Maafkan ibu Sayang

1134 Words
Diana yang sudah pergi dari hadapan Adrian segera memesan taksi untuk segera pulang, sepanjang perjalanan pulang Diana membendung air matanya karena tidak ingin terlihat oleh orang lain. "bisa- bisanya aku mencintai lelaki berengsek seperti itu, setelah kejadian ini aku tidak ingin bertemu dengannya lagi. " batin Diana . Diana yang duduk di belakang dan menatap kosong ke arah jendela mobil taksi, ia tidak bergeming di saat supir taksi berbicara kepadanya. "Nyonya, ini sudah sampai tujuan." "Nyonya?" "Nyonya?" Beberapa kali supir taksi itu berbicara akan tetapi Diana masih tetap di posisinya sehingga supir taksi pun berinisiatif untuk turun dan segera membuka pintu. Saat pintu taksi terbuka Diana sedikit terkejut. "Sudah sampai ya pak, ini uang ya dan ambil saja kembaliannya, terimakasih. " Diana pun dengan wajah datar langsung meninggalkan supir taksi tersebut. "Terimakasih Nyonya, " ucapan supir taksi yang kebingungan melihatnya. "ada apa dengan nyonya tadi yah, seperti nya sedang dirundung masalah, tapi sudahlah itu bukan urusanku, yang terpenting aku dapat uang. " batin supir taksi yang langsung beranjak pergi. Diana yang sudah masuk ke dalam apartemen, ia langsung menangis sejadi jadinya dan menghancurkan perabotan yang ada dihadapannya. "Sial, kenapa hidup aku selalu sial. " "Aku tidak mau tinggal di sini lagi, ini semua! tempat ini juga! milik lelaki b******n itu, bisa bisanya aku mencintai orang seperti itu yang mementingkan diri sendiri. " "Aku juga pasti bisa hidup tanpa laki-laki dan aku juga bisa membesarkan anak aku seorang diri!" Diana meluapkan kekesalannya dengan menghancurkan barang-barang yang ada di hadapannya, setelah merasa lega ia pun berjalan ke kamar mandi dan membasahi tubuhnya dengan air sambil menangis di pojok kamar mandi. Sudah berjam-jam Diana di dalam kamar mandi. "aku harus kuat, kenapa juga aku harus menangis seperti ini, untuk lelaki b******n seperti itu. aku harus kuat, aku bisa kuat, " batin Diana. Diana pun menghapus air matanya, ia segera berganti pakaian dan membereskan pakaiannya untuk segera pergi dari apartemen nya karena tidak ingin lagi menempati apartemen pemberian dari Adrian. Diana pun pergi menuju rumah Sodaranya. ** Adrian yang masih di pesisir pantai dan memegang kedua pipinya karena sakit bekas di tampar oleh Diana. "Sialan, sakit sekali tamparannya, kenapa juga dia ingin mengajak menikah padahal aku sudah mengatakannya berulang kali aku tidak ingin menikah dulu, dasar wanita tidak bisa mengerti, padahal aku sudah memenuhi kebutuhannya, sudah lah kenapa juga aku harus bersedih, nanti juga dia akan kembali kepada aku lagi, karena yakin Diana akan membutuhkan aku. " Adrian pun segera kembali ke kantornya, sepanjang perjalanan ia tidak merasa bersalah, dan setibanya di kantor ia kembali seperti sedia kala. * Satu bulan berlalu, Adrian yang sudah pulang dari kantornya kini merasa kesepian dan hatinya selalu teringat Diana. "Ke mana Diana, kenapa dia tidak menelpon aku dan kenapa juga dia tidak memberikan kabar, aku sangat kesepian tanpa mu. " Adrian pun yang sudah tidak kuat menahan rindu kepada Diana ia pun segera menuju ke apartemen Diana. Di sepanjang perjalanan hati Adrian merasa bahagia karena akan segera bertemu dengan Diana. "Kurasa aku harus membawakan Diana bunga Mawar, karena dia suka, jadi ketika bertemu dengan aku Diana pasti bahagia juga. " Adrian pun menyempatkan diri untuk membeli beberapa tangkai bunga Mawar. Adrian pun sudah sampai dan memparkirkan mobilnya terlebih dahulu, ia berjalan sambil membawa bunga Mawar, raut wajah ceria dan terlihat wajah tanpa dosa, Adrian pun merasa bahagia karena ingin melepas rindu. ketika sudah di depan pintu apartemen Adrian mengetuk pintu dan memanggil- manggil nama Diana, akan tetapi tidak ada jawaban di dalam. Sudah lama memanggil dan bosan, Adrian pun membuka pintu apartemen karena ia juga memiliki kunci serep ke apartemennya, alangkah terkejutnya saat pintu terbuka, Adrian di suguhkan pemandangan yang sangat kacau, barang-barang hancur semua. "Ada apa ini, kenapa semuanya berantakan dan barang barang hancur. Diana,, Diana kau di mana? Apa yang terjadi di sini? Diana kamu di mana?" Adrian mencari ke kamar sambil memanggil manggil nama Diana, setelah lama ke sana ke mari ia pun baru tersadar bahwa Diana sudah tidak tinggal di apartemennya, lalu Adrian mencoba untuk menelpon nomor nya akan tetapi sudah tidak tersambung lagi. "Kenapa waktu itu aku membiarkannya pergi begitu saja." Adrian pun mecoba menghubungi teman Diana, akan tetapi hasilnya nihil temannya tidak tahu sama sekali Diana di mana. Adrian yang baru menyesal ia pun berjalan perlahan dari dalam apartemen menuju mobilnya. Ia duduk dan memandang kosong ke arah depan, agak lama melamun Adrian pun memutar musik yang sangat kencang di dalam mobilnya. ** Beberapa bulan berlalu Diana yang sudah melahirkan dan tinggal menetap di rumah Sodara nya kini menghadapi kehidupan yang sangat sulit karena uang tabungannya habis setelah melahirkan dan di tambah lagi sodara nya terlibat kasus hutang yang sangat besar kepada rentenir. * "Sayang, maafkan ibu mu ini, mungkin untuk saat ini ibu tidak bisa membuat mu nyaman dan merasa perutmu kenyang, Asi ibu tidak keluar dan uang ibu sudah habis, mungkin ini s**u terakhir yang ibu punya setelah ini kamu harus sabar ya sayang, ibu akan mencari pekerjaan untuk membeli s**u untuk mu. " Diana meneteskan air mata sambil mengelus lembut wajah imut bayinya yang di beri nama Intan. Hari hari berlalu Diana pun tidak kunjung mendapatkan pekerjaan sedangkan uang sudah habis, ia pun bingung dan sudah hampir putus asa, di tambah lagi selalu melihat sodaranya yang setiap pulang wajahnya babak belur karena di pukuli oleh anak buah rentenir. "Ikbal, apa kau belum melunasi hutang mu, sudahlah berhenti berjudi, agar hutang mu tidak bertambah, aku tidak bisa membantu mu untuk saat ini. " Diana merasa kasihan kepada sodaranya. Ikbal yang baru pulang dengan wajah babak belur ia terseyum, "Ini s**u vanilla buat bayimu, sudah jangan kau pikirkan diri aku, untuk sekarang lebih baik kau pikirkan dirimu saja dan bayimu itu, aku sudah biasa dengan kehidupan ku seperti ini, lantas kenapa kau tidak kembali kepada lelaki mu itu, siapa namanya, aku lupa. lebih baik kau menemuinya lagi, agar hidupmu terjamin kak Diana." "Terimakasih," jawab Diana yang haya mengambil s**u vanilla untuk anaknya, ia tidak menghiraukan ucapan Sodaranya. Setelah memberikan s**u kepada anaknya Diana pun merenung dan mengingat Adrian tetapi ia berusaha untuk tidak menghubunginya lagi. Setelah bayinya tidur pulas Diana pun berkemas dan menggendong bayinya. "Ka, Diana, kau mau pergi ke mana, sehingga pakaian mu di kemas?" Ikbal yang melihat kakanya berkemas menjadi bertanya tanya. "Aku sudah merepotkan mu, benar kata dirimu aku lebih baik menghubungi Adrian karena dengannya hidupku akan tercukupi. " "Bagus lah kalau begitu, maafkan aku ka Diana, tidak bisa membantu mu lebih dari yang di harapan." "Seharusnya aku yang harus meminta maaf kepada mu, karena aku datang di saat sedang susah, kalau begitu jaga dirimu, Terimakasih sudah mengijinkan aku tinggal di sini. " Diana pun segera pergi dari rumah sodaranya. Ikbal tidak merasa curiga atau pun berprasangka aneh karena tujuan Diana pergi untuk kembali menemui kekasihnya Adrian, akan tetapi Diana malah pergi ke panti Asuhan untuk menyimpan Intan bayi mungilnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD