap oleh dua orang pria tersebut hanya bisa tersenyum kikuk.
"Eh gue salah ngomong ya?" Tanya Rizki sembari menggaruk kepalanya walau tak gatal.
"Rizki apa kabar." Ucap Sheila sambil menjulurkan tangannya.
"Baik kok Sheil." Ucap Rizki sambil menjabat tangan Sheila.
Tiba-tiba sebuah ide cemerlang terlintas di otak Rizki.
Rizki pun merangkul bahu Sheila. "Oh iya Sheil gue pasti dukung lo 100% buat acara balapan ntar ya, gue nonton paling depan deh." Ucap Rizki terkekeh tanpa melepaskan rangkulannya di bahu Sheila.
"Pastinya lo harus dateng buat nyemangatin gue." Jawab Sheila semangat.
"Kalo lo menang kita dinner ya gue yang traktir deh."
"Serius?"
"Iya Sheil Serius." Rizki tersenyum.
"Ngga ada dinner-dinner an!" Ucap Faqih tidak suka.
"Lepasin tangan lo dari bahu Sheila!" Ucap Reyhan tak suka.
"Wih...wih... kalem dong. Sheila aja ngga keberatan kok. Ya nggak Sheil?" Tanya Rizki sambil menaikan alisnya.
"Iyaa ngga masalah kok." Jawab Sheila santai.
"Tuh kan Sheila aja ngga keberatan, kok kalian yang marah sih. Heran gue."
"Sheil masuk yuk dingin." Ucap Rizki mengajak Sheila untuk masuk ke dalam markas sambil menggenggam tangan Sheila.
Sedangkan Faqih dan Reyhan nampak sudah menahan amarahnya dari tadi.
Sedangkan Rizki tersenyum lebar karna berhasil mengerjai mereka berdua.
Sheila menghabiskan malamnya di sini. Berbagi suka-duka bersama lebih dari sahabat melainkan keluarga.
Sheila sampai di apartementnya pukul 2 pagi. Di antar oleh Faqih yang masih marah karna perihal tadi.
"Faqihh..... katanya lo mau jemput gueeeee...!!" Teriak Sheila di teflon
"Iya-iya brisik lo." Setelah mengatakan itu Faqih langsung mematikan sambungan telfonnya dengan sepihak.
Pagi-pagi buta ini Sheila sudah di buat naik darah oleh Faqih sebab sudah hampir pukul 7 Faqih belum juga menjemputnya.
Sheila masih setia berdiri di depan apartement untuk menunggu Faqih datang menjemputnya.
10 menit kemudian motor sport itu berhenti tepat di depannya.
"Lama lo." Gerutu Sheila.
"Kaya lo nga biasa telat aja." Ucap faqih datar.
"Ya ini beda ceritanya, kan kita mau masuk kelas, gimana sih aelah lo." Gerutu Sheila."Cepet naik." Ucap pengendara motor sport itu, siapa lagi kalau bukan Faqih.
Sheila segera menaiki motor itu kemudian Faqih segera melajukan motornya menuju sekolah.
"Yahhh... telat." Ucap Sheila setelah turun dari motor Faqih.
"Kek ngga biasa telat aja." Ucap Faqih datar.
"Ya kan gue bilang ini beda ceritanya faqih..."
Faqih dan Sheila melangkahkan kakinya menuju gerbang belakang sekolahnya.
"Ladies First." Ucap Faqih mempersilahkan Sheila untuk memanjat gerbang itu duluan.
"Thank you. Balik badan gih." Ucap Sheila.
"Yaelah ngga usah balik badan juga ngga papa kali."
"Mau gua bogem?" Tanya Sheila sambil menunjukan tangannya yang terkepal itu tepat di depan wajah Faqih.
"Jangan lah. Ntar wajah tampan gue ternodai sama tangan lo." Ucap Faqih sambil mengelus pipinya.
"Cih...sok ganteng." Ucap Sheila.
"Emang gue ganteng."
"Kasian ngga ada yang muji jadi muji-muji sendiri." Ucap Sheila mengejek.
Tiba-tiba Faqih mendekatkan wajahnya tepat di wajah Sheila menyisahkan jarak kurang dari satu jengkal. Mereka saling menatap seakan enggan untuk memutuskan kontak mata itu.
Jantung keduanya berpacu lebih cepat dari orang normal biasanya.
Sheila hanyut dalam manik mata coklat itu. Manik mata coklat itu membuatnya tenang dan nyaman.
Dalam jarak kurang dari satu jengkal itu Sheila mengakui bahwa Faqih Tampan! Damn it! Ia tak bisa terlepas dalam manik coklat yang membuat dirinya nyaman itu.
"Gue ganteng kan? Jangan di liatin sampe segitunya ntar naksir." Ucap Faqih tepat di depan wajah Sheila.
"Ih Faqih apaan sih." Sheila langsung memalingkan wajahnya menyembunyikan rona merah di pipinya.
"Ciee salting." Faqih tekekeh dan berusaha menormalkan detak jantungnya.
"Udah ih balik badan." Sheila mendorong tubuh Faqih supaya Faqih membalikkan badanya.
"Yah Sheila baper." Faqih terkekeh lagi sambil menatap lurus membelakangi Sheila yang sedang memanjat tembok belakang.
"Bacot." Jawab Sheila di atas tembok.
"Ice prince cepet." Teriak Sheila di sebrang tembok.
"Siap yang." Gumam Faqih.
Faqih segera memanjat tembok tinggi itu untuk menyusul Sheila yang sudah masuk area sekolah.
"Sheil gue anter lo ke kelas." Ucap Faqih ketika mereka melangkahkan kakinya menuju ke kelas.
"Hm."
"Oh iya Sheil mamah nyariin." Ucap Faqih.
"Mamah bilang apa ke lo?" Tanya Sheila.
"Katanya kapan lo maen ke rumah lagi, kalo bisa lo nginep aja di sana kasian juga mamah ngga ada temen curhatnya."
"Lah terus gunanya lo di sono buat apa kalo ngga nemenin mamah?"
"Lu tau kan cewe itu doyan curhat dan nge gosip. Mana bisa gue di ajak curhat apalagi nge gosip amit-amit dah." Ucap Faqih.
Sheila terkekeh "iya-iya gue tau lo males ngomong, iya ntar kapan-kapan deh."
"Yang pasti dong jangan kapan-kapan. Ngga di kasih kepastian itu ngga enak tau."
"Dih baperan lo."
Tanpa sadar mereka sudah ada di depan kelas XI IPS 2.
"Assalamualaikum." Faqih mengetuk pintu kelas itu.
"Waalaimumsalam."
Faqih segera menggenggam tangan Sheila dan membawanya masuk ke kelas tersebut.
"Maaf sebelumnya. Saya mau nganterin Sheila masuk kelas dia mau belajar kok bu jadi jangan di hukum." Ucap Faqih panjang lebar di hadapan ibu Pipit lagi.
"Tetap saja Sheila telat." Ucap ibu pipit dengan nada sinis.
"Dia telat karna saya jadi kalau ibu mau ngehukum, hukum saya aja bu." Terang Faqih.
Kelas itu mendadak sunyi. Ekspresi mereka berbeda-beda ntahlah kaum hawa yang kaget atas pembelaan Faqih terhadap Sheila dan yang paling mengejutkan kaum hawa lagi adalah Faqih berbicara panjang tadi!
"Yaudah sekarang kamu push up 50 kali." Ucap Ibu pipit.
Sheila yang mendengar itu meremas tangan Faqih "Jangan Qih." Batin Sheila.
Faqih hanya tersenyum menanggapi Sheila yang nampak khawatir. Seolah meyakinkan Sheila bahwa ini tak apa.
Faqih langsung turun dan mengambil posisi push up.
Kelas tersebut masih hening dengan ekspresi penghuninya yang berbeda-beda.
tbc